UNTUK INDONESIA
Bukan Gejala Corona Mungkin Kena Psikosomatik
Kekhawatiran berlebihan mengenai virus corona dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala seperti Covid-19. Lantas berpikir kena virus corona?
Akun Twitter pribadi dokter Andri yang menjelaskan tentang psikosomatik. (Foto: tangakapn layar/Tagar/Dea Zirda)

Jakarta - Virus corona yang mewabah bikin khawatir dan stres berlebihan bagi sebagian orang. Sepatutnya menghadapi pandemik virus mematikan ini bersikap wajar, dan jangan berlebihan ketakutan tapi harus tetap waspada dengan mengikuti pola-pola pencegahan yang telah diinstruksikan oleh pemerintah. Seperti menjaga jarak (social/ physical distancing), kalau sakit pakai masker, dan jangan berkerumun.

Kekhawatiran berlebihan mengenai virus corona dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala seperti Covid-19. Lantas berpikir terinfeksi virus corona?

Kondisi seperti itu tentu hal ini akan menimbulkan masalah psikis yang dapat berujung pada sakit fisik. Stres yang parah bisa membuat seseorang mengalami psikosomatik. 

Twitter Dokter AndriAkun Twitter pribadi dokter Andri yang menjelaskan tentang psikosomatik. (Foto: tangakapn layar/Tagar/Dea Zirda)

Melalui akun Twitter-nya yang dikutip Tagar, Kamis, 26 Maret 2020, menurut dokter Andri SpKJ FACLP, apabila tenggorokan terasa gatal, nyeri, hingga meriang kondisi tersebut merupakan hal yang wajar. 

"Masa saat ini, ketika kita membaca berita atau membaca cerita tentang gelaja virus corona. Lalu tiba-tiba anda merasakan tenggorokan anda agak gatal, nyeri dan merasa agak sedikit meriang walaupun suhu tubuh normal, itu wajar," tulis dokter Andri di akun Twitter pribadinya @mbahndi

Menurut dokter Andri kondisi tersebut merupakan gejala psikosomatik yang disebabkan oleh kecemasan. Gejala psikosomatik ini muncul sebagai reaksi tubuh yang siaga terus menerus, dalam kondisi saat ini menghadapi virus corona.

"Salah satu yang membuat gejala ini timbul adalah kecemasan yang dipicu oleh berita-berita yang kita baca tentang Covid-19," tulis dokter tersebut.

Amygdala (amigdala) atau bisa disebut juga dengan pusat rasa cemas sekaligus memori kita jadi terlalu aktif bekerja, hingga akhirnya kadang dia tidak sanggup mengatasi kerja berat," ujar dokter ahli kejiwaan tersebut.

Menurutnya, amigdala yang bekerja berlebihan dapat mengaktifkan saraf otonom secara belebihan. Ketidakseimbangan kerja amigdala itulah yang dapat membuat gejala psikosomatik.

Dokter Andri menyarankan jika mengalami gejala tersebut, maka kurangi atau batasi informasi terkait virus corona terlebih dahulu.

“Melakukan hal lain selain browsing, lakukanlah hobi yang menyenangkan dan sebarkan optimisme dan kita juga bisa lewati ini semua," katanya.

“Ada beberapa hal yang biasanya dikaitkan dengan gejala psikosomatik, gejala hilang timbul, tidak terus menerus, berpindah-pindah gejalanya,” jawab dokter yang berpraktik di RS Omni Internasional tersebut ketika ditanya warganet.

Lebih lanjut, dia menjelaskan dalam akun Twitter-nya, "Pemeriksaan objektif juga bisa dilakukan pada kondisi sekarang ingat kalau ada demam tinggi, batuk pilek dan sesak napas lebih baik dilarikan ke rumah sakit".

Menurut dr Andri perbedaan gejala psikosomatik dengan Covid-19 merupakan intensitas gejala. Gangguan psikosomatik digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan oleh adanya faktor mental dan psikologis. Psikosomatik adalah kondisi di mana ketika tubuh mengalami keluhan fisik yang disebabkan oleh adanya pengaruh faktor mental pada diri seseorang, seperti ketakutan, stres, depresi, dan cemas.

Twitter Dokter AndriAkun Twitter pribadi dokter Andri yang menjelaskan tentang psikosomatik. (Foto: tangakapn layar/Tagar/Dea Zirda)

Berikut gejala psikosomatik dan penangananya

1. Dipicu oleh adanya faktor psikologis

Kebanyakan penyakit melibatkan pikiran dan tubuh atau bersifat psikosomatik, misalnya karena gelisah yang terlalu berkepanjangan, tidak nafsu makan, dan tidak merawat diri sendiri seperti biasanya sehingga menimbulkan masalah fisik, yaitu seperti jerawat dan badan merasa lemas.

2. Perempuan paling rentan gangguan psikosomatik

Penderita psikosomatik lebih banyak pada wanita berusia muda yang disebabkan oleh stres. Gangguan psikosomatik yang dialami antara lain termasuk terus menerus merasa lelah dan siklus menstruasi akan terganggu.

3. Munculnya gejala fisik

Tanda-tanda gangguan psikosomatik bisa berbeda-beda pada setiap manusia. Pada umumnya gejala yang akan muncul seperti sakit perut, nyeri ulu hati, sakit punggung belakang, sakit gigi, dan juga sakit kepala, migrain, jantung berdebar-debar, bernafas dengan cepat, gemetar, serta berkeringat.

4. Butuh penanganan yang tepat

Dokter umum bisa menangani gejala psikosomatik bertujuan untuk mengatasi adanya keluhan pada fisik yang dirasakan. Penderita gejala psikosomatik harus berkonsultasi langsung dengan psikiater.

5. Jangan lupa olahraga dan konsumsi makanan sehat

Stres bisa membuat diri kita hilangnya nafsu makan dan absen untuk merawat diri sendiri. Bangkitlah pelan-pelan dengan mencintai diri lewat pemenuhan kebutuhan seperti gizi yang baik, olahraga, dan makan-makanan yang sehat.[] 

(Dea Zirda)


Berita terkait
Psikolog UGM: Siasat Atasi Paranoid Covid-19
Banyak orang mengalami insecure dengan virus Corona. Pakar UGM Yogyakarta Prof. Koentjoro memberi strategi mengatasinya.
Penampakan Covid-19 yang Dibagikan Para Ilmuwan
Para ilmuwan baru-baru ini membagikan penampakan coronavirus jenis baru (Covid-19) dari hasil penelitian mereka.
Jangan Cemas, Wisma Atlet Siap Tampung Pasien Corona
Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan masyarakat tak perlu khawatir pemerintah akan kekurangan fasilitas kesehatan untuk pasien Covid-19.
0
Bukan Gejala Corona Mungkin Kena Psikosomatik
Kekhawatiran berlebihan mengenai virus corona dapat menyebabkan tubuh menciptakan gejala seperti Covid-19. Lantas berpikir kena virus corona?