Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan tidak akan melakukan kebijakan lockdown wilayah untuk menghentikan penyebaran virus corona penyebab penyakit Covid-19. Ia khawatir lockdown akan berdampak buruk terhadap ekonomi. Ia lebih memilih membuat protokol pencegahan corona di Surabaya.
"Bahwa, lockdown enggak akan, makanya kita lalukan pencegahan ini, membuat protokol supaya tidak lockdown," kata Risma di Graha Sawunggaling, Surabaya, Senin, 16 Maret 2020.
"Karena kalau lockdown, ekonomi bisa kolaps, itu jauh lebih berat, karena tidak semua orang pendapatannya bulanan. Ada yang harian dan itu bahaya kalau enggak dapat pemasukan," ujarnya.
Situasi kasus corona Covid-19 di Surabaya hingga Rabu, 8 April 2020, terkonfirmasi positif 84 orang, pasien dalam pengawasan atau PDP 416 orang, dan orang dalam pemantauan atau ODP 1056 orang.
Profil Tri Rismaharini
Tri Rismaharini atau biasa dipanggil Risma lahir di Kediri, Jawa Timur pada 20 November 1961. Ia adalah anak perempuan dari pasangan M Chuzuzaini dan Siti Muajiatun. Tri Rismaharini menikah dengan Ir. Djoko Saptoadji. Dari perkawinan itu ia dikaruniai dua anak, Fuad Bernardi dan Tantri Gunarni Saptoadji.
Ayah Risma merupakan PNS di kantor pajak untuk mencukupi kehidupan keluarga dan empat saudaranya yang lain. Keuletan dan kegigihan sang ayah ternyata menginspirasi kepribadian Risma.
Kalau lockdown, ekonomi bisa kolaps, itu jauh lebih berat.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. (Foto: Humas Pemkot Surabaya/Tagar/Ihwan Fajar)
Risma menempuh pendidikan di SD Negeri Kediri. Kemudian melanjutkan di SMP Negeri 10 Surabaya pada tahun 1976. Setamat SMP, ia meneruskan ke SMA 5 Surabaya. Di masa SMA ini Risma mengikuti kegiatan olahraga lari untuk mengantisipasi penyakit asma yang dia derita.
Karena sering mengikuti lomba dan mewakili sekolah, Risma mendapat dispensasi dari untuk masuk sekolah lebih siang dikarenakan ia harus berlatih lari di pagi harinya. Setelah lulus SMA, Risma memilih untuk meneruskan pendidikan di jurusan arsitek di Instititut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan selanjutnya langsung mengambil S2 jurusan Manajemen Pembangunan Kota di kampus yang sama.
Menjadi PNS dan Berlanjut Wali Kota
Risma memilih menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pemerintah kota Surabaya. Hingga akhirnya ia menjabat sebagai Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Surabaya. Setelah itu, dia menjadi Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Disbang serta Kepala Cabang Dinas Pertamanan.
Ketegasan, ketulusan dan kebersihan kariernya sebagai birokrat mengundang PDIP mencalonkannya dalam Pilkada 2010. Ia terpilih pada usia 49 tahun menjadi Wali Kota Surabaya periode 2010-2015. Pemilu selanjutnya ia kembali terpilih untuk periode keduanya.
Sejak menjadi pemimpin Kota Pahlawan tersebut, Kota Surabaya mendapatkan sejumlah penghargaan dari berbagai kategori. Hal itu selaras juga dengan Risma sebagai wali kota yang juga mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya pada tahun 2014 Risma mendapat penghargaan "Mayor of the Month' dan di tahun 2015 menjadi wali kota terbaik ke-3 di dunia. Dan pada pemilihan wali kota berikutnya ia kembali menang untuk periode 2015-2020.
Keluarga
- Ir. Djoko Saptoadji (Suami)
- Fuad Bernardi (Anak)
- Tantri Gunarni Saptoadji (Anak)
Pendidikan
- SMP Negeri X Surabaya, 1976
- SMU Negeri V Surabaya, 1980
- S1, Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), 1987
- S2, Manajemen Pembangunan Kota Surabaya ITS, 2002
Karier
- Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bappeko Surabaya,1997-2000
- Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Disbang, 2001
- Kepala Cabang Dinas Pertamanan, 2001
- Kepala Bagian Bina Bangunan, 2002
- Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, 2005
- Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, 2010
- Wali Kota Surabaya, 2010-2015, 2015-2020
Penghargaan
- Mayor of the Month atau wali kota terbaik di dunia, 2014
- Walikota terbaik ke-3 di Dunia, 2015. []
Baca juga: