TAGAR.id - Terapi vaksin eksperimental memberi harapan bagi pasien tumor otak yang selama ini sulit disembuhkan. Hasil studi menunjukkan terapi ini berpotensi memperlambat perkembangan kanker dan memperpanjang harapan hidup pasien. Julia Vergin* melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 9/7/2026).
Tumor otak merupakan salah satu jenis kanker yang paling sulit diobati. Bahkan tumor yang dapat dioperasi pun jarang bisa diangkat sepenuhnya melalui pembedahan. Karena itu, pasien umumnya juga menjalani kemoterapi dan radioterapi. Meski demikian, penderita tumor otak yang agresif sering kali hanya bertahan hidup tidak lebih dari lima tahun setelah didiagnosis.
Dalam sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari German Cancer Research Center, University Medical Center Mannheim, Heidelberg University Hospital, dan sejumlah lembaga penelitian lainnya, sebanyak 33 pasien juga menerima vaksin eksperimental.
Delapan tahun kemudian, tim peneliti mempublikasikan hasil pemantauan jangka panjang tersebut di jurnal Nature. Hasilnya memberikan alasan untuk optimistis secara hati-hati: sebanyak 66% peserta penelitian masih hidup setelah delapan tahun, sementara pada 42% peserta, tumor tidak tumbuh kembali selama periode tersebut.
Salah satu penulis utama studi, Michael Platten, yang merupakan direktur Departemen Neurologi di University Medical Center Mannheim sekaligus kepala divisi penelitian di German Cancer Research Center, mengatakan bahwa dirinya sangat terkejut karena tumor tidak kambuh pada proporsi pasien yang begitu besar dalam jangka waktu yang begitu lama.
Vaksin ini bukan untuk mencegah kanker
Vaksin umumnya dikenal sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit, seperti campak, gondongan, atau COVID-19. Vaksin jenis ini membantu tubuh mencegah infeksi atau melatih sistem kekebalan agar penyakit yang muncul menjadi lebih ringan. Jenis tersebut dikenal sebagai vaksin preventif.
Sebaliknya, vaksin terapeutik dirancang untuk menghancurkan tumor dengan mengaktifkan sistem imun tubuh. Pada terapi yang dikembangkan Platten dan timnya, vaksin menargetkan mutasi genetik yang hanya ditemukan pada jenis tumor otak tertentu. Seluruh 33 peserta penelitian menderita astrocytoma derajat tinggi, yaitu tumor otak yang sangat agresif dan berisiko tinggi kambuh setelah pengobatan.
Melatih sistem imun menyerang sel tumor
Astrocytoma merupakan salah satu tumor paling umum pada sistem saraf pusat, yang mencakup otak dan sumsum tulang belakang. Tumor ini dibagi menjadi empat tingkat keganasan, mulai dari yang kurang agresif hingga sangat agresif. Astrocytoma derajat tiga dan empat memiliki mutasi genetik tertentu yang menjadi sasaran vaksin tersebut.
Dalam siaran persnya, German Cancer Research Center menjelaskan bahwa kesalahan genetik yang sama menyebabkan pergantian satu asam amino pada enzim IDH1. Perubahan ini menghasilkan struktur protein baru yang disebut neoepitop.
Keunikan neoepitop adalah bahwa, di satu sisi, ia mendorong pertumbuhan tumor, tetapi di sisi lain ia dikenali sebagai benda asing oleh sistem kekebalan pasien. Hal itu menjadikannya target yang ideal untuk imunoterapi.
Vaksin yang diuji dalam penelitian ini mengaktifkan sistem kekebalan melalui dua mekanisme sekaligus. Pertama, vaksin merangsang pembentukan sel T yang secara langsung menyerang sel-sel abnormal. Kedua, vaksin memicu pembentukan sel B yang menghasilkan antibodi untuk melawan tumor.
Tujuan terapi ini adalah mencegah tumor kambuh setelah pasien menyelesaikan pengobatan standar berupa radioterapi dan kemoterapi, kata Platten.
Ulrich Herrlinger, direktur neuro-onkologi di University Hospital Bonn yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai hasil penelitian ini memberikan peluang nyata bagi pasien dan dunia medis.
Menurut Herrlinger, astrocytoma derajat tinggi memiliki kemungkinan hampir 100% untuk kambuh, terus berkembang, dan pada akhirnya menjadi tidak dapat diobati. Hingga kini para peneliti juga belum mengetahui penyebab munculnya tumor tersebut.
“Tidak ada yang tahu mengapa penyakit ini menyerang seseorang tertentu,” ujarnya.
Karena itu, penelitian Platten memberi harapan baru. “Jika kita mampu menjaga sistem kekebalan tetap aktif secara permanen, maka ada harapan tumor dapat ditekan dalam jangka panjang,” katanya.
Studi lanjutan dimulai pada 2027
Meski demikian, Herrlinger maupun Platten sama-sama mengingatkan agar hasil penelitian ini tidak ditafsirkan secara berlebihan.
“Anda tidak bisa menarik kesimpulan yang kuat hanya dari 33 pasien,” kata Herrlinger. Menurutnya, langkah berikutnya harus berupa uji klinis acak dan terkontrol.
Studi lanjutan tersebut telah direncanakan. Penelitian yang akan melibatkan lebih dari 200 pasien dijadwalkan akan dimulai pada Maret 2027, kata Platten.
“Hari ini kita berbicara tentang periode sekitar sembilan tahun sebelum benar-benar memperoleh hasil yang dapat diandalkan dari penelitian tersebut,” ujarnya.
Baru setelah itu para peneliti akan mengetahui seberapa efektif vaksin ini sebenarnya, serta apakah pemberian dosis penguat (booster) dapat memperkuat respons sistem kekebalan tubuh.
Meski begitu, Platten menilai hasil penelitian saat ini sudah cukup untuk memunculkan optimisme yang perlu dipertimbangkan. “Harapan adalah sesuatu yang tidak pernah terlalu banyak dimiliki manusia,” katanya. (Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman/Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Rahka Susanto/Editor: Ayu Purwaningsih)/dw.com/id. [*]
* Julia Vergin Editor senior dan pemimpin tim Science online.