Medan - Kejaksaan di Sumatera Utara menangkap Sebastian Hutabarat pada Selasa, 5 Januari 2021. Sebastian adalah aktivis lingkungan di kawasan Danau Toba.
Penahanan Sebastian dilakukan tim kejaksaan setelah dia dibawa dari rumahnya di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba.
Kasus yang menjerat Sebastian bermula dari peristiwa kekerasan yang dilakukan seorang pengusaha bernama Jautir Simbolon di lokasi galian c di Silimalombu, Kabupaten Samosir pada 15 Agustus 2017.
Jautir yang juga kerabat Bupati Samosir Rapidin Simbolon, sudah menjalani hukuman penjara karena terbukti melakukan penganiayaan terhadap Sebastian.
Panitia Yap Thiam Hien Award sudah selayaknya mengganjar beliau dengan penghargaan sebagai pejuang HAM dan Lingkungan tahun 2021
Dalam rilisnya, kejaksaan menyebut penangkapan Sebastian sesuai surat perintah pelaksanaan putusan pengadilan (P-48) Nomor: Print 433 tanggal 21 Desember 2020 guna melaksanakan putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor: 167/Pid/2020/PT.Medan tanggal 8 April 2020 dengan amar putusan menyatakan Sebastian Hutabarat bersalah melakukan tindak pidana penistaan dengan pidana penjara selama satu bulan.
Sebastian Hutabarat (pakai celana pendek) saat bersama aparat kejaksaan, Selasa, 5 Januari 2021. (Foto: Tagar/Ist)
Disebut dalam rilis tersebut bahwa Sebastian sudah dipanggil secara patut sebanyak tiga kali namun tidak memenuhi panggilan jaksa ekskutor. Selanjutnya Sebastian dibawa ke Lapas Kelas 3 Pangururan, Kabupaten Samosir.
Penghargaan
Merespons penahanan Sebastian yang juga pengusaha kuliner pizza andaliman tersebut, sejumlah aktivis di kawasan Danau Toba pun bereaksi.
Beberapa di antaranya kecewa dengan penegakan hukum di Indonesia, di mana aktivis lingkungan justru dikriminalisasi. Mereka di antaranya bersuara lewat media sosial.
Baca juga:
Saurlin Siagian, misalnya, lewat media sosial Facebook meminta Presiden Jokowi memberikan grasi kepada Sebastian.
"Kawan kita, Sebastian Hutabarat ditangkap dan ditahan. Penangkapan ini terkait dengan aktivitasnya menolak galian c di sebuah tempat di Samosir, Sumatera Utara. Setelahnya, peristiwa kekerasan terjadi padanya. Beberapa waktu kemudian juru pengadil memutuskan vonis 1 bulan penjara buat pejuang ini," tulis dia.
"Terkait ini, ada dua hal yang bisa dilakukan demi keadilan dan kebenaran. Pertama, Presiden Presiden Joko Widodo memberikan grasi kepada Sebastian. Kedua, panitia Yap Thiam Hien Award sudah selayaknya mengganjar beliau dengan penghargaan sebagai pejuang HAM dan Lingkungan tahun 2021. Tidak selayaknya orang baik dipenjara," sambung Saurlin yang dikenal aktif dalam gerakan advokasi masyarakat adat di kawasan Danau Toba.
Hal sama dilakukan Togu Simorangkir, aktivis sosial lainnya. Dia mengunggah status dan foto, di mana dia menjadi saksi persidangan terhadap Sebastian.
"Hari ini, Bang Sebastian ditangkap. Padahal fakta pengadilan semua jelas. Akupun dengan lantang mengatakan Bang Sebastian tidak salah. Namun, ya begitulah. Kerabat penguasa yang menjadi pemenangnya. Rakyat akan tetap menjadi korban ketidakadilan. Selamat bermeditasi di penjara Bang. Setelah ke luar penjara, kita gas lagi penguasa itu," tulisnya.[]