story 4 · episode 5
Yang Kembali Bukan Dirinya
04 menit membaca

Kabar tentang pendaki yang hilang di Hutan Sirewang sudah berhenti dibicarakan orang sebelum aku bahkan tahu hutan itu ada.
Namanya tidak pernah masuk berita besar. Hanya satu kolom kecil di koran daerah, beberapa tahun lalu, lalu hilang ditelan halaman-halaman berikutnya. Aku menemukannya kebetulan, waktu mencari tempat camping yang belum ramai di forum-forum lama. Seseorang menulis koordinat, dan di bawahnya satu kalimat: kalau nekat, jangan lewat warung Bu Sari setelah magrib.
Aku nekat. Tapi aku tidak lewat warung mana pun.
Hutan itu menerimaku dengan cara yang tenang. Terlalu tenang, mungkin, tapi aku sedang tidak ingin memikirkan apa pun. Aku cuma perempuan dua puluh enam tahun yang capek dengan kota, dengan kerjaan, dengan semua suara yang tidak pernah berhenti di kepalaku. Aku butuh hutan. Hutan ini memberikannya.
Setidaknya, sampai aku bertemu dia.
* * *
Jalur itu sempit dan menanjak. Aku berjalan pelan, kamera kecil tergantung di leherku, merekam setiap langkah seperti yang selalu kulakukan — untuk konten, kataku pada diri sendiri, meski aku tahu tidak akan kuunggah ke mana-mana.
Lalu aku melihat seseorang di tikungan.
Pria. Berjalan sendirian, ke arah berlawanan — turun, menuju mulut hutan. Ia memakai jaket hijau tua yang sobekannya terlihat di lengan kanan, dan tas carrier hitam dengan tali merah yang disimpul di sisi kiri. Langkahnya pelan. Berat. Seperti orang yang sudah lama berjalan tanpa tidur.
Aku menepi untuk memberinya jalan. Ia mengangkat kepala, dan tersenyum.
Senyum itu ramah. Hangat, bahkan. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat tengkukku dingin — seperti mata orang yang sudah terlalu lama menatap sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Hati-hati," katanya. Suaranya serak, pelan. "Jangan mendirikan tenda terlalu dekat sungai."
Aku mengangguk. "Kenapa?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lagi, dan berjalan lewat di sampingku.
Ketika ia melewatiku, aku mencium sesuatu. Bau tanah basah. Bau lumut tua yang menempel di kain, bau sesuatu yang sudah lama berada di bawah tanah. Aku menoleh, tapi ia sudah dua langkah di belakangku, dan aku tidak ingin terlihat aneh.
Aku melanjutkan jalan.
* * *
Lalu ia berhenti.
Aku mendengar langkahnya berhenti, dan aku pun berhenti — bukan karena apa-apa, hanya karena refleks. Aku menoleh.
Ia berdiri di tengah jalur, membelakangiku. Punggungnya membungkuk sedikit ke kiri. Bahu kanannya lebih rendah dari bahu kirinya. Ia tidak bergerak, seperti orang yang baru saja ingat sesuatu.
Lalu ia menoleh.
"Kamu sendirian?"
Pertanyaan itu keluar pelan. Sabar. Seperti pertanyaan yang sudah ia siapkan jauh sebelum aku sampai di tikungan itu.
Aku mengangguk.
Dan senyum di wajahnya melebar.
Bukan senyum ramah lagi. Bukan senyum orang lelah yang ingin pulang. Ini senyum yang berbeda — senyum yang datang dari tempat yang lebih dalam dari tenggorokannya, senyum yang membuat matanya menyipit dan kulit di sekitar mulutnya tertarik sampai terlihat giginya.
"Bagus. Berarti malam ini aku punya teman."
Aku tidak menjawab.
Ia berbalik, dan berjalan pergi. Pelan. Santai. Bahu miring, kaki kanan menyeret sedikit. Aku menonton punggungnya sampai ia menghilang di balik tikungan, dan ketika ia benar-benar hilang, aku baru sadar satu hal.
Tanah di jalur itu lembap. Cukup lembap untuk menahan jejak kaki.
Jejakku tercetak jelas di belakangku. Jejak setiap pendaki yang lewat sebelumku juga ada — kusut, dangkal, tapi ada.
Tapi di arah tempat pria itu berjalan pergi, tidak ada satu pun jejak kaki.
* * *
Aku menuruti peringatannya.
Sungai kecil itu ada di sebelah timur jalur, airnya keruh dan diam, dan aku sengaja mendirikan tenda jauh dari sana, di tanah yang lebih tinggi. Aku memasak mie instan, makan sambil menonton matahari tenggelam di balik pepohonan, dan berusaha melupakan pria itu.
Aku gagal.
Malam tiba lebih cepat dari yang kuduga. Hutan Sirewang punya jenis malam yang aneh — gelap yang datang bukan perlahan, tapi seperti tirai yang ditarik dari atas. Jangkrik mulai bernyanyi, katak-katak di tepi sungai saling bersahutan, dan untuk beberapa jam, semuanya terasa normal.
Sampai semuanya berhenti.
Serentak. Jangkrik, katak, angin — semuanya diam dalam satu detik yang sama, seperti ada yang menekan tombol mati pada seluruh hutan.
Aku menahan napas.
Lalu aku mendengarnya.
Langkah kaki. Pelan. Berat. Mengelilingi tendaku dari luar. Satu langkah. Berhenti. Dua langkah. Berhenti.
Aku menggenggam senter di tanganku, dan mencoba mengingat apa yang pria itu katakan. Jangan mendirikan tenda terlalu dekat sungai. Aku sudah menuruti. Aku sudah jauh dari sungai. Jadi kenapa?
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu tendaku.
Aku menunggu suara. Panggilan. Apa pun.
Yang kudengar hanya napas. Panjang. Basah. Jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan.
Lalu sebuah suara — serak, tenang, hampir lembut — berbicara tepat di sisi tenda tempat kepalaku bersandar.
"Aku sudah bilang, jangan dekat sungai."
Aku membeku.
"Tapi kau tidak dekat sungai," lanjutnya, pelan. "Kau dekat aku."
Di luar, langkah itu mulai lagi. Mengelilingi. Satu. Berhenti. Dua. Berhenti.
Dan di dalam tenda, di sudut kegelapan, kamera kecil di leherku menyala sendiri. Lampu rekamnya berkedip merah — sekali, dua kali, tiga kali.
Padahal aku belum menekan tombol apa pun.