UNTUK INDONESIA
Kesaksian Sahuddin dan Suramnya Cina Diserang Corona
Cerita panjang Sahuddin mahasiswa Aceh di Cina yang menjadi saksi mata virus Corona.
Muhammad Sahuddin salah satu mahasiswa Aceh yang kuliah di Cina. (Foto: Tagar/Istimewa).

Aceh Barat Daya – Suasana warung kopi AW di Jalan Iskandar Muda, Desa Geulumpang Payong, Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh sore itu tampak ramai. 

Lalu lalang kendaraan tidak dihiraukan pegunjung yang asyik dengan gawainya. Disudut warung seorang pemuda tampak santai seorang diri. Sosok pria berkulit sawo matang itu bernama Muhammad Sahuddin, warga Kecamatan Susoh Kabupaten Aceh Barat Daya.

Ditemani kopi pancung (setengah) Sahuddin terlihat begitu santai menikmatinya, wajar saja Sahuddin pemuda yang dinilai ramah senyum ini baru saja tiba di Tanah Rencong usai merebaknya virus Corona di Cina.

Market dan masjid tutup hari jumat itu. Saat itu wilayah Nanjing sudah siaga satu karena virus corona.

Sahuddin yang saat ini masih tecatat sebagai mahasiswa di Nanjing Normal University di Tiongkok bercerita panjang kepada Tagar seputar kondisi di sana selama munculnya virus Corona hingga proses ia kembali ke Aceh.

Awalnya informasi tentang virus Corona sudah diumumkan oleh pemerintah Tiongkok pada pertengahan Desember 2019, saat itu virus yang mematikan itu belum diketahui jenisnya. Meski demikian, kondisi warga di sana tidak ada kepanikan sama sekali, aktivitas masyarakat masih seperti biasa hingga awal Januari 2020.

“Belum ada peringatan sudah siaga satu saat itu,” kisah awal Sahuddin kepada Tagar, Sabtu 8 Februari 2020 sore.

Lalu tanggal 14-15 Januari 2020 baru mulai pemerintah Tiongkok mengingatkan warganya bahwa dengan adanya penemuan virus itu masyarakat di imbau untuk menggunakan masker, cuci tangan bersih dan menghindari berada di keramaian. 

Di bandara saya memilih menjauh dari orang-orang, begitu juga dengan orang lain.

"Tapi tidak dikabarin secara pasti harus sedemikian, mungkin untuk menghindari kepanikan warga,” kata Sahuddin.

Wuhan CoronaKabin krew mengenakan baju steril melakukan persiapan akhir di dalam pesawat tipe A-330 milik Batik Air ID 8618 yang akan digunakan untuk menjemput Warga Negara Indonesia (WNI) di Wuhan, China, di Bandara Soekarno-Hatta, Tanggerang, Sabtu, 1 Februari 2020. (Foto: Antara/Muhammad Iqbal)

Sahuddin mengaku saat itu dirinya sudah mengetahui adanya korban yang sudah terjangkit virus. Dia mengetahui hal itu dari sebuah media Cina, namun begitu, dirinya mengaku tidak mengetahui detail lantaran tidak terlalu menguasai bahasa Cina.

Saat itu Sahuddin tidak terlalu panik, begitu juga dengan masyarakat yang di ibu kota Nanjing provinsi Jiangsu daerah tempat ia tinggal.

“Jadi mulai tanggal 18 Januari saya sudah pakai masker, saya baru mulai merasa panik pada tanggal 20 Januari 2020, sebab ada informasi dari grub kampus untuk tidak keluar dari rumah,” ujarnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi tempat tinggal Sahuddin mulai sepi. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa dan masyarakat lainnya pulang untuk merayakan Imlek dengan keluarga mereka. Meski demikian informasi untuk menjaga kesehatan juga terus di informasikan oleh pemerintah Cina.

Tepat pada tanggal 24 Januari 2020, Sahuddin merasa sudah tidak nyaman lagi berada di Cina. Hal itu dirasakannya akibat tempat beribadah dan berbelanja bahan pokok di Market dan salah satu masjid sudah tutup. 

“Market dan masjid tutup hari jumat itu. Saat itu wilayah Nanjing sudah siaga satu karena virus Corona,” katanya.

Mahasiswa semester empat ini mulai merasa adanya keanehan dengan kondisi di daerahnya, apalagi dirinya sangat sedikit menerima informasi mengenai penyebaran virus Corona lantaran Sahuddin tidak terlalu menguasai bahasa Cina. 

Sejak saat itu dia terus terbawa pikiran hingga tidak dapat tidur nyenyak, sejumlah rekan yang berada di Wuhan terus berkomunikasi untuk mendapatkan informasi.

“Saya hubungi rekan di Wuhan, mereka mengabari Wuhan sudah di blok (akses keluar masuk Wuhan), ini membuat saya tambah panik saat itu,” ujarnya.

Mahasiswa AcehMuhammad Sahuddin salah satu mahasiswa Aceh yang kuliah di Cina. (Foto: Tagar/Dok Pribadi)

Rasa khawatir Sahuddin semakin bertambah, ia bahkan tidak berani lagi berhadapan langsung dengan orang lain, yang ada dipikiran Sahuddin hanya ingin segera keluar dari Cina.

