story 1 · episode 2
Bus Terakhir Tengah Malam
05 menit membaca

Bus terakhir menuju Sumberejo berangkat pukul 23.30 dari terminal lama, terminal yang atapnya bocor dan lantainya selalu basah meski tidak hujan.
Aku menaikinya karena tidak ada pilihan lain. Kampus tutup libur panjang, uang di dompetku tinggal cukup untuk satu tiket ekonomi, dan kereta terakhir sudah lewat dua jam lalu.
"Sumberejo?" tanya sopirnya.
"Iya, Pak."
Dia mengangguk. Wajahnya teduh, keriput, seperti orang yang sudah menyetir rute ini sejak sebelum aku lahir. Aku menyerahkan uang, dia merobek karcis, dan aku masuk.
Busnya tua. Kursinya beludru hijau yang sudah mengeras, lampu dalamnya kuning dan berkedip pelan, dan ada bau yang tidak bisa aku jelaskan — campuran keringat, tanah, dan sesuatu yang manis, seperti bunga yang sudah lama mati di dalam vas.
Penumpangnya tidak banyak. Tujuh orang. Semuanya duduk diam, menghadap ke depan.
Aku duduk di baris kelima, dekat jendela.
* * *
Bus berjalan pukul 23.31.
Dua puluh menit pertama, aku masih sibuk dengan ponselku. Sinyal hilang di kilometer ketiga, seperti biasa. Aku menyimpannya, menyandarkan kepala ke kaca, dan mencoba tidur.
Tidak bisa.
Ada sesuatu yang salah dengan bus ini, dan butuh waktu bagiku untuk tahu apa.
Suaranya.
Tidak ada suara.
Bus tua selalu berisik. Kursinya berderit, panelnya bergetar, mesinnya menggeram seperti binatang sakit. Tapi malam ini, mesin itu hanya berdesis. Halus. Terlalu halus.
Dan tidak ada satu pun penumpang yang bergerak.
Aku menoleh ke kiri. Seorang bapak berpeci, tangan di pangkuan, mata lurus ke depan.
"Pak," kataku pelan. "Bus ini biasa berhenti di pertigaan Cempaka, nggak?"
Dia tidak menoleh.
"Pak?"
Napasnya teratur. Dada naik-turun. Tapi matanya tidak berkedip. Tidak menoleh. Tidak sama sekali.
Aku menoleh ke belakang. Seorang perempuan muda dengan jilbab abu-abu. Seorang anak sekolah. Seorang lelaki tua bertongkat.
Semuanya sama.
Duduk. Diam. Menghadap depan.
Aku berdiri. Berjalan ke depan, ke arah sopir, karena sopir pasti manusia.
"Pak," kataku, suaraku naik sedikit. "Penumpangnya kenapa, Pak?"
Sopir itu tidak menoleh. Tangannya mantap di setir. Matanya lurus ke jalan.
Di spion tengah, aku melihat wajahku sendiri — pucat, mata membelalak.
Dan di spion itu juga, aku melihat ketujuh penumpang di belakangku.
Semuanya menatap spion.
Menatapku.
* * *
Aku mundur. Kakiku menyentuh kursi, dan aku jatuh duduk di baris kedua, tepat di seberang jendela.
Jendela itu gelap. Di luar, hanya malam dan pohon-pohon yang lewat seperti bayangan.
Tapi kacanya memantul.
Di pantulan itu, aku bisa melihat isi bus. Kursi demi kursi. Wajah demi wajah.
Aku menatap wajah bapak berpeci.
Dan darahku berhenti.
Aku pernah melihat wajah itu. Bukan di bus ini.
Di tiang listrik depan pasar lama. Di poster yang sudah luntur kena hujan. HILANG, tulisnya. Nama, umur, ciri-ciri, nomor telepon keluarga yang tidak pernah diangkat lagi.
Bapak itu hilang tiga tahun lalu. Aku masih ingat karena ibuku sempat ikut menyebar pamfletnya di pengajian.
Aku menoleh ke pantulan berikutnya.
Perempuan berjilbab abu-abu. Wajah itu ada di poster yang sama. Hilang sejak Maret. Anak sekolah itu. Hilang sejak Juni. Lelaki bertongkat. Hilang sejak dua tahun lalu.
