Terombang-ambing Dalam Kapal di Kawasan Selat Sunda

Pada malam kejadian tsunami di kawasan Selat Sunda, Helen sedang berada di Terminal Merak, 300 meter dari Pelabuhan Merak.
Ilustrasi kapal dihantam ombak besar di tengah lautan. (Foto: Sport Tourism)

Jakarta, (Tagar 30/12/2018) -  Helen dan Reza sedang berada di Terminal Merak ketika gelombang tsunami dahsyat terjadi pada Sabtu malam 22 Desember 2018 pukul 21.30 WIB di kawasan Selat Sunda. Terminal Merak berjarak 300 meter dari Pelabuhan Merak.

Keduanya adalah backpacker yang ingin menikmati liburan singkat, sehari di Pulau Pahawang, Lampung.

Helen sehari-hari bekerja sebagai perawat luka bakar di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Ia menceritakan pengalamannya yang mendebarkan kepada Tagar News, tiga jam terombang-ambing dalam kapal di kawasan Selat Sunda.

Pada hari itu, Sabtu (22/12) pukul 18.00 WIB Helen dan Reza berangkat menggunakan bus dari Slipi Jaya, dan tiba di Terminal Merak pukul 21.00 WIB.

Tiga jam dalam perjalanan, keduanya disergap lapar. Sampai di terminal, pertama yang mereka cari adalah warung makanan. 

Helen dan Reza makan pecel lele sambil menunggu Balqis, seorang teman backpacker yang masih dalam perjalanan dari terminal Kampung Rambutan.

Pukul 21.30 WIB

Saat menyantap pecel lele yang masih panas, sekitar pukul 21.30 WIB keduanya melihat banyak orang berlarian dari arah pelabuhan, sedang dikejar-kejar angin kencang. Mobil dan motor putar balik semua. 

Orang-orang yang ada di warung juga disuruh keluar, menjauh dari pelabuhan.

"Tapi kita santai aja lanjut makan," kata Helen kepada Tagar News di Jakarta, Jumat (28/12).

"Ternyata Balqis busnya ditahan, dipaksa balik ke Jakarta. Tapi, kami tetap nekat," lanjutnya.

Bermodal nekat, keyakinan yang kuat dan perasaan ketar-ketir dibumbui rasa ragu-ragu, Helen dan Reza tetap menjalankan rencananya tanpa Balqis. 

Pukul 02.00 WIB angin kencang sudah reda, Helen dan Reza naik kapal ferry untuk menyeberangi Selat Sunda.

Ombak Besar Hantam Badan Kapal

Pukul 03.00 WIB darrr... derrr... dorrr... suara ombak besar dan angin kencang menghantam badan kapal. Para penumpang di dalamnya termasuk Helen dan Reza terombang-ombang terbawa gerakan kapal yang sporadis.

"Kapalnya jalan sambil goyang ke kiri ke kanan. Kalau mati saat itu juga... ikhlas aja udah," tutur Helen dengan tenggorokan tercekat.

Helen mengatakan, sebelum kapal melaju lebih jauh, ia sempat melihat air laut surut sekitar lima meter. Menurutnya gelombang tsunami tiba-tiba beralih ke daerah Anyer. 

Ia mengatakan kalau gelombangnya di laut maka nyawa penumpang ferry pun akan habis disapu gelombang tsunami tersebut.

"Mungkin aku udah mati," katanya bernada pasrah.

Pada saat itu kapal penuh dengan penumpang, sampai untuk duduk pun susah. Kapal juga memuat mobil dan motor.

Bibir-bibir Terbungkam

Dalam kondisi terombang-ambing hebat, kata Helen, tak ada penumpang yang pingsan. Dalam sergapan ketakutan, bibir mereka terbungkam, hanya bisa memandang ke arah mana kapal digoyang ombak.

"Pada diam, bengong saking takutnya," kata Helen dengan nada trauma.

Helen masih ingat, pada saat itu semua penumpang sangat resah, berharap segera sampai tujuan.

Saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 05.00 WIB, kapal bersiap untuk berlabuh. Helen melihat petunjuk google maps, kapal telah tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. 

"Nah, pas 05.00 pas, kita iseng tuh cek google maps, trus muncul notif kita sudah sampai di pelabuhan dan rasanya tuh mau bunuh diri," tuturnya seraya merasa lega.

Helen mengatakan mereka menghabiskan satu hari, Minggu (23/12) di Pulau Pahawang kemudian kembali ke Jakarta, karena keesokan harinya, Senin, harus kembali bekerja. []

Berita terkait
0
Kapolri: Sinergitas TNI-Polri Harga Mati Wujudkan Indonesia Emas 2045
Kapolri menekankan penguatan sinergitas TNI-Polri menjadi salah satu kunci utama dalam menyukseskan dan mewujudkan visi Indonesia Emas.