Menapak Syukur di Jalur Lembang: Ketika Langkah Kaki Alfa Penyintas Stroke Lumpuh Melampaui Batas Bersama Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung
Bagi Alfa, deretan hari di balik dinding rumah sakit yang penuh traumatik itu adalah persimpangan antara hidup dan mati.
Mila Yefriza
Rabu, 30 September 2026

TAGAR.id, Jakarta - Bagi Alfa penyintas stroke Lumpuh, Dua puluh satu hari di ruang ICU bukanlah waktu yang sebentar. Bagi Alfa, deretan hari di balik dinding rumah sakit yang penuh traumatik itu adalah persimpangan antara hidup dan mati. Diserang stroke hemoragik perdarahan di otak yang fatal Alfa harus menerima kenyataan pahit: tubuhnya lumpuh motorik setengah badan .
Namun, jika Anda melihatnya pada Minggu, 27 September 2026 lalu, bayangan masa-masa kritis di ICU seolah menguap. Dengan pijakan kaki yang mantap, Alfa melangkah sejauh 20 kilometer dari Gereja Katedral Bandung menuju Gua Maria Karmel Lembang.
Aksi jalan kaki ziarah ini ia lakoni bersama komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung yang pagi itu berjumlah 185 orang termasuk relawan yang bertugas menjaga sepanjang jalur. Bukan sekadar perjalanan fisik, jarak 20 kilometer menanjak itu adalah perayaan atas mukjizat kehidupan dan wujud syukur terkontemplatif yang membuncah dari seorang pria berusia 48 tahun.
“Perjalanan peziarahan jalan kaki ini bukan karena saya yang hebat tetapi karena dukungan kepedulian para anggota mlampah ziarah chapter Bandung khususnya para relawan yang henti-hentinya mengawal sambil memberikan semangat ke saya dari start hingga finish di Lembang,”ujar Alfa yang didaulat sharing di depan anggota komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung sebagai penutup acara.
Bangkit dari Bayang-Bayang Kelumpuhan

Perjuangan Alfa penyintas stroke Lumpuh untuk bisa berdiri dan berjalan. kembali bukanlah cerita serba instan. Saat pandemi COVID-19 merebak di tahun 2020, di saat dunia sedang terhenti, tetapi bagi Alfa justru itulah waktu memulai babak baru dalam hidupnya: belajar berjalan kembali.
“Yang ada pilihannya sat itu adalah tetap pasrah dengan keadaan lumpuh motorik atau rehab medik dengan psioterapi untuk pemulihan kelumpuhan stroke. Kalau saya pilih pasrah dengan keadaan hasilnya tidak seperti sekarang ini,”ujar Alfa dalam perbincangan dengan redaksi via telepon seluler.
Setiap inci gerakan tubuhnya yang pulih tak lepas dari benteng pendukung di sekelilingnya. Kesabaran sang istri yang tak pernah lelah merawat, doa tanpa putus dari orang tua, serta dukungan moril dan moral tiada henti dari teman-temannya menjadi bahan bakar utama Alfa untuk melawan rasa putus asa. Terhadap kondisi kelumpuhannya. Senyum dan genggaman tangan mereka sebagai Caregiver dan support system meluluhkan vonis kelumpuhan motorik stroke.
Tak puas hanya bisa berjalan dan penggerakan tangan, , Alfa pria berkacamata ini menetapkan target tinggi untuk bisa berlari dan ikut di ajang lari Marathon lagi. . Alfa kemuda berlatih lari secara bertahap agar bisa kembali merasakan berlari seperti sebelum sakit. Alfa berlatih fleksibilitas dan kekuatan (strenght Training). Kerja keras itu terbayar tuntas saat ia berhasil menembus garis finish kategori 10K di ajang Borobudur Marathon 2024
Menebar Optimisme dari Jogja hingga Bandung
Perjalanan jalan kaki ziarah ke Lembang kemarin bukanlah aksi jalan kakinjarak jauh pertama yang dilakoni Alfa. Sebelumnya, pada Minggu, 19 Juli 2026, Alfa juga telah menyelesaikan ziarah jalan kaki bersama komunitas Mlampah Ziarah menempuh rute bersejarah dari Tugu Yogyakarta hingga Sendang Sono. Di lereng Menoreh sejauh 29 km.
Bagi Alfa yang pernah finish Half Marathon di ajang Singapore Marathon 2014 dan Queenstown Marathon 2017, keberhasilannya menyelesaikan ajang lari 10K serta half marathon, hingga ziarah puluhan kilometer memiliki misi yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian pribadi. “Ini bukan masalah kekuatan fisik saja tetapi ini kekuatan iman dan mental,”ujar Alfa yang masih rutin minum obat darah tinggi.
Alfa ingin meruntuhkan stigma dan ketakutan dan patah semangat yang sering melekat pada diagnosis stroke. Melalui setiap langkah kakinya, baik berlari atau berjalan, Alfa ingin menyebarkan optimisme pemulihan: bahwa stroke dan kelumpuhan motorik bukanlah akhir dari segalanya.
Mentoring Non-Medis: "Aku Bisa Sehat, Aku Bisa Sembuh"
Kini, hidup Alfa tak hanya tentang pemulihan dirinya sendiri. Ia aktif dalam misi sosial pribadi mengambil peran sebagai mentor non-medis bagi para pasien stroke dan keluarga mereka. Alfa paham betul betapa hancurnya mental seseorang ketika tubuh yang biasa sigap mendadak tak bisa digerakkan karena kelumpuhan motorik stroke.
Baca Juga: Operasi Katarak Laser Tanpa Pisau: Kenali Teknologi Catalys untuk Penglihatan Lebih Jernih
Melalui pendampingan ini, Alfa berfokus membangun kembali semangat, mental, dan mindset para penyintas stroke lumpuh. Alfa menanamkan satu keyakinan kuat yang dulu menyelamatkan hidupnya: "Aku bisa sehat, aku bisa sembuh dari kelumpuhan stroke. Aku bisa bermanfaat bagi sesamaku”
Langkah kaki Alfa di rute Katedral Bandung menuju Gua Maria Karmel Lembang mungkin telah usai minggu sore itu. Namun, jejak optimisme yang ia tinggalkan akan terus melangkah jauh, memberi harapan bagi siapa saja yang sedang berjuang bangkit dari titik terendah dalam hidup mereka. (*)
Berita Terkait

Terapi Farmakologis Demensia di Depan Mata Namun Masih Terdapat Tantangan
Syaiful W Harahap · 28 Sep 2026

Menyemai Optimisme Pemulihan Pasien Stroke: Langkah Nyata Alfa Penyintas stroke Lumpuh dan Komunitas Kawan Stroke Indonesia
Mila Yefriza · 22 Sep 2026

Guardian Indonesia Gelar “Wellness Journey Goes to Campus” Ajak Generasi Muda Bangun Gaya Hidup Cantik dan Sehat Secara Holistik
Syaiful W Harahap · 22 Sep 2026

Jenis-Jenis Perlengkapan Renang dan Fungsinya
Mila Yefriza · 21 Sep 2026