“Saat itu saya target keluar dari Cina saja, saya beli tiket pesawat melalui aplikasi online dengan uang pribadi,” kata Sahuddin.

Keesokan harinya 26 Januari 2020, sekira pukul 06.00 waktu Cina, Sahuddin mulai meninggalkan tempat tinggalnya menuju pangkalan Bus. Saat di dalam bus, Sahuddin semakin panik dikarenakan penumpangnya sangat sedikit tidak seperti biasanya.

“Di bandara saya memilih menjauh dari orang-orang, begitu juga dengan orang lain,” katanya.

Sahuddin mengaku tidak hanya menahan diri dari berdekatan dengan banyak orang, namun dirinya harus menahan dari keinginan untuk merokok. Masker yang dipakainya sejak keluar dari apartemen tempat ia tinggal tidak pernah dibuka. 

Dari pukul 06.00 WIB waktu Cina, hingga sampai di bandara seraya menunggu pukul 12.00 WIB waktu penerbangan godaan dari rasa ingin merokok ia tahan, begitu juga dengan orang lain, tidak ada yang merokok.

Rukok meuheut tat padahai cuma loen theun trok poh siploeh (rokok sangat ingin padahal, cuma saya tahan sampai pukul 10.00 waktu cina)," sebutnya.

Di dalam pesawat, Sahuddin dan penumpang lainnya juga kembali menjalani pemeriksaan. Pesawat yang ia naik tidak langsung mendarat di Malaysia, namun transit terlebih dulu di Bandara Udara Internasional Gaoqi Xiamen di kota Xiamen. Dari bandara ini barulah melanjutkan perjalanan menuju Malaysia.

“Saat itu yang juga saya khawatirkan penerbangan saya diberhentikan, menginggat beberapa informasi ada sejumlah wilayah yang sudah di blok aksesnya,” kata Sahuddin.

Sesampai di bandara Malaysia, Sahuddin kembali menjalani pemeriksaan berkaitan dengan virus Corona. ”Saya di Malaysia bertahan dua hari, baru ke Aceh,” ujarnya.

Terbang dari Malaysia ke Aceh Sahuddin begitu panik, hal ini dikarenakan informasi mahasiswa Aceh yang dari Cina akan dijemput oleh pemerintah Aceh. 

Sahuddin tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh pada tanggal 28 Januari 2020 sekira pukul 10:00 WIB.

“Banyak awak media berkumpul di bandara. Tapi saya irit bicara, saya engan saja berkomentar, tujuannya agar informasi tentang kami disana biar satu pintu saja,” kata Sahuddin.

Iritnya dia berbicara saat itu, hanya karena tidak ingin orang tua dari para mahasiswa yang masih berada di Cina panik, sebab, dia mulai merasa banyak informasi yang menyimpang dari yang sesungguhnya mereka alami di Cina. 

Antisipasi Virus CoronaSimulasi penanganan virus corona di Bandara Ahmad Yani Semarang, Kamis, 30 Januari 2020. Kota Magelang memastikan tidak ada pekerja yang pergi ke China. (Foto: Tagar/Sigit AF)

Banyak isu yang tidak benar menyebar luas ke masyarakat, terkhusus di Aceh juga daerah lainnya di Indonesia, sehingga membuat orang tua semakin gelisah.

“Saya tau banyak kabar hoaks menyebar. Ini tentu dapat membuat keluarga mahasiswa semakin khawatir, maka kami memilih memberi informasi satu pintu saja,” katanya.

Setelah beberapa hari di Banda Aceh, baru pada tanggal 2 Februari 2020, Sahuddin tiba di Kabupaten Aceh Barat Daya. Pihak Dinas kesehatan setempat ikut mengunjunginya saat itu. ”Sudah ada datang orang dinas,” katanya.

Di ujung obrolan, Sahuddin berharap untuk tidak memberikan stigma negatif bagi saudara-saudara yang baru pulang dari Cina, dikarenakan yang pulang itu sudah mengikuti prosedur SOP pemeriksaan. Pemeriksaan tidak hanya ketika tiba di Aceh saja, namun juga sejak di Cina.

"Dari Cina sudah melalui pemeriksaan ketat, pengecekan darah dan ronsen badan dari dinas kesehantan pemerintah Aceh di RSZA. Pihak tim medis sudah menyatakan saya steril atau bebas dari virus dari hasil tes darah," katanya. []

Baca juga cerita menarik lainnya: 

Berita terkait
Menunggu 13 Mahasiswa Aceh di Natuna Karena Corona
Pemerintah Provinsi Aceh masih menunggu intruksi dari pemerintah pusat terkait pemulangan 13 mahasiswa yang masih di Natuna.
Kekhawatiran Mahasiswa Aceh di Wuhan Karena Corona
Mahasiswa Aceh di Wuhan Cina sangat khawatir akibat merambahnya Virus Corona di wilayah tersebut.
12 Mahasiswa Aceh Terisolasi Virus Corona di Wuhan
12 mahasiswa asal Aceh saat ini masih terjebak dengan Virus Corona di Wuhan, China.
0
Lawan 10 Orang, Persebaya Juara Piala Gubernur Jatim
Persebaya Surabaya tampil sebagai juara Piala Gubernur Jatim 2020, setelah mengalahkan Persija Jakarta 4-2 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.