TAGAR.id, Jakarta - Perkembangan kecerdasan buatan kembali menjadi sorotan setelah sejumlah peneliti merilis paper yang membahas recursive self-improvement (RSI) atau kemampuan AI memperbaiki dirinya sendiri. Bahasan ini diangkat dalam video kanal teknologi The Code Report berjudul “Did Google just kickstart the intelligence explosion?”.

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa gagasan RSI bukan hal baru. Konsep ini pernah dikemukakan matematikawan Britania I.J. Good pada 1965, yang menyebut mesin supercerdas pertama berpotensi menjadi penemuan terakhir yang perlu dibuat manusia, karena setiap peningkatan kemampuannya akan membuatnya makin baik dalam meningkatkan dirinya sendiri.

Dua Paper, Dua Pendekatan

Menurut penjelasan video itu, 33 peneliti dari ByteDance, Tsinghua, dan sejumlah laboratorium di Tiongkok lebih dulu menerbitkan paper berjudul The Last AI Built by Humans. Paper tersebut memaparkan peta jalan lima tahap menuju RSI, dengan tahap akhir berupa AI yang menulis ulang proses yang dipakainya untuk memperbaiki diri.

Kemudian, Google DeepMind bersama University of Maryland dikabarkan merilis paper balasan bertajuk Dream RSI. Dalam paper itu, mereka mengklaim bahwa dengan mengubah catatan penemuan lama sebuah AI menjadi sebuah simulator, lalu membiarkannya “bermimpi” merancang ribuan strategi pencarian baru di dalamnya, AI menjadi lebih baik dalam menemukan hal-hal baru tanpa perlu ada yang menyentuh model itu sendiri.

Dengan kata lain, yang berubah bukan bobot modelnya, melainkan kebijakan eksplorasi (exploration policy) yang dipakai agen tersebut saat mencari solusi.

Pola Kerja yang Sudah Populer

Video itu juga mengingatkan bahwa setiap kali AI mencetak terobosan di bidang matematika, prosesnya cenderung sama seperti yang dipopulerkan Alpha Evolve. Sebuah agen pemrograman diberi masalah dan fungsi penilaian, lalu dijalankan dalam sebuah siklus: mengusulkan solusi, mengevaluasinya, membaca umpan balik, dan mencoba lagi ribuan kali.

Pola berulang inilah yang disebut-sebut berada di balik sejumlah capaian, termasuk ketika sebuah agen dilaporkan menemukan konjektur Jacobian pada musim panas lalu, serta langkah OpenAI dalam mendahului persoalan Navier-Stokes.

RSI atau Sekadar Hype?

Pertanyaan utama yang diajukan kanal tersebut adalah apakah kemampuan agen menulis ulang kebijakan eksplorasinya sendiri sudah layak disebut RSI, atau baru sebatas klaim yang dibesar-besarkan. Video itu menyatakan akan membedah cara kerja Dream RSI “di balik kap mesin” untuk menilai hal tersebut.

Perlu dicatat, bahasan ini merupakan analisis dan opini dari kanal YouTube The Code Report terhadap paper-paper yang disebutkan, bukan pengumuman resmi dari Google atau pihak lainnya. Sampai berita ini ditulis, Tagar belum memverifikasi secara independen detail teknis maupun hasil dari kedua paper tersebut.

Relevansi bagi Indonesia

Terlepas dari perdebatan itu, isu RSI menegaskan bahwa pengembangan AI bergerak cepat. Indonesia sendiri telah menaruh perhatian pada tata kelola AI, antara lain melalui keikutsertaan dalam forum internasional seperti Artificial Intelligence Action Summit (AIAS) di Paris pada Februari 2025.

Selain itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah memasukkan mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Buatan sebagai pilihan mulai kelas 5 SD hingga SMA pada tahun ajar 2025/2026. Langkah ini dinilai penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga memahami cara kerja teknologi yang makin mandiri.

Bagi publik, perkembangan seperti Dream RSI layak diikuti dengan sikap kritis: memisahkan capaian teknis yang terverifikasi dari narasi yang masih berupa klaim.