TAGAR.id - Lima belas tersangka penyelundup narkoba tewas dan sekitar 2 juta tablet metamfetamin disita di Thailand Utara dekat perbatasan Myanmar setelah baku tembak dengan militer Thailand, seperti dikatakah oleh para pejabat Thailand.
Bentrokan tersebut, yang terjadi pada Sabtu (16/12/2023) malam, terjadi setelah tentara setempat menerima informasi bahwa akan ada aktivitas penyelundupan di dekat perbatasan di provinsi Chiang Rai, kata Phanurat Lukboon, penjabat sekretaris jenderal Kantor Badan Pengawasan Narkotika.
Para petugas menemukan sekelompok sekitar 20 orang membawa ransel di daerah tersebut, kata Phanurat pada hari Minggu (17/12/2023). Setelah petugas mengidentifikasi diri mereka dan meminta untuk memeriksa tas-tas tersebut, kelompok tersebut mulai menembaki mereka, tambahnya.
Bentrokan tersebut berlangsung sekitar 15 menit dan semua petugas Thailand selamat, kata Phanurat saat berkunjung ke lokasi kejadian. Ia berterima kasih kepada para petugas atas bantuan mereka dalam “mencegah hal-hal buruk ini memasuki negara kita dan menghancurkan generasi muda kita.”
Tujuh belas tas ransel yang terbuat dari karung pupuk ditemukan bersama tersangka penyelundup dan lebih dari 2 juta pil metamfetamin ada di dalam tas tersebut, kata para pejabat.
Tidak ada penangkapan yang dilakukan dan para pejabat masih berupaya mengidentifikasi 15 orang yang tewas dalam bentrokan tersebut dan asal usul narkoba tersebut, menurut Kantor Badan Pengawasan Narkotika.

Pada hari Rabu, Thailand mengumumkan telah menyita 50 juta tablet metamfetamin di provinsi Kanchanaburi, Thailand Barat, juga dekat perbatasan Myanmar. Thailand mengatakan bahwa ini merupakan rekor penangkapan narkoba di negara tersebut.
Myanmar secara historis merupakan daerah produksi narkoba utama di Asia Tenggara, hal ini disebabkan lemahnya langkah-langkah keamanan di daerah perbatasan di mana kelompok etnis minoritas telah lama memperjuangkan otonomi yang lebih besar. Beberapa kelompok etnis bersenjata yang kuat di sana telah banyak terlibat dalam produksi narkoba selama beberapa dekade.
Pengambilalihan militer di Myanmar pada tahun 2021 yang menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi memicu perlawanan bersenjata secara nasional, yang semakin mengganggu stabilitas negara dan berkontribusi pada peningkatan produksi narkoba.
Pekan lalu, Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan mengatakan dalam “Survei Opium Asia Tenggara 2023” bahwa Myanmar telah melampaui Afghanistan sebagai produsen opium terbesar di dunia.
Laporan Badan Narkotika PBB pada bulan Juni 2023 mengenai obat-obatan sintetis di Asia Timur dan Tenggara memperingatkan bahwa perdagangan besar metamfetamin dan obat-obatan terlarang lainnya tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. (ab/uh)/Associated Press/voaindonesia.com. []