UNTUK INDONESIA
Hikmah Belajar Daring di Balik Wabah Corona Bantaeng
Wabah corona membuat jalinan komunikasi antara guru dan orang tua makin intens. Sebab dibutuhkan peran orang tua di belajar berbasis daring.
Orang tua memandu langsung kegiatan belajar anaknya di rumah. Di balik wabah corona ternyata banyak hal positif yang bisa didapat dalam pembelajaran berbasis online di Bantaeng, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Kegiatan belajar mengajar di Tanah Air berubah kala virus corona masuk ke Indonesia. Namun ada hikmah yang bisa diambil saat pemangku kebijakan negeri ini memutuskan kegiatan tersebut dilakukan di rumah secara online atau dengan model dalam jaringan (daring). 

Perbedaan aktivitas belajar mengajar dengan sebelum coronavirus disease 2019 atau Covid-19 datang menebar teror juga terjadi di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Ihsan Wahdah Islamiyah di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Semuanya berubah 90 derajat, baik sistem pembelajaran siswa, model kerja guru hingga situasi sekolah. 

Sekolah berbasis pendidikan Islam ini beralamat di Jalan Bakri, Kecamatan Bissappu. Di lingkup SDIT yang dibangun pada tahun 2012 tersebut terdapat jenjang pendidikan taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Sebelum ada corona, sekolah tersebut senantiasa ramai oleh aktivitas bermain dan belajar para siswa usia anak. 

Ya, perubahan situasi itu mulai muncul setelah pemerintah menerapkan kebijakan social distancing bagi warga. Seluruh lembaga pemerintahan dan pihak terkait patuh terhadap imbauan Presiden Jokowi untuk meminimalisir aktivitas keluar rumah.

Orang tua siswa berperan penting dalam pembelajaran sistem daring ini.

Begitupun di lingkungan lembaga pendidikan. Proses belajar mengajar mengikuti arahan pemerintah demi mencegah makin banyaknya pasien Covid-19 dirawat di rumah sakit. Guru dan siswa, melakukan tanggung jawab dan kewajiban dari rumah masing-masing. Kecuali untuk mereka yang piket atau karena urusan penting.

Kamis, 19 Maret 2020, sekira pukul 09.00 Wita. Pagar besi bercat hitam SDIT Al Ihsan Wahdah Islamiyah itu terbuka setengah. Dari luar suasana sekolah terlihat begitu sepi. Setiap sudut sekolah juga tampak tak ada aktifitas sama sekali.

Pemandangan sedikit beda ada di ruang guru. Beberapa guru piket sibuk mengetik tombok huruf di handphone yang dipegangnya. Bukan untuk ber-chat ria ngerumpi dengan teman sejawat atau komunitas sosialitanya. Mereka ternyata tengah fokus memberi panduan tugas yang harus dilakukan para murid di rumah. 

Tagar mengetuk pintu dan memberi salam. Ustazah Kamsinar, guru yang pagi itu kebagian piket di sekolah mengalihkan pandangannya dari handphone ke arah sumber suara. Senyumnya mengembang dan menyambut ramah.  

Sesaat basa-basi memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan, Tagar dipersilakan masuk dan duduk di salah satu kursi di belakang meja guru yang kosong. Dan singkat kata, pengajar kelas 3 ini berkenan berbagi sepenggal cerita, pengalaman belajar mengajar yang dilalui selama dua hari sebelumnya.

Hikmah Pembelajaran Daring

hikmah corona bantaeng2Komunikasi antara guru dan orang tua murid di Bantaeng terjalan lebih intens setelah penerapan pembelajaran berbasis daring selama masa pandemi virus corona. (Foto: Fitriani Aulia Rizka)

Langsung ke intinya, Kamsinar mengaku mendapat hikmah tersendiri dengan adanya kejadian pandemi virus corona ini. Yang begitu jelas dirasa adalah terbangunnya komunikasi yang lebih intens antara guru dengan orang tua siswa. Karena proses belajar mengajar secara daring butuh peran serta orang tua siswa.

"Orang tua siswa berperan penting dalam pembelajaran sistem daring ini. Karena aktivitas murid di rumah terpantau secara online dan itu direkam oleh orang tua melalui smartphone," jelas pengajar yang lebih dikenal dengan sapaan Ummu Aisyah ini.

Pada hari biasa atau sebelum corona mewabah, kata dia, guru lebih banyak berinteraksi dengan siswa siswi. Dan ketika KBM berubah dengan model daring, guru dan orang tua kompak untuk bersama melakukan kontrol atau pemantauan terhadap putra putrinya. 

Perubahan positif interaksi ini terjadi sehak tanggal 17 Maret 2020 atau sejak dimulainya instruksi belajar di rumah. Para guru menyajikan materi pembelajaran dan membahasnya di grup WhatsApp yang beranggotakan para orang tua siswa. 

 Dan jika ada yang ingin ditanyakan juga lewat grup WhatsApp.

Mata pelajaran dan tugas-tugas dibahas grup itu. Dan para orang tua memantau secara langsung bahan pelajaran serta sejauh mana kompetensi dan kemampuan anaknya. Komunikasi dua arah juga terjalin ketika ada ketidakpahaman akan tugas yang diberikan. 

"Alhamdulillah di sini siswa-siswi kami dibekali buku paket dan masing-masing bawa ke rumah. Jadi memudahkan setiap materi yang kami arahkan lewat grup begitupun pemberian tugas-tugas. Dan jika ada yang ingin ditanyakan juga lewat grup WhatsApp," ucapnya. 

Bukan hanya memantau materi pelajaran pokok, kebiasaan-kebiasaan lain yang selama ini diajarkan di sekolah pun diterapkan di rumah. Di antaranya hafalan surat-surat pendek dan pelaksanaan salat Duha. Orang tua senantiasa melaporkan dua aktivitas itu dalam bentuk rekaman video. 

Di mata Kamsinar, imbauan pemerintah untuk beraktivitas dari rumah selama masa pandemi Corona cukup bijak, meski menguras tenaga dan waktu berkali lipat. Jika jam sekolah mulai pagi hingga siang, sejak KBM daring berlaku, beberapa guru justru melakukan pemantauan nyaris 12 jam dalam sehari.

"Karena ada guru yang beranggapan lebih bagus jika tugas diberikan sejak subuh, jadi orang tua bisa memantau lebih cepat sebelum mereka melakukan aktivitas. Karena terkadang ada juga orang tua yang terlambat menyetor tugas siswa, padahal absensi itu dilihat dari setoran tugas. Jadi memang proses ini butuh ekstra waktu dan tenaga," beber dia. 

Sebagai ibu dua anak, Kamsinar juga merasa pembelajaran sistem daring untuk mencegah penularan corona sangat penting. Hanya saja ia harus pintar mengatur waktu. Sebab di satu sisi ia harus memantau siswa-siswinya, di sisi lain ia adalah orang tua yang juga harus menyetorkan tugas dari anak-anaknya yang duduk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

"Kadang tengah malam baru sempat menyetorkan tugas anak-anak karena saya sendiri juga kewalahan," ujarnya tersenyum. 

Kendala Para Guru

hikmah corona bantaeng3Suasana SDIT Al Ihsan Wahdah Islamiyah di Bantaeng tampak lengang selama masa pandemi virus corona. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Cerita sedikit beda datang dari Ustadzah Rafida. Salah satu pengajar di taman kanak-kanak SDIT Al Ihsan Wahdah Islamiyah ini tetap berupaya maksimal mentransfer ilmu pengetahuan meski ada sejumlah hal yang menjadi ganjalan. 

"Beberapa hal cukup menghawatirkan saya. Karena metode laporan pembelajaran daring sejauh ini dalam bentuk foto. Misalnya siswa salat Duha, kami tidak bisa memperhatikan secara langsung prosesnya, bagaimana mereka lakukan itu," tutur Rafida. 

Bagi Rafida, cukup sulit untuk mendapatkan hasil maksimal dari sistem pembelajaran daring ini. "Misal anak-anak setor hafalan kadang kami lupa harus koreksi. Misal ada bagian yang kurang tepat, harusnya dikoreksi secara langsung. Tapi di sini agak susah, apalagi yang kami hadapi ada banyak siswa. Belum lagi ada orang tua siswa yang terlambat menyetor tugas anak, kami harus menunggu sampai malam," tuturnya

Meskipun begitu, Rafida menilai cara pembelajaran daring tidak terlalu buruk diterapkan. Karena secara tidak langsung sistem ini menjadikan proses pendidikan anak tak hanya butuh peran serta guru saja. Tapi juga melibatkan para orang tua. Dan menjadikan orang tua memahami proses pembelajaran sesuai kebutuhan dan kemampuan 

"Dengan cara ini orang tua jadi terlibat langsung mengetahui bagaimana anak-anak mereka, bagaimana kemampuan dan apa saja yang mereka butuhkan dan apa saja yang dibutuhkan," tutup Rafida.

Seperti itulah secuil gambaran kondisi mereka yang tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa di tengah ancaman corona. Tak ada pilihan lain demi keselamatan bersama. Dengan segala kekurangan dan kelebihan sistem yang ada, para guru patuh untuk meminimalisir pertemuan hingga pandemi virus corona dinyatakan berhenti. Salam hormat buat pengabdian Anda. []

Baca cerita lain: 

Berita terkait
Bupati Bantaeng: Masa Pandemik Bukan Untuk Liburan
Bupati Bantaeng Ilham Azikin meminta warganya untuk tidak salah mengartikan diliburkan selama masa krisis corona ini.
Penyemprotan Disinfektan di Pusat Keramaian Bantaeng
Pemerintah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan melakukan penyemprotan disinfektan di pusat-pusat keramaian.
Pasar Tradisional Bantaeng di Tengah Wabah Corona
Saldi dan Rusdi, penjual ikan di pasar sentral Bantaeng, Sulawesi Selatan. Di bawah ancaman virus corona, mereka harus keluar rumah, mencari hidup.
0
Nasib Buruh Harian di India Pasca Lockdown
Kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah India menyulitkan mereka yang menggantungkan penghasilan dari upah harian.