Jakarta - Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai proposal yang diajukan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bisa melandasi perundingan damai di Ukraina. Menurutnya, perang antara NATO dan Rusia cuma akan menghasilkan pecundang
Presiden Macron, dalam lawatannya di Moskow, Rusia, 7 Februari 2022, berharap pertemuannya dengan Presiden Putin akan membantu meredakan ketegangan di Ukraina. Dia menggarisbawahi tanggungjawab semua pihak untuk menjamin perdamaian.
"Diskusi ini bisa menjadi awal menuju sasaran kita bersama, yakni de-eskalasi,” kata Macron di awal pertemuan.
Dia berharap Putin mau bekerjasama "menghindari perang” dan "membangun rasa saling percaya, stabilitas dan visibilitas bagi semua orang.” Untuk itu, Macron mengajukan proposal peta jalan damai yang mengandung "jaminan keamanan konkret” bagi Rusia.
Konvoi militer Rusia dikerahkan di Krimea, dekat Ukraina, 19 Januari 2022 (Foto: voaindonesia.com/AP)
Proposal tersebut mengajukan prasyarat inisiatif kedua pihak untuk tidak mengambil langkah militer baru, membuat dialog strategis dan upaya menghidupkan perundingan damai di Donbass, antara pemberontak pro-Rusia dan pemerintah Ukraina.
"Presiden Putin menjamin kepada saya bahwa dia siap mendukung dan mempertahankan stabilitas, serta keutuhan wilayah Ukraina,” kata Macron lebih lanjut.
"Eropa tidak akan aman jika Rusia tidak aman,” imbuh presiden Prancis ini. Namun begitu, Macron menegaskan keinginan Rusia mendorong terbentuknya tatanan keamanan baru di Eropa, tidak bisa dicapai dengan mengharamkan hak Ukraina atau Georgia untuk bergabung dengan NATO.
Mobilisasi pasukan Rusia di perbatasan dekat Ukraina (Foto: dw.com/id)
Apa yang dikatakan Putin?
Presiden Rusia mengakui dia berbagi kekhawatiran yang sama dengan Paris seputar situasi keamanan di Eropa, dan juga menegaskan bahwa Prancis berusaha membantu meredakan ketegangan di Ukraina sudah sejak beberapa tahun.
Putin mengatakan pertemuannya dengan Macron berguna, substantif dan berorientasi bisnis. Menurut presiden Rusia ini, gagasan Macron "realistis” dan bisa melandasi sikap bersama untuk mengawali putaran damai di Ukraina.
Dia juga berharap agar situasi di Ukraina bisa diselesaikan secara damai, dan bahwa "Rusia akan melakukan semua hal untuk mencapai kompromi dengan barat.”
Namun begitu Putin mengancam jika Ukraina bergabung dengan NATO dan berusaha merebut kembali wilayah Krimea, negara-negara Eropa akan terseret ke dalam konflik bersenjata dengan Rusia. Skenario tersebut "tidak punya pemenang,” katanya.
Putin menuduh NATO menempatkan Rusia dalam posisi "musuh,” Dia menolak asumsi bahwa aliansi yang dibentuk AS dan Eropa adalah semata pakta pertahanan, dengan merujuk pada kampanye militer yang dilancarkan NATO di Irak, Libya, Afganistan dan Yugoslavia.

Merespons kritik terkait mobilisasi militer Rusia di perbatasan Ukraina, Putin mengatakan "NATO ingin mengajari kami tentang pergerakan pasukan di wilayah kami sendiri dan menggambarkannya sebagai ancaman invasi Rusia terhadap Ukraina.”
Preside Rusia itu bahkan balik menuduh NATO "memindahkan infrastruktur militer mendekati perbatasan Rusia,” dan memperkuat militer Ukraina dengan persenjataan dan pelatihan [rzn/as (ap, afp)]/dw.com/id. []
Presiden Macron Temui Putin untuk Misi Diplomatik Berisiko Tinggi
NATO Tidak Akan Kirim Pasukan ke Ukraina
DK PBB Bahas Penumpukan Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina
Pasukan Ukraina Latih Sukarelawan untuk Hadapi Perang