TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 1

Ketukan Ketiga

05 menit membaca

Ketukan Ketiga

Ketukan pertama datang pukul 03.17.

Aku masih ingat malam itu — malam kelima aku tidur di kamar kos nomor 7, gang sempit di belakang pasar lama. Kasur tipis, lampu kuning yang berkedip, dan bau kapur yang tidak pernah hilang dari dinding.

Tok.

Aku membuka mata.

Tok.

Aku menahan napas, menunggu suara ketiga. Karena selalu ada yang ketiga.

Tok.

Lalu sunyi. Sunyi yang begitu rapat sampai aku bisa mendengar darah mengalir di telingaku sendiri.

Aku menyalakan lampu. Berjalan ke pintu. Menempelkan mata ke lubang intip.

Lorong kosong.

Lampu neon di ujung lorong berkedip sekali, lalu mati.

* * *

Empat malam sebelumnya, aku mengira itu ulah penghuni lain. Pak Yanto yang sering pulang mabuk. Atau anak kamar 3 yang hobinya salah ketuk. Tapi kamar 3 kosong sejak dua bulan lalu. Dan Pak Yanto tidur di lantai bawah, kakinya bengkak, tidak mungkin naik tangga tengah malam.

Aku pernah bertanya pada Bu Sri, pemilik kos, sore hari saat dia menyiram tanaman.

"Ketukan? Di kamar tujuh?" Dia berhenti menyiram. Air menetes dari ceret, membasahi ubin.

"Iya. Tiap malam, jam tiga lewat sedikit."

Bu Sri menatapku lama. Lalu dia tertawa kecil — tawa yang tidak sampai ke matanya.

"Kamu salah dengar, Mas. Kos ini sepi. Yang tinggal cuma kamu, Pak Yanto, dan kamar dua belas."

Aku tidak bertanya lagi.

* * *

Malam keenam, aku memasang kamera kecil. Murah, bekas, aku rekatkan di sudut langit-langit lorong dengan lakban hitam. Sudut pandangnya tepat menghadap pintuku.

Aku tidur dengan lampu menyala.

Pukul 03.17, ketukan itu datang lagi. Tiga kali. Jeda yang sama. Seperti orang yang sudah melakukannya selama bertahun-tahun.

Aku tidak bangun. Aku hanya menutup mata dan menghitung.

Pagi harinya, aku menonton rekaman itu sambil duduk di lantai, punggung menempel ke dinding. Tanganku dingin.

Di layar, lorong itu gelap. Lampu neon berkedip.

Lalu, pukul 03.17, seorang pria muncul dari sisi kiri frame.

Dia berjalan pelan. Terlalu pelan. Kakinya tidak bersuara.

Dia berhenti di depan pintuku. Mengangkat tangan.

Tok. Tok. Tok.

Lalu dia menunduk. Menempelkan wajahnya ke lubang kunci.

Aku menjatuhkan ponselku.

Wajah itu wajahku.

Rambut yang sama. Bekas luka kecil di alis kanan — bekas jatuh dari sepeda waktu aku kelas lima. Bahkan kaus oblong abu-abu yang sama, yang sedang kupakai saat itu.

Aku menoleh ke cermin. Kausku abu-abu. Bekas lukaku ada di alis kanan.

Aku menonton ulang rekaman itu sebelas kali. Setiap kali, pria di layar menempelkan wajahnya ke lubang kunci, dan setiap kali, matanya menatap tepat ke arah kamera.

Seolah dia tahu aku sedang menonton.

* * *

Malam ketujuh, ketukan itu tidak datang dari pintu.

Tok.

Dari dalam lemari.

Aku duduk tegak di kasur. Lemari kayu itu tua, pintunya bengkok, selalu berderit kalau dibuka. Tapi sekarang tidak ada derit. Hanya ketukan.

Tok.

Dari bawah tempat tidur.

Tok.

Dari dinding. Dinding yang berbatasan dengan kamar nomor 8 — kamar yang Bu Sri bilang kosong sejak lama.

Aku menyalakan lampu. Ketukan berhenti.

Aku mematikannya. Ketukan kembali.

Sepanjang malam aku duduk bersandar di kepala kasur, lutut ditarik ke dada, mata terbuka lebar. Pukul 03.17, ketukan itu berhenti. Tiga kali. Selalu tiga kali.

Pagi berikutnya, aku memeriksa rekaman kamera lagi.

Dan aku tidak bisa bernapas.

Di layar, pukul 02.58, pintuku terbuka dari dalam. Seseorang keluar. Berjalan menyusuri lorong dengan punggung membungkuk, kaus abu-abu, rambut berantakan.

Aku.

Dia berhenti di ujung lorong. Berdiri menghadap dinding. Tidak bergerak selama dua puluh menit.

Lalu pukul 03.17, dia berbalik, kembali ke pintuku, dan mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Lalu masuk kembali.

Aku menatap rekaman itu sampai mataku perih.

Sepanjang malam itu aku tidak pernah meninggalkan kasur. Aku bersumpah. Kakiku tidak pernah menyentuh lantai.

* * *

Malam kedelapan, aku tidak tidur.

Aku duduk di depan pintu, punggung menempel kayu, jam tangan di pergelangan. Aku menunggu.

Pukul 03.10. Lorong di luar sunyi.

Pukul 03.15. Lampu neon berkedip.

Pukul 03.16. Aku menggenggam gagang pintu. Tanganku basah.

Pukul 03.17.

Tok.

Aku menarik pintu.

Tok.

Aku membukanya lebar-lebar.

Tok.

Dan aku berhenti bernapas.

Lorong di depanku bukan lorong kos itu.

Dindingnya bercat hijau pudar — warna yang tidak pernah ada di kos Bu Sri. Lampunya bukan neon, tapi bohlam tunggal yang menggantung dari kabel telanjang. Lantainya bukan keramik, tapi papan kayu yang berderit.

Dan di ujung lorong itu, seseorang berdiri membelakangiku.

Punggung membungkuk. Kaus abu-abu. Rambut berantakan.

Di tangan kanannya, sebuah kunci kamar. Kuningan, tua, dengan gantungan plastik bertuliskan angka.

Angka 7.

Dia menoleh perlahan.

Wajahku menatapku. Tapi matanya lebih tua. Lebih lelah. Seperti mata orang yang sudah lama menunggu.

Dia tersenyum tipis.

"Akhirnya kamu mau membukakan pintu," katanya. Suaranya persis suaraku, hanya sedikit serak, seperti sudah lama tidak dipakai.

Dia melangkah maju. Satu langkah.

"Sekarang, giliranku masuk."

Aku mundur. Kakiku menyentuh ambang pintu — dan ambang itu terasa asing. Dingin. Seperti kayu, bukan keramik.

Aku menoleh ke belakang, ke dalam kamar yang seharusnya kamarku.

Kasurku ada di sana. Lemariku ada di sana. Tapi di dinding, tempat foto ibuku biasa tergantung, ada bingkai lain. Foto seorang pria berambut berantakan, kaus abu-abu, bekas luka di alis kanan.

Bukan aku.

Atau mungkin — aku.

Entah yang mana.

Pria di ujung lorong itu melangkah lagi. Lebih dekat.

"Kamu sudah tinggal di sini cukup lama," bisiknya. "Sudah waktunya kamu tahu."

Dan di belakangku, dari dalam kamar, terdengar ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Bukan dari pintu.

Dari dalam lemari.

kembali ke daftar story episode 1