Jakarta - Bentrokan yang terjadi di India antara mereka yang setuju diberlakukannya UU Amandemen Kewarganegaraan dengan yang menolak menimbulkan korban jiwa. Memasuki hari ketiga, jumlah korban tewas bertambah menjadi 23 orang. Diperkirakan jumlahnya bisa meningkat mengingat banyak rumah sakit yang dipenuhi puluhan orang yang terluka, kata pihak berwenang, Rabu, 26 Februari 2020.
Kerusuhan antara muslim yang menentang diskriminasi dalam UU Amandemen Kewarganegaraan dengan umat Hindu itu bersamaan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump ke India. Ketua Menteri Delhi yang baru terpilih, Arjind Kerjiwal meminta Perdana Menteri Narendra Modi untuk mengirim tentara ke daerah-daerah yang terkena dampak kerusuhan.
UU Amandemen Kewarganegaraan memicu kontroversi karena hanya memberikan jalur kemudahan bagi warga non muslim dari tiga negara tetangga, Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan untuk mendapatkan kewarganegaraan.Namun sebaliknya warga muslim tidak mendapat jalur kemudahan proses naturalasi tersebut.
Seperti diberitakan dari times.com, Rabu, 26 Februari 2020, Rouf Khan (43 tahun), warga Mustafabad, di timur laut New Delhi menggambarkan kerusuhan yang semakin memanas sejak Selasa. Menurut cerita Khan, kelompok Hindu dengan membawa batang besi, batu bata dan tongkat bambu menyerang rumah-rumah Muslim, sembari meneriakkan kata-kata "Jai Shri Ram" atau "Kemenangan bagi Dewa Ram - dewa dalam agama Hindu dari epik Ramayana.
Bentrokan pecah antara polisi dan pengunjuk rasa di timur laut New Delhi. (Foto: BBC News).
Ketika massa melihat kami, mereka memukul saya dan putra saya yang terluka. Sambil terus memukul, mereka melantunkan slogan-slogan Jai Shri Ram.
"Mereka masuk ke dalam rumah, mengamuk dan memukul penghuni serta menghancurkan barang-barang rumah tangga," ucap Khan. Khan yang beragama Islam dan keluarganya merasa ketakutan melihat keberingasan massa. Mereka meninggalkan rumah menuju masjid terdekat yang dijaga ribuan pria.
"Saya tidak tahu, apakah rumah kami terbakar atau tidak. Sambil berlari ketakutan keluar rumah, kami mendengar mereka berteriak-teriak untuk membakar semua rumah dengan minyak tanah," ucap Khan.
Dr. Sunil Kumar, Direktur Medis Rumah Sakit Guru Teg Bahadur mengatakan meskipun otopsi tertunda, beberapa korban yang tewas memiliki bekas luka tembak. "Mereka ada yang datang ke rumah sakit dengan luka tembak atau tikam, cedera akibat melompat dari ketinggian," tuturnya.
Mereka menarik-narik celana untuk melihat apakah kami disunat.
Salah satu korban bernama Mohammad Sameer (17 tahun) yang dirawat karena luka tembak di dada. Berbicara kepada Associated Press pasca operasi, Sameer mengatakan dia berdiri di teras apartemen melihat massa umat Hindu memasuk Mustafabad, sebelum ia terkena tembakan di dada.
"Begitu Sameer tertembak, saya berlari sambil menggendongnya," kata ayah Sameer bernama Mohammad Akram. Kata Akram lagi,"Tetapi ketika massa melihat kami, mereka memukul saya dan putra saya yang terluka. Sambil terus memukul dengan tongkat, mereka melantunkan slogan-slogan Jai Shri Ram."
Akram mengatakan berhasil membawa putranya naik rickshawa (sejenis becak), tapi massa menghalang-halangi. "Mereka menarik-narik celana untuk melihat apakah kami disunat," ujarnya. Akram berhasil kabur dari kepungan massa dan segera membawa anaknya ke ruang gawat darurat rumah sakit.
Anil Kumar, juru bicara kepolisian New Delhi mengatakan sedikitnya 189 orang terluka dalam bentrokan itu. Ia menyebutkan, kerusuhan sudah bisa dikendalikan dan kondusif.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah mendengar terjadi bentrok antara umat Mslim dengan Hindu.Namun menurutnya, belum membicarakan dengan Perdana Menteri Narendra Modi.[]
Baca Juga:
- Unjuk Rasa Tolak UU Kewarganegaraan Baru India Ricuh
- India Batasi Impor CPO, Malaysia Takut Indonesia