TAGAR MISTERI
jangan dibaca sendirian

5 episode · 20 story
Ketukan Ketiga
Selama hampir seminggu tinggal sendirian di sebuah kamar kos tua, Arga selalu terbangun pada pukul 03.17 dini hari karena suara ketukan di pintunya. Tiga kali. Selalu tiga kali, dengan jeda yang sama, seolah-olah seseorang di luar sana sedang menjalankan kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Awalnya, Arga mengira itu ulah penghuni kos lain yang mabuk atau salah kamar. Namun, setiap kali ia mengintip melalui lubang pintu, lorong selalu kosong. Tidak ada langkah kaki yang menjauh, tidak ada pintu tetangga yang terbuka, bahkan lampu lorong pun terkadang mati tepat setelah ketukan terakhir terdengar. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Arga memasang kamera kecil di depan pintu untuk merekam siapa pun yang datang malam-malam. Keesokan paginya, rekaman itu memperlihatkan sesuatu yang membuatnya sulit bernapas: tepat pukul 03.17, seorang pria berdiri di depan pintunya, mengetuk tiga kali, lalu menempelkan wajah ke lubang kunci. Namun, bagian paling mengerikan bukanlah wajah pria itu. Pria tersebut memiliki wajah yang persis sama dengan Arga. Sejak malam itu, ketukan mulai terdengar bukan hanya dari pintu kamar, tetapi juga dari dalam lemari, bawah tempat tidur, dan dinding yang berbatasan dengan kamar kosong. Rekaman kamera berikutnya bahkan menunjukkan Arga sendiri berdiri di lorong, padahal sepanjang malam ia merasa tidak pernah meninggalkan tempat tidurnya. Ketika akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu pada ketukan ketiga, Arga menemukan sebuah lorong yang berbeda dari lorong kos yang selama ini dikenalnya. Di ujungnya, seorang pria berdiri membelakanginya sambil memegang kunci kamar. Pria itu menoleh perlahan dan berkata, "Akhirnya kamu mau membukakan pintu. Sekarang, giliranku masuk."
Daftar Episode
Tentang Cerita Ini
Cerita-cerita di kanal ini ditulis semata-mata sebagai hiburan. Seluruh kisah di sini tidak teruji kebenarannya dan tidak dapat diverifikasi — tidak ada tokoh, peristiwa, maupun tempat yang disajikan sebagai fakta jurnalistik.
Sumbernya beragam: kiriman pembaca, kisah-kisah yang beredar di masyarakat, dan bahan-bahan lain yang tidak bisa dipastikan keasliannya. Karena itu, cara membacanya sama seperti menonton cerita di televisi atau menikmati tulisan horor di surat kabar dan majalah pada umumnya — untuk hiburan, bukan untuk dipercaya sebagai kejadian nyata.
Punya kisahmu sendiri? Kirimkan pada kami.
Pembaca boleh mengirimkan kisah-kisah horor mereka ke email redaksi [email protected]. Kisah yang masuk akan ditayangkan bila dianggap layak, dan mengantre sesuai banyaknya surat yang masuk. Sabar ya — antreannya bisa panjang, sama seperti daftar mereka yang menunggu.
baca dengan santai · dan jangan lupa lampu tetap menyala




