Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup kuartal III-2026 dengan tekanan yang masih kuat, dan sejumlah perkembangan terbaru disebut bakal menjadi penentu arah indeks ke depan. Rangkuman lima berita terpopuler di kanal pasar modal sepanjang Kamis, 1 Oktober 2026 memperlihatkan bahwa sentimen datang dari kombinasi faktor domestik dan global.

1. Aturan Demutualisasi Terbit, Danantara Bidik 5-10% Saham BEI

Kabar pertama datang dari dinamika industri pasar modal nasional. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) kembali mengonfirmasi ketertarikannya menjadi salah satu pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Niatan itu menemukan titik cerah seiring terbitnya aturan terkait demutualisasi BEI oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Melalui skema tersebut, Danantara menyebut bakal mengincar kepemilikan saham BEI sekitar 5 hingga 10 persen. CEO BPI Danantara yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan P. Roeslani, menyatakan porsi itu merupakan bagian dari konsorsium pemegang saham demutualisasi yang diperkirakan mencapai 30-40 persen.

Langkah ini disebut sebagai bentuk dukungan untuk memperkuat likuiditas sekaligus mempercepat agenda pendalaman pasar modal nasional. Dengan adanya payung hukum, Danantara mengaku tengah mematangkan kalkulasi atas porsi yang tepat bagi masuknya modal negara ke otoritas bursa.

2. Bukan Hanya MSCI, Investor Menanti Update FTSE Russell dan S&P DJI

Kabar kedua masih terkait dinamika pasar modal dalam negeri. Di tengah tekanan sejumlah sentimen negatif, pelaku pasar menggunakan beragam tolok ukur dari data yang tengah ditunggu rilisnya. Salah satunya perkembangan kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sejauh ini masih membekukan sejumlah perubahan indeks Indonesia.

Namun, update MSCI bukan satu-satunya yang ditunggu. Pelaku pasar juga menanti perkembangan dari FTSE Russell serta S&P Dow Jones Indices (S&P DJI). Ketiga penyedia indeks tersebut memiliki perlakuan dan jadwal evaluasi yang berbeda terhadap pasar Indonesia, sehingga masing-masing perlu dicermati secara mendalam agar investor tidak salah langkah.

3. Prabowo Ingin Biaya Haji Lebih Terjangkau dan Masa Tunggu Turun Jadi 14 Tahun

Dari pasar modal, perhatian publik juga tertuju pada pengelolaan aktivitas haji di bawah kendali Kementerian Haji (Kemenhaj). Presiden Prabowo Subianto disebut menginstruksikan formulasi khusus agar biaya penyelenggaraan haji tidak memberatkan jemaah sekaligus memperpendek masa antrean keberangkatan.

Hal itu disampaikan Menteri Haji dan Umrah Muhammad Irfan Yusuf usai ditemui media di Istana Negara, Senin (28/9/2026). Instruksi tersebut dibahas dalam rapat terbatas yang menindaklanjuti pembahasan bersama Komisi VIII DPR RI terkait besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Dalam rapat itu muncul kemungkinan perubahan komponen biaya haji tahun depan menyusul ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meski pemerintah berkomitmen agar perhitungan final tidak membebani calon jemaah.

4. China Targetkan Ekspor 12 Juta Mobil pada 2026, Naik 44%

Beranjak ke kabar internasional, China memasang target agresif di industri otomotif. Mengutip South China Morning Post (SCMP) pada Kamis (1/10/2026), sejumlah produsen mobil terkemuka China diproyeksikan mampu mengekspor hingga 12 juta unit pada akhir 2026, tumbuh sekitar 44 persen dari realisasi sebelumnya yang mencapai 8,3 juta unit.

Proyeksi lonjakan itu didasarkan pada lesunya pasar otomotif domestik China, yang dinilai bakal disikapi produsen dengan mengalihkan fokus pemasaran ke pasar luar negeri. Realisasi ekspor mobil China sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat melonjak signifikan, terutama di pasar Uni Eropa dan Afrika.

5. Harga Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Diplomasi Iran-AS

Kabar kelima menyoroti harga minyak yang kembali menguat akibat ketidakpastian diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Harga minyak Brent sempat ditutup di kisaran US$102 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus US$90 per barel, dipicu meredanya harapan perdamaian dan pengetatan pasokan energi.

Kenaikan harga energi ini turut memperkuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran bahwa inflasi akan sulit turun sehingga bank sentral, termasuk The Fed, berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sentimen yang Menentukan Arah IHSG

Kelima perkembangan itu saling berkaitan dalam membentuk arah IHSG ke depan. Di sisi domestik, kepastian demutualisasi BEI dan hasil evaluasi penyedia indeks global menjadi katalis yang ditunggu. Sementara dari luar, gejolak harga minyak dan arah suku bunga The Fed menjadi variabel yang membatasi ruang penguatan indeks.

Sejumlah analis memperkirakan IHSG masih bergerak dalam tren turun dengan area support kritis di sekitar level 6.000. Meski begitu, indikator teknikal yang mendekati area oversold membuka peluang terjadinya technical rebound, terutama bila sentimen global membaik dan nilai tukar rupiah stabil.