Jakarta, (Tagar 9/4/2018) – Mardani Ali Sera anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Keadilan Sejahtera adalah otak di balik gerakan tagar #2019GantiPresiden di media sosial.

Mardani mengakui sendiri hal ini dan melalui keterangan tertulis sepanjang empat halaman ia menjelaskan urgensinya gerakan #2019GantiPresiden.

“Gerakan #2019GantiPresiden merupakan antitesa dari gerakan yang sudah bergulir yaitu ‘Dua Periode’ untuk Pak Jokowi. Ini juga gerakan sah, legal dan konstitusional,” ujarnya, Senin (9/4/2018).

Ia menegaskan bahwa #2019GantiPresiden merupakan kelanjutan dari gerakan 212 di DKI.

“Kita ingin membawa perubahan yang lebih baik terhadap kepemimpinan bangsa ini di 2019. Kepemimpinan yang mengedepankan aspek keimanan dan ketakwaan serta kedaulatan, kemandirian, dan keadilan sosial dalam memimpin dan mengelola bangsa ini,” katanya.

Menurutnya ada tiga esensi gerakan #2019GantiPresiden, pertama wake up call bagi semua anak bangsa, umat Islam khususnya dan para ulamanya lebih khusus lagi, bahwa Pemilu 2019 sudah diambang mata.

Kedua, pencoblosan pada hari Rabu, 17 April 2019 antara jam 07.00 - 13.00 sangat penting dan fundamental menentukan nasib bangsa, karena memilih pemimpin nasional baik legislatif ataupun eksekutif.

Ketiga, khusus untuk Pilpres sekarang menjadi lebih utama lagi karena berbarengan dengan Indonesia mendapat kesempatan emas (golden opportunity) dalam bentuk bonus demografi yang tidak terjadi dalam beberapa abad ke depan.

“Dan adagium almost everything rise and fall on leadership selalu berlaku. Hampir segalanya naik dan turun karena kepemimpinan. Apakah Indonesia akan jadi negera yang bersinar/terbit atau menjadi negara gagal/tenggalam tergantung siapa Presidennya di 2019,” katanya.

Sepanjang keterangannya tak ada satu pun kata yang menyebut nama siapa sosok pengganti yang ia harapkan itu. (nhn)