TAGAR.id, Jakarta - Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100GWp tahap pertama. Peresmian dilakukan di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana pada Selasa (25/8).
"Dengan ini secara resmi, saya luncurkan Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya 100 GWp. Diawali dengan 14 PLTS di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau berkapasitas total 5,3 GWp," kata Prabowo di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8).
Pantauan Kumparan, Presiden Prabowo tiba dengan menggunakan helikopter pada pukul 15.06 WITA. Bersama dengannya, hadir pula sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Presiden Prabowo menyebut saat ini jumlah listrik di Indonesia adalah 88 GWp yang bersumber dari batubara, minyak bumi, gas alam, serta geothermal. Namun, Presiden Prabowo menargetkan untuk membangun listrik dari tenaga surya sebanyak 100 GWp dalam 3 tahun.
"Kita tidak main-main, target kita adalah 100 GWp dalam tiga tahun," ucapnya.
Terkait dengan hal tersebut, Presiden Prabowo bahkan sempat menanyakan kesediaan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kepala Pelaksana Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Menko Ekonomi Airlangga Hartarto, Dirut PLN Darmawan Prasodjo, dan Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri.
"Siap, bisa," jawab seluruhnya.
Menurut Presiden Prabowo, dengan adanya 100 GWp yang bersumber dari energi surya, Indonesia dapat menjadi negara yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas alam dari negara lainnya.
"Kita tidak boleh impor lagi. Satu barel pun minyak, kita tidak boleh impor lagi. InsyaAllah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi," tegas Presiden Prabowo.
Bahlil mengatakan, total investasi untuk pemasangan PLTS sebanyak 100 GWp di seluruh Indonesia adalah kurang lebih 73 miliar USD atau setara dengan Rp1.140 triliun. Namun, efisiensi terhadap subsidi yang bisa didapatkan adalah Rp73,9 triliun.
"Bisa menciptakan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja," terang Bahlil.
Pada groundbreaking tahap pertama, PLTS yang disiapkan mampu menghasilkan listrik sebanyak 5,3 GWp, sementara untuk Bali adalah 1000 MWp ditambah dengan baterai.
"Selain daripada itu, kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO² per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp 6,31 triliun," jelasnya.
Setelah peluncurannya, Bahlil mengatakan program PLTS tersebut akan dilakukan secara masif dan dibagi menjadi 3 tahun. Selain itu, program 100 GWp tersebut juga menargetkan desa-desa yang belum memiliki listrik.
"Kita akan penetrasi dengan program 100 GWp dan listrik masuk desa agar semuanya bisa ada listriknya," ungkap Bahlil.
Bahlil menambahkan, seluruh PLTS akan dibangun di atas tanah negara, termasuk PLTS 1000 MWp yang ada di Bali.