UNTUK INDONESIA
Semangat Baja Pekerja Yogyakarta Saat Wabah Corona
Mereka tidak mengenal work from home. Di tengah merebak virus Corona, mereka tetap bekerja di luar rumah.
Seorang pengamen jalanan di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Cacae, 47 tahun, pada Senin, 23 Maret 2020, berharap wabah Corona segera dapat diatasi oleh pemerintah. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Pengamen paruh baya bertopi hitam itu melangkah menyusuri trotoar di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta. Langkahnya pelan dari arah selatan. Tangan kirinya memegang handel gitar yang berayun seiring pijakan kakinya di trotoar pusat Kota Gudeg.

Langkah pengamen bernama Cacae, 47 tahun, terhenti sekitar dua meter dari tempat duduk seorang gadis berhijab. Sebagian wajah gadis itu tertutup oleh masker. Hanya nampak sepasang mata beningnya yang menatap Cacae. Sesekali dia memainkan ponselnya.

Setelah menyapa, memberi salam dan meminta izin untuk bernyanyi, Cacae mulai memainkan gitar akustiknya. Suara seraknya mengalun mengisi ruang dengar orang-orang di sekitarnya, Senin, 23 Maret 2020 siang. Entah lagu apa yang dinyanyikan, tapi nada gitar dan suara Cacae terdengar merdu.

Suasana kawasan Malioboro siang itu cukup sunyi. Hanya tiga orang duduk di kursi warung angkringan di belakang Cacae berdiri. Pengunjung yang berlalu lalang pun bisa dihitung dengan jari.

Satu lagu selesai dinyanyikan oleh Cacae. Dia melangkah mendekati gadis bermata bening yang duduk di kursi. Si gadis membuka laci tas kecilnya, lalu menyodorkan uang Rp 2 ribu pada Cacae.

Matahari siang tak terlalu terik bersinar. Bahkan mendung kelabu sedikit demi sedikit bergeser menutupi kawasan itu, menemani langkah Cacae menjual suara dan keterampilannya memainkan gitar.

Tetap Bersyukur

Cacae mengaku bahwa sejak isu wabah virus Corona atau Covid-19 merebak, penghasilannya jauh berkurang. Penurunannya mencapai lebih dari 50 persen dari hari-hari sebelum wabah menyerang.

"Selama seminggu ini sepi banget, Mas. Pengaruh bener. Masalahe nggak ada yang datang. Pengunjung juga kan pada takut, katakanlah ada batasan-batasan bahwa di sini banyak obyek wisata yang tutup. Penghasilan turun drastis, tapi tetap disyukuri," jelasnya.

Cacae mengaku selama ini dia harus mengamen di jalan. Dia tidak terlalu khawatir dengan merebaknya Covid-19. Langkah antisipasi untuk pencegahan agar tak tertular adalah menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

Selama seminggu ini sepi banget, Mas. Pengaruh bener.

"Nek antisipasine nek kulo (kalau langkah antisipasinya) saya salat lima waktu, percaya pada Allah. Sakit, mati, hidup, rezeki itu urusan Allah. Jaga kesehatan. Nggak takut, jaga kesehatan aja mas, sering minum Imunos atau vitamin C, udah gitu aja," tuturnya.

Dia berharap agar wabah Covid-19 tersebut cepat usai, karena imbasnya mengenai seluruh lapisan masyarakat.

"Harapannya semoga wabah Corona ini cepat selesai, karena seluruh masyarakat terimbas. Coba aja dilihat, orang yang punya anak buah. Anak buahnya libur, bosnya bisa makan tapi kan anak buahnya digaji harian, kalau nggak kerja nggak dapat bayaran," kata dia sambil bersiap melanjutkan perjalanannya.

Langkah antisipasi yang hampir sama juga dilakukan oleh seorang penjaga toilet di Pasar Legi, Yogyakarta, Didi, 44 tahun

Saat ditemui di depan toilet Pasar Legi, Senin, 23 Maret 2020, Didi sedang duduk di belakang meja kasir. Di depannya, sejumlah pembeli sayur sedang bertransaksi dengan pedagang.

Kata Didi, dia bukan satu-satunya penjaga toilet di situ. Pihak pengelola menerapkan sistem rolling untuk menjaga toilet. Setiap pekan penjaganya berganti.

"Di sini kan sistemnya rolling, saya baru masuk minggu ini. Yang saya rasakan ya memang ada perubahan dari segi orang belanja, pedagang, hari ini aja agak menurun. Pedagang banyak yang libur, pengunjung juga biasanya dari pagi agak lumayan tapi hari ini saya kaget, penurunannya sampai 75 persen," jelasnya.

penjaga toilet pasar legi yogyakartaSeorang penjaga toilet di Pasar Legi, Yogyakarta, Didi, 44 tahun, pada Senin, 23 Maret 2020, mengaku penghasilannya menurun sejak wabah Covid-19 merebak. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Beruntung Didi mempunyai pekerjaan lain selain menjadi penjaga toilet. Dia menjual Tahu Sumedang di kawasan Ring Road Selatan Yogyakarta. Dia menjual di salah satu perempatan.

