TAGAR MISTERI
jangan dibaca sendirian
malam ini, seseorang menceritakan kisahnya
Cerita yang membuatmumenoleh ke belakang.
Kisah-kisah gelap dari pelosok Indonesia — diangkat menjadi cerita berseri yang akan menemanimu jauh setelah lampu padam. Baca pelan-pelan. Rasakan ada yang ikut membaca di belakangmu.
Arsip Kisah
diperbarui setiap malam
20 story · 20 siap dibaca
Ketukan Ketiga
Selama hampir seminggu tinggal sendirian di sebuah kamar kos tua, Arga selalu terbangun pada pukul 03.17 dini hari karena suara ketukan di pintunya. Tiga kali. Selalu tiga kali, dengan jeda yang sama, seolah-olah seseorang di luar sana sedang menjalankan kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Awalnya, Arga mengira itu ulah penghuni kos lain yang mabuk atau salah kamar. Namun, setiap kali ia mengintip melalui lubang pintu, lorong selalu kosong. Tidak ada langkah kaki yang menjauh, tidak ada pintu tetangga yang terbuka, bahkan lampu lorong pun terkadang mati tepat setelah ketukan terakhir terdengar. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Arga memasang kamera kecil di depan pintu untuk merekam siapa pun yang datang malam-malam. Keesokan paginya, rekaman itu memperlihatkan sesuatu yang membuatnya sulit bernapas: tepat pukul 03.17, seorang pria berdiri di depan pintunya, mengetuk tiga kali, lalu menempelkan wajah ke lubang kunci. Namun, bagian paling mengerikan bukanlah wajah pria itu. Pria tersebut memiliki wajah yang persis sama dengan Arga. Sejak malam itu, ketukan mulai terdengar bukan hanya dari pintu kamar, tetapi juga dari dalam lemari, bawah tempat tidur, dan dinding yang berbatasan dengan kamar kosong. Rekaman kamera berikutnya bahkan menunjukkan Arga sendiri berdiri di lorong, padahal sepanjang malam ia merasa tidak pernah meninggalkan tempat tidurnya. Ketika akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu pada ketukan ketiga, Arga menemukan sebuah lorong yang berbeda dari lorong kos yang selama ini dikenalnya. Di ujungnya, seorang pria berdiri membelakanginya sambil memegang kunci kamar. Pria itu menoleh perlahan dan berkata, "Akhirnya kamu mau membukakan pintu. Sekarang, giliranku masuk."

24 story · 24 siap dibaca
Solo Camping di Hutan Terlarang
Keinginan untuk mencari ketenangan membuat seorang pria memutuskan melakukan solo camping di sebuah hutan yang jauh dari permukiman penduduk. Ia memilih tempat tersebut karena keindahan alamnya dan suasananya yang masih alami. Berbekal tenda, perlengkapan bertahan hidup, dan sebuah kamera untuk merekam perjalanannya, ia memulai petualangan yang awalnya terasa menyenangkan. Namun, ketika malam mulai menyelimuti hutan, suasana perlahan berubah. Suara ranting patah terdengar dari balik pepohonan, disusul langkah kaki yang seolah mengitari tendanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah suara binatang liar. Akan tetapi, ketika menemukan jejak kaki asing tepat di depan tendanya, ia mulai menyadari bahwa dirinya mungkin tidak benar-benar sendirian. Kejadian demi kejadian semakin sulit dijelaskan. Api unggunnya tiba-tiba padam tanpa sebab, suara seseorang memanggil namanya terdengar dari dalam hutan, dan sosok misterius terlihat berdiri di antara pepohonan setiap kali ia menyorotkan senter ke arah suara tersebut. Puncak ketakutan terjadi menjelang tengah malam, ketika ia mendengar seseorang membuka ritsleting tendanya dari luar. Ia membeku dalam kegelapan, berusaha menahan napas, sementara suara langkah perlahan mendekat ke tempat kepalanya bersandar. Pagi harinya, ia menemukan sesuatu di sekitar lokasi camping yang membuatnya segera membereskan perlengkapan dan meninggalkan hutan itu tanpa menoleh ke belakang. Namun, pengalaman mengerikan tersebut belum benar-benar berakhir. Ketika memeriksa rekaman kamera yang ia bawa, ia menemukan sosok yang sejak malam pertama ternyata sudah berada di dekat tendanya—jauh sebelum suara langkah kaki itu mulai terdengar. Hingga kini, ia tidak pernah kembali ke tempat tersebut. Dan ada satu hal yang masih menghantuinya: jika malam itu ia benar-benar sendirian di tengah hutan, lalu siapa yang berdiri di luar tendanya?
“Beberapa pintu sebaiknya tidak dibuka. Tapi kita buka juga — minggu depan.”
cerita berikutnya sedang disusun
Tentang Cerita Ini
Cerita-cerita di kanal ini ditulis semata-mata sebagai hiburan. Seluruh kisah di sini tidak teruji kebenarannya dan tidak dapat diverifikasi — tidak ada tokoh, peristiwa, maupun tempat yang disajikan sebagai fakta jurnalistik.
Sumbernya beragam: kiriman pembaca, kisah-kisah yang beredar di masyarakat, dan bahan-bahan lain yang tidak bisa dipastikan keasliannya. Karena itu, cara membacanya sama seperti menonton cerita di televisi atau menikmati tulisan horor di surat kabar dan majalah pada umumnya — untuk hiburan, bukan untuk dipercaya sebagai kejadian nyata.
Punya kisahmu sendiri? Kirimkan pada kami.
Pembaca boleh mengirimkan kisah-kisah horor mereka ke email redaksi [email protected]. Kisah yang masuk akan ditayangkan bila dianggap layak, dan mengantre sesuai banyaknya surat yang masuk. Sabar ya — antreannya bisa panjang, sama seperti daftar mereka yang menunggu.
baca dengan santai · dan jangan lupa lampu tetap menyala