Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut kartel narkoba di Meksiko sebagai kelompok teroris. Menurutnya, ia telah memberi tahu pimpinan Meksiko bahwa AS siap untuk masuk dan membersihkan kartel. Namun Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard menampik tawaran itu dan dengan tegas menyatakan bahwa Meksiko tidak akan mengizinkan pelanggaran kedaulatan negara.
Awal November 2019, Presiden Donald Trump berjanji perang melawan kartel narkoba setelah serangan mematikan terhadap warga AS di Meksiko oleh kartel narkoba. Para korban yang terdiri dari tiga wanita dan enam anak-anak yang merupakan komunitas Mormon tewas dalam serangan brutal ketika melakukan perjalanan melalui daerah terpencil di Meksiko Utara pada 4 November 2019. Komunitas Mormon merupakan warga AS yang memutuskan untuk menetap di Meksiko mengikuti aliran Latter Day Saint (Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir) dalam jangka waktu yang sangat lama.
Seperti diberitakan dari Channel News Asia, Rabu, 27 November 2019, pejabat di Meksiko menyebutkan penyerangan itu merupakan salah sasaran. Namun keluarga korban membantah dengan menyatakan kartel narkoba itu pasti tahu siapa yang menjadi target mereka yang pasti kartel narkoba lain.

Bill O'Reilly, tokoh media konservatif bertanya kepada Presiden Donald Trump,"Apakah Anda akan menunjuk kartel sebagai kelompok teroris dan mulai memukul mereka dengan drone?"
Presiden berkata,"Mereka akan ditunjuk..... Saya telah mengerjakan itu selama 90 hari terakhir. Anda tahu, penunjukkan tidak semudah itu. Anda harus melalui proses, dan kami baik-baik dalam proses itu."
Trump mengatakan ia telah memberi tahu Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador bahwa AS bersedia untuk melancarkan operasi serangan melaan kartel di Meksiko. "Saya sudah menawarkan dia untuk membiarkan kami masuk dan membersihkan kartel. Sejauh ini ia (Presiden Meksiko) menolak tawaran itu. Tapi pada titik tertentu sesuatu harus dilakukan."
Larangan Masuk AS
Ketika sebuah kelompok ditetapkan sebagai organisasi teroris di AS, maka menjadi ilegal bagi orang-orang di AS untuk secara sadar menawarkan dan memberikan dukungan. Anggota kelompok itu juga dilarang masuk AS, dan akan dideportasi bila tetap membandel masuk ke AS. Begitu pula lembaga keuangan, bila punya dana yang terafiliasi dengan kelompok yang diduga teroris maka rekening akan diblokir.
Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard mengatakan Meksiko telah menjelaskan soal penolakan tawaran AS yang ingin membantu memberantas kartel Meksiko karena dinilai mengganggu kedaulatan negara. Namun Meksiko berkomitmen untuk menangani kejahatan transnasional terorganisir. "Rasa saling menghormati adalah dasar kerja sama," ucapnya.
Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri menyebutkan bahwa Marcelo Ebrard akan mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompe untuk membahas upaya pembersihan kartel narkoba. Meksiko akan melakukan langkah pengurangan aliran senjata dan uang dari AS ke kartel serta upaya untuk menghentikan pergerakan narkoba menuju AS.
Sebelumnya pada Senin lalu, Presiden Meksiko Lopez Obrador mengatakan kepada wartawan lokal, tidak akan menerima intervensi asing dalam penanganan kartel narkoba. "Kami akan menyelesaikan masalah sendiri. Kami tidak ingin ada gangguan dari negara asing," katanya.[]
- Baca Juga: Satu Keluarga Tewas Korban Kartel Narkoba Meksiko
- Cara Anak Ini Selamat dari Kebrutalan Kartel Narkoba