Jakarta – Kelompok pemberontak Myanmar, 7 Februari 2022, mengatakan pasukan junta militer menyerang pejuangnya. Mereka menilai itu adalah pelanggaran gencatan senjata dan menuduh militer hendak mengacaukan satu-satunya wilayah yang tidak mengalami tindak kekerasan pascakudeta.
Myanmar kisruh sejak kudeta Februari lalu. Tindakan brutal terhadap pembangkang terjadi dan pertempuran yang melibatkan organisasi etnis bersenjata di perbatasan meningkat.
Beberapa hari setelah kudeta, junta menegaskan kembali komitmen untuk gencatan senjata dengan Tentara Arakan (AA), yang telah bertahun-tahun berperang untuk otonomi bagi penduduk etnis Rakhine di negara bagian Rakhine. Pada Jumat, 4 Februari 2022, pasukan junta memasuki kubu AA di Maungdaw, memicu bentrokan selama tiga jam, kata juru bicara kelompok itu kepada Kantor Berita AFP. Ia menambahkan bahwa seorang pejuangnya tewas.
Seorang juru bicara junta mengatakan sejumlah polisi perbatasan tewas dalam serangan ranjau pada 4 Februari 2022. Mereka menyalahkan kelompok pemberontak Rohingya setempat atas serangan itu.

Negara bagian Rakhine, rumah bagi Rohingya dan etnis Rakhine yang mayoritas Buddha, telah menjadi sumber konflik dalam puluhan tahun.
Militer mengusir lebih dari 740.000 Muslim Rohingya dari negara bagian itu dalam serangan 2017 yang disebut penyelidik PBB sebagai genosida.
Organisasi hak asasi manusia (HAM) juga menuduh tentara melakukan kejahatan perang termasuk pembunuhan di luar proses hukum dalam kampanye mereka selanjutnya melawan AA (ka/uh)/AFP/voaindonesia.com. []
Pemerintah Bayangan Myanmar Pamerkan Pasukan dan Senjata
Sejak Kudeta Jutaan Warga Myanmar Hidup dalam Kesusahan
Sejak Kudeta Lebih dari 800 Tewas oleh Pasukan Junta Myanmar
AS dan Inggris Prihatin Terkait Pertikaian di Myanmar