Yogyakarta - Yogyakarta dikenal sebagai salah satu pusat produsen batik di Indonesia. Sejumlah perajin batik tradisional masih eksis. Begitu juga batik yang dibuat secara massal dengan teknik cap juga banyak.
Komoditas batik sebagian dijual di sepanjang Malioboro, termasuk di Pasar Bringharjo. Beragam jenis dan motif batik lengkap dijual di trotoar ruas jalan sepanjang 1,4 kilometer itu.
Sehari sudah terjual 150 pieces.
Mayoritas prroduk yang dijual sudah dalam bentuk pakaian seperti kemeja, kebaya, celana, pakaian anak dan lainnya. Hanya sedikit batik yang dijual dalam bentuk kain.
Bertepatan Hari Batik pada 2 Oktober 2019, pedagang kaki lima untung besar. Dagangan produk batiknya laris manis. "Sehari sudah terjual 150 pieces," kata Erlangga, 40 tahun.
Menurut dia, pada hari biasanya, produk batik yang dijualnya rata-rata terjual 30 pieces. "Mungkin karena pas Hari Batik, warga lalu membelinya," ucapnya.
Untuk harga bervariasi, tergantung jenis bahan dan teknik pembuatan batik. Teknik pembuatan batik tulis, harganya jauh lebih mahal. Selain warna lebih tahan lama, cara pembuatannya juga butuh waktu lama.
Teknik pembuatan batik tulis ini menggunakan alat tradisonal atau canting. Bahannya juga alami. "Selembar kain biasanya butuh waktu seminggu," kata Erlangga.
Dia mengatakan, dagangannya tidak ada yang batik tulis. Lapak dagangannya semuanya batik cap yang dibuat pabrikan atau massal. "Harganya lebih murah dibanding yang bahan batik tulis," ucapnya.
Menurut dia, batik tulis yang sudah berwujud pakaian jadi untuk oranf dewasa, harganya Rp 400.000 sampai Rp 600.000. Sedangkan batik cap hanya Rp 75.000. "Kalau saya cuma pedagang, yang cepat laku terjual saja," kata dia.
Zulekhah, 60 tahun, pedagang Malioboro mengatakan, batik yang dijual tidak semuanya buatan Yogyakarta. Pasokan utama memang berasal dari Yoyakarta, tapi banyak juga dari produsen batik di Solo.
"Ada juga dari Pekalongan yang juga sentra batik. Dari daerah lain di Indonesia juga ada, distributor yang memasok," kata Ika, sapaan akrabnya.

Jadi, kata dia, produk batik yang dijual di Malioboro ini bisa dibilang dari seantero Indonesia. Di Pasar Beringharjo Malioboro juga banyak produk batik dari daerah lain.
"Malioboro kan tempat wisata, banyak yang datang dari berbagai daerah dengan selera batik yang berbeda pula. Jadi banyak jenis batik yang dijual di Malioboro," ungkapnya.
Dia sendiri dagangannya lebih banyak dari produsen batik di Solo. "Saya kulakan (beli dalam jumlah besar) di Pasar Klewer Solo, lalu dijual di sini. Saya juga jualan dari produsen batik Yigyakarta," ungkapnya.
Sama seperti pedagang Malioboro lainnya, batik yang dijual mayoritas jenis matik cap yang harganya lebih murah. "Sedikit yang jual batik tulis, kecuali di toko-toko Malioboro," kata Ika.
Juanedi, kolektor batik asal Yogyakarta mengatakan, keberadaaan batik cap menjadi tantangan berat bagi keberadaan batik tulis atau tradisional. "Bahkan batik cap itu menghilangkan filosofi batik. Batik cap hanya mengejar ekonomi semata," ungkapnya.
Dia mengatakan, batik cap bisa dibuat secara massal, sedangkan batik tulis butuh keahlian dan ketelitian. "Seminggu batik cap bisa dibuat ratusan lembar kain, batik tulis hanya selembar kain," ungkapnya.
Eksistensi batik tulis semakin terjepit juga karena konsumen lebih memilih produk yang murah. "Konsumen tidak lagi menilai filosofi batik, pokoknya yang murah itu yang dibeli," ujarnya. []