Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China pada 10-12 November 2024 telah membuahkan hasil konkret yang signifikan, terutama di bidang ekonomi dan bisnis.
Selama tiga hari kunjungan, Prabowo bertemu dengan para pejabat tinggi negara China, termasuk Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok (NPC) Zhao Leji.
Kunjungan ini juga mencakup forum bisnis Indonesia-China yang diselenggarakan di Hotel Peninsula, Beijing, mempertemukan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan pengusaha China.
Salah satu hasil utama dari kunjungan ini adalah penarikan investasi ke Indonesia sebesar USD 10,07 miliar atau setara dengan Rp 157,64 triliun. Investasi ini melibatkan kerja sama antara pelaku usaha dari kedua negara, dengan fokus pada bidang ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi 26 komoditas utama dalam negeri, serta pemajuan sains dan teknologi.
Para pengusaha menyepakati sejumlah perjanjian kerja sama yang sejalan dengan program prioritas pemerintah.
Disaksikan oleh Prabowo dan Xi Jinping, Indonesia dan China menandatangani tujuh kesepakatan kerja sama bilateral. Salah satu kesepakatan yang ditandatangani adalah dukungan China untuk program makan bergizi gratis di Indonesia.
Kedua negara menyepakati pendanaan "Food Supplementaion and School Feeding Programme in Indonesia". Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa China telah lebih dulu melaksanakan program serupa untuk rakyat mereka.
Di dalam tujuh kesepakatan kerja sama, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menandatangani pedoman kerja sama teknis (Technical Cooperation Guidelines/TCG) dengan Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan Tiongkok, Han Jun. TCG mencakup 12 bagian pengaturan kerja sama, termasuk perusahaan patungan, kapal, kuota penangkapan ikan, dan pembangunan fasilitas perikanan di darat.
TCG juga mencakup pertukaran keterampilan, pelatihan, dan data relevan terkait sektor perikanan, dengan tujuan untuk membangun ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan negara bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya nelayan.
Prabowo menegaskan bahwa kerja sama kedua negara dipastikan tidak mengubah sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Indonesia berkomitmen untuk tidak berpihak dan berkolaborasi dengan semua kekuatan di dunia.
Dalam forum bisnis Indonesia-Tiongkok, Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia memandang Tiongkok bukan hanya sebagai negara adikuasa, melainkan juga berperadaban besar.
"Kita sangat optimistis dan bullish untuk prospek ini, dan kita menilai bahwa kolaborasi antara kedua negara ini akan menjadi faktor untuk stabilkan dan menaikkan atmosfer kerja sama di kawasan," ujar Prabowo.