TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 1

Kamar Nomor 13

04 menit membaca

Kamar Nomor 13

Hotel Kartika berdiri sejak zaman Belanda. Tiga lantai, cat krem yang mengelupas seperti kulit terbakar, dan tangga kayu yang berderit di setiap anak tangga — bahkan anak tangga yang tidak aku pijak.

Aku menginap di sini karena kantor pelit. Dinas tiga hari, hotel bintang satu, kamar nomor 13.

"Lantai dua, Pak. Paling ujung," kata resepsionis malam itu. Laki-laki muda, kemejanya rapi, tapi matanya tidak pernah lepas dari buku tamu. "Kuncinya satu-satunya. Jangan sampai hilang."

Aku mengangguk, mengambil kunci kuningan itu, dan naik.

* * *

Kamarnya tidak buruk. Tempat tidur tunggal, lemari kayu, meja kecil, dan cermin persegi di atas wastafel. Yang aneh cuma satu: pintunya menghadap dinding buntu lorong.

Tidak ada kamar di sebelah kananku.

Tidak ada kamar di sebelah kiriku.

Aku baru sadar hal itu saat menggantung jaket dan menatap denah evakuasi di belakang pintu.

Denah itu sederhana. Lantai dua digambar kotak-kotak kecil bernomor. 10. 11. 12. 14. 15. 16.

Tidak ada 13.

Aku menoleh ke pintuku. Angka kuningan itu menempel di kayu, miring sedikit. 13.

Aku tertawa kecil. Hotel tua, denah lama, salah cetak. Tidak penting.

Malam itu aku tidur pukul sebelas. Lelah, kepala penuh angka laporan.

* * *

Yang membangunkanku bukan alarm.

Yang membangunkanku adalah suara orang menangis.

Pelan. Tersedu-sedu. Seperti perempuan yang menahan tangis dengan telapak tangan menutup mulut.

Aku membuka mata. Gelap. Jam di ponselku: 03.17.

Suara itu datang dari dinding di sebelah kanan tempat tidurku.

Dinding yang seharusnya berbatasan dengan lorong.

Aku menyalakan lampu meja. Suara itu berhenti.

Aku mematikannya. Suara itu kembali.

Aku duduk, memeluk lutut, menunggu sampai subuh. Suara tangis itu tidak pernah berhenti. Tidak keras. Tidak minta tolong. Hanya menangis, seperti seseorang yang sudah menangis di situ selama bertahun-tahun dan tidak tahu cara berhenti.

* * *

Pagi harinya aku memeriksa lorong.

Di kanan kamarku, dinding buntu. Di kiri, dinding buntu. Aku menempelkan telinga ke keduanya. Sunyi. Dingin. Catnya lebih tua dari cat di lorong lain, dan ada bekas bingkai persegi yang sudah ditutup semen.

Bekas pintu.

Aku turun ke resepsionis.

"Pak, kamar sebelah kamar saya kok tidak ada pintunya?"

Resepsionis muda itu mengangkat kepala. Wajahnya sama seperti semalam — rapi, ramah, kosong.

"Kamar sebelah, Pak?"

"Nomor 13. Di kanan kamar saya ada suara orang menangis tiap malam."

Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum.

"Lantai dua tidak punya kamar di sebelah kamar Bapak, Pak. Dindingnya buntu sejak renovasi tahun delapan puluh."

"Tapi saya dengar—"

"Mungkin suara dari lantai tiga, Pak. Pipa air di gedung ini jelek. Suaranya turun."

Aku ingin berdebat. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku menutup mulut.

Sepanjang hari itu aku bekerja di kamar. Aku tidak berani tidur siang.

* * *

Malam kedua, aku memasang perekam suara di ponsel. Aku letakkan di atas meja, menghadap dinding kanan.

Aku tidur dengan lampu menyala.

Pukul 03.17, aku terbangun lagi.

Tangis itu sudah ada. Lebih dekat dari semalam. Seperti ada seseorang yang menempelkan wajahnya ke sisi dinding yang lain, menangis tepat di telingaku.

Aku menoleh ke kanan.

Di dinding buntu itu, ada bayangan.

Seperti siluet seseorang berdiri di balik cat. Bahunya naik-turun. Naik-turun. Menangis.

Aku menyalakan lampu. Bayangan itu hilang.

Pagi harinya, aku memutar rekaman.

Lima menit pertama: sunyi.

Lalu pukul 03.17, suara tangis itu masuk.

Dan di bawahnya — jauh di bawahnya, hampir tenggelam — ada suara lain.

Suara tangis itu bukan satu orang.

Ada dua.

Dan yang kedua, yang lebih pelan, lebih serak, lebih lelah —

itu suaraku.

* * *

Aku memutuskan check-out pagi itu. Aku tidak peduli kantor marah. Aku tidak peduli uang.

Koper belum selesai aku tutup, aku sudah menyeretnya ke tangga. Turun. Cepat. Derit anak tangga mengikutiku seperti langkah kedua.

Aku menghantamkan kunci kuningan itu ke meja resepsionis.

"Saya mau check-out."

Resepsionis muda itu menatap kuncinya. Lalu menatapku.

"Kamar berapa, Pak?"

"Tiga belas."

Dia membuka buku tamu. Jari telunjuknya menyusuri halaman. Berhenti.

Wajahnya berubah. Tidak takut. Bukan itu.

Bingung.

"Pak," katanya pelan. "Kamar 13 tidak pernah disewakan untuk satu orang."

Aku menelan ludah.

"Maksud kamu?"

Dia memutar buku tamu itu ke arahku. Di kolom kamar 13, ada dua nama.

Nama pertama: namaku. Tertulis dengan huruf yang persis huruf tanganku.

Nama kedua, di bawahnya, ditulis dengan tinta yang lebih tua, lebih pudar, hampir hilang:

Ibu.

Aku mengangkat kepala.

Dan dari lantai tiga, dari atas tangga kayu yang berderit di anak tangga yang tidak aku pijak, terdengar suara seorang perempuan memanggil namaku.

"Raka."

Pelan. Sayang. Seperti ibuku dulu memanggilku pulang saat Magrib.

Padahal ibuku sudah meninggal tujuh tahun lalu.

kembali ke daftar story episode 1