Satu per satu.
Tujuh wajah.
Tujuh nama yang pernah tertulis di dinding terminal, di warung kopi, di pos ronda.
Orang-orang yang dinyatakan hilang di kotaku.
Dan semuanya duduk di bus ini, diam, menghadap depan, seperti penumpang yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk pulang.
* * *
Aku menoleh ke pantulan kursi ketiga dari belakang.
Di situ duduk seorang lelaki muda. Kaus hitam. Rambut sedikit panjang. Tangan di pangkuan.
Rendra.
Aku mengenalnya. Semua orang di Sumberejo mengenalnya. Lima tahun lalu dia hilang setelah malam tahun baru, dan sampai sekarang tidak pernah ditemukan.
Di pantulan kaca, Rendra menoleh.
Pelan. Sangat pelan.
Dan dia tersenyum.
Aku menoleh ke belakang, ke kursi aslinya.
Kursi itu kosong.
Aku menoleh kembali ke kaca.
Di pantulan, Rendra masih menatapku. Masih tersenyum. Dan bibirnya bergerak, membentuk satu kata yang tidak aku dengar.
Duduk.
* * *
Aku menoleh ke pantulan jendela di sebelahku.
Di situ, di kursi yang seharusnya aku duduki, ada seseorang.
Kaus abu-abu. Rambut berantakan. Wajah yang aku kenal lebih baik dari wajahku sendiri di cermin kamar mandi.
Aku.
Aku menoleh cepat ke kursi itu.
Kosong.
Aku menoleh kembali ke kaca.
Masih ada.
Dia menatapku dari pantulan, dan di matanya ada sesuatu yang tidak pernah aku lihat di cermin rumah — sesuatu yang sabar. Sesuatu yang sudah lama menunggu.
Bus tidak berhenti di pertigaan Cempaka.
Tidak berhenti di halte pasar.
Tidak berhenti di depan gang rumahku, tempat ibuku biasa menungguku pulang dengan lampu teras menyala.
Bus itu melewatinya. Terus. Lurus. Tanpa melambat sedikit pun.
"Pak," bisikku. "Pak, saya turun di sini."
Sopir itu akhirnya menoleh.
Wajahnya teduh. Keriput. Seperti orang yang sudah menyetir rute ini sejak sebelum aku lahir.
Tapi matanya —
Matanya kosong. Bukan buta. Kosong. Seperti dua lubang yang di baliknya tidak ada apa-apa selain jalan yang panjang.
"Belum sampai," katanya.
Dan di belakangku, ketujuh penumpang itu mengangkat kepala bersamaan.
* * *
Bus berbelok ke sebuah jalan yang tidak ada di peta.
Aku tahu karena aku sudah puluhan kali pulang ke Sumberejo. Tidak ada jalan seperti ini. Tidak ada aspal yang bercabang di tengah hutan karet.
Di ujung jalan itu, ada cahaya.
Sebuah terminal kecil. Atap seng. Satu lampu neon yang berkedip.
Dan di bawah lampu itu, berdiri seseorang. Seragam biru lusuh. Topi. Tangan memegang senter yang mati.
Seorang penjaga.
Penjaga shift malam.
Dia tidak melambai. Dia tidak bersuara. Dia hanya berdiri di sana, menatap bus ini seperti sudah menunggu kedatangannya sejak lama.
Bus mulai melambat.
Aku meraih gagang pintu di sebelahku dan menariknya.
Tidak bergerak.
Aku menarik lagi. Lebih keras. Lututku menabrak kursi depan.
Pintu itu tetap terkunci.
Di pantulan kaca, aku melihat diriku sendiri masih duduk di kursi kelima. Tenang. Tangan di pangkuan. Menghadap depan.
Dan di sampingnya, kursi kosong — kursi yang seharusnya aku duduki sekarang.
Bus berhenti.
Pintu depan terbuka dengan desis.
Dan penjaga shift malam itu melangkah naik, senter mati di tangannya, matanya menyapu seluruh penumpang satu per satu.
Berhenti.
Pada aku.
"Satu lagi," katanya, suaranya seperti kertas yang diremas. "Kurang satu lagi."