Tapi, hasil dari penjualan Tahu Sumedang selama dua pekan terakhir juga mengalami penurunan. Tidak jauh beda dengan pengguna toilet di Pasar Legi.

"Kalau nggak jaga di sini saya jualan Tahu Sumedang di lampu merah ring road. Turunnya drastis sekali, Mas. Biasanya hari Sabtu dan Minggu itu jadi andalan. Tapi kemarin saya merasa kaget juga. Turun sampai 50 persen," katanya. 

Bahkan, kata dia, kemarin sisanya banyak sekali. Tidak ada pengunjung dan setiap lampu merah mobil itu jarang. "Paling banyak ada tiga mobil. Itu pengaruh banget," keluhnya.

Mengenai kekhawatirannya tentang penularan virus Corona, Didi mengaku sudah mengantisipasi. Salah satunya dengan mengenakan masker. Meski sebelum wabah Corona merebak, dia sudah sering mengenakan masker karena aktivitasnya di jalanan.

Biasanya hari Sabtu dan Minggu itu jadi andalan. Tapi kemarin saya merasa kaget juga.

"Sebelum ada Corona, kalau di jalan masker tetap pakai. Bukan cuma untuk Corona, untuk kesehatan juga, kayak debu. Jadi saya juga tetap menjaga kesehatan saya walaupun di jalan. Apalagi banyak asap knalpot," ungkapnya.

Didi herharap agar pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, dapat segera mengatasi wabah ini. Sebab hampir semua orang terkena imbasnya, termasuk para pedagang.

"Saran saya pemerintah setempat juga bisa menangani biar ekonomi masyarakat kembali seperti semula. Tidak terkatung-katung seperti ini," tuturnya.

Didi mengaku paham dengan imbauan pemerintah tentang social distancing, termasuk imbauan untuk tetap berada di rumah. Namun, situasi terkadang mengharuskan beberapa orang harus terus bekerja di jalanan.

"Kadang orang mau pergi juga ragu, khawatir, itu kan harus tinggal di rumah. Masa mau tinggal terus di rumah, apa nggak butuh makan? Mau nggak mau seperti saya juga tidak boleh takut. Ini sudah ada yang atur," ungkapnya.

Didi mengaku juga menghidupi keluarga. "Punya anak dua, mau nggak mau harus turun ke jalanan, ke lapangan untuk mencari nafkah," tuturnya.

Bekerja Diliputi Rasa Waswas

Penurunan pendapatan juga dirasakan oleh seorang pengemudi ojek daring atau online (ojol), Andri, 25 tahun. Saat ditemui, Andri sedang berteduh di salah satu mini market di kawasan Kuncen, Yogyakarta.

Penghasilannya menurun hingga 50 persen dari hari biasanya. Meski demikian, Andri tetap melakukan aktivitasnya sebagai pengemudi ojol, walaupun terkadang dia merasa waswas.

"Turun sampai 50 persenan. Sehari nariknya nggak pasti, tapi turun. Takut? Yang penting kita safety aja, pakai masker kalau di keramaian, sering cuci tangan dan kalau sakit ya nggak bakal keluar. Kalau kekhawatiran pasti tetap ada," ucapnya.

ojol yogyakartaAndri, 25 tahun, seorang pengemudi ojek online duduk di emperan salah satu minimarket di Yogyakarta, Senin, 23 Maret 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Andri mengaku bahwa menjadi ojol hanya merupakan pekerjaan sampingan. Pekerjaan pokoknya adalah karyawan salah satu pabrik di Yogyakarta. Tapi yang membuatnya khawatir terpapar Covid-19 adalah pekerjaannya sebagai ojol.

Sehari nariknya nggak pasti, tapi turun.

"Kalau di pabrik nggak khawatir ketularan Corona. Kalau pas kerja pakai masker, tapi kalau nggak kerja ya nggak. Kalau di lapangan khawatir karena kan penumpangnya kita nggak tahu dari mana. Saya nge-Grab biasanya dari jam 10 sampai sore, paling jam 3 pulang," tuturnya.

Andri menjelaskan, dirinya sebisa mungkin mengikuti imbauan pemerintah tentang social distancing, yakni dengan menjaga jarak saat berada di keramaian. Tapi, sebagai pengemudi ojol, dia tidak mungkin bisa menjaga jarak dengan penumpangnya.

Itu membuatnya lebih menjaga diri dan ketahanan tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat, juga mengonsumsi vitamin penambah daya tahan tubuh. []

Baca Juga:

Berita terkait
Cerita Wali Kota Bima Arya Positif Terinfeksi Corona
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto positif terinfeksi virus corona bercerita tentang itu.
Kisah Pria asal Pakistan Mengemis Dua Hari di Bantul
Seorang warga Pakistan mengemis dua hari di Bantul, Yogyakarta. Warga resah dan petugas menangkapnya.
Kisah Relawan Peramu Cairan Pencegah Corona di Jakarta
Siang itu di bawah lampu neon yang bergantung di langit-langit laboratorium Salemba, 12 relawan berjas putih meramu cairan pencegah corona.
0
Semangat Baja Pekerja Yogyakarta Saat Wabah Corona
Mereka tidak mengenal work from home. Di tengah merebak virus Corona, mereka tetap bekerja di luar rumah.