Jakarta, (Tagar 13/4/2018) - Presiden Joko Widodo sejak awal pemerintahan menegaskan bahwa pos lintas batas negara (PLBN) harus mencerminkan kebanggaan, nasionalisme, martabat, harga diri bangsa.

Kawasan perbatasan lama identik dengan keterbelakangan, terletak di pelosok, ibarat pintu belakang, terisolasi, kumuh, dan tertinggal. 

Jokowi membalik paradigma lama itu dengan pemikiran baru bahwa sebagai wilayah yang berhadapan dengan negara tetangga, perbatasan adalah pintu depan Indonesia, harus maju, terbuka, dan terdepan. 

Karena itu ia kemudian membangun ulang tujuh PLBN terpadu, yakni di Entikong, Badau, Aruk (Kalimantan Barat), Motaain, Motamasin, Wini (Nusa Tenggara Timur), dan Skouw (Papua).

Tujuh PLBN tersebut telah berubah wujud menjadi lebih megah, meninggalkan wujud lamanya yang usang dan lusuh.

Dan sembilan PLBN berikutnya dibangun tahun 2018 ini hingga tahun 2019 mendatang, yaitu di: 1.Sota Kabupaten Merauke (Papua). 2.Jagoi Babang Kabupaten Bengkatang (Kalimantan Barat). 3.Jasa Kabupaten Sintang (Kalimantan Barat). 4.Long Nawang Kabupaten Malinau (Kalimantan Utara). 5.Long Mindang Kabupaten Nunukan (Kalimantan Utara). 6.Labang Kabupaten Nunukan (Kalimantan Utara). 7.Sei Pancang (Kalimantan Utara). 8.Oepoli (NTT). 9.PLBN Napan (NTT).

Berikut ini tujuh PLBN yang sudah jadi, wujud fisiknya menawan berpadu dengan pelayanan modern dan profesional. Kawasan yang layaknya tempat wisata, para pelintas yang adalah anak negeri umumnya tak mau lewat sambil lalu begitu saja, tapi menyediakan waktu untuk berswafoto dengan perasaan bangga dan kagum sebagai orang Indonesia.

1.PLBN Entikong

PLBN Entikong di Kalimantan Barat, beranda terdepan Indonesia di hadapan Malaysia, dengan gapura berornamen Dayak, dengan monumen Garuda gagah perkasa, spot favorit pelintas mengabadikan perjalanannya dengan kamera.

PLBN EntikongPLBN Entikong 

2.PLBN Badau

PLBN Badau di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat, mengusung budaya lokal dengan mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Panjang, penggunaan ornamen lokal, serta penerapan prinsip bangunan hijau.

PLBN BadauPLBN Badau

3.PLBN Aruk

PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dengan konsep arsitektur mengadopsi Rumah Panjang yang merupakan rumah tradisional Suku Dayak. Aksen atap menjulang memberikan sentuhan modern, berhiaskan ukiran tradisional dayak.

PLBN ArukPLBN Aruk

4.PLBN Motaain

PLBN Motaain di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan negara Timor Leste. Bagian terdepan terdapat gerbang lintas batas negara yang dihiasi ornamen tulisan Motaain Indonesia, dan jembatan transisi, warna merah putih khas Indonesia bersanding dengan warna khas negara Timor Leste, merah, kuning dan hitam.

PLBN MotaainPLBN Motaain

5.PLBN Motamasin

PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Timor Leste dihadirkan dengan desain lokal lewat bentukan atap rumah 'matabesi', rumah tradisional masyarakat Belu.

PLBN MotamasinPLBN Motamasin

6.PLBN Wini

PLBN Wini di Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Strukturnya memadukan partisi dari bilah bambu, atap ringan dengan desain tropis monumental, dinding batu tektonik, dan platform hirarki ruang, dengan pohon peneduh dan dinding pamer sebagai galeri budaya yang memperlihatkan budaya lokal.

PLBN WiniPLBN Wini

7.PLBN Skouw

PLBN Skouw di Distrik Muara Tami Kota Jayapura, Papua. Desainnya mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Tangfa, rumah pesisir di daerah Skouw, memiliki atap dengan bentukan perisai dan dua ruang panjang untuk masyarakat berkumpul, dengan ornamen lokal pada sisi luar bangunan.

PLBN SkouwPLBN Skouw

Semua PLBN yang sudah jadi maupun yang sedang dibangun diproyeksikan tumbuh sebagai kawasan terpadu. Di kawasan tersebut juga dibangun area komersil dan infrastruktur pendukung untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. (sa)