TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 3

Pantulan yang Terlambat

06 menit membaca

Pantulan yang Terlambat

Lift di gedung tempatku bekerja sudah tua sejak sebelum aku lahir.

Pintunya besi, bukan kaca. Tombolnya kuningan yang sudah aus di tengah, seperti disentuh terlalu banyak jari. Dan di dalamnya ada cermin — satu panel panjang dari lantai sampai langit-langit, retak halus di sudut kanan atas.

Aku naik lift itu dua kali sehari selama tiga tahun. Pagi masuk, sore keluar. Tidak pernah kupikirkan cerminnya.

Sampai minggu lalu.

* * *

Kejadian pertama Selasa pagi. Aku baru masuk, menekan tombol lantai tujuh, dan menatap cermin sambil menyesuaikan dasi.

Di cermin, tanganku bergerak.

Terlambat.

Hanya sepersekian detik. Begitu kecil sampai aku mengira mataku yang salah. Aku mengangkat tangan lagi, pelan. Di cermin, tanganku mengangkat — setelah aku selesai mengangkatnya.

Aku tertawa kecil. Kurang tidur. Tiga malam berturut-turut aku cuma tidur dua jam, sejak kejadian di hutan itu. Sejak kami berlari keluar dari tenda dan tidak pernah berhenti menoleh.

Wajar kalau mataku lelah.

Wajar.

* * *

Tapi tidak berhenti di situ.

Rabu, aku berkedip. Di cermin, aku berkedip setelahnya.

Kamis, aku menggaruk leher. Pantulanku menggaruk leher satu detik kemudian.

Jumat, aku tersenyum pada diriku sendiri — coba-coba, bodoh — dan pantulanku tersenyum. Tapi bukan senyum yang sama.

Lebih lebar.

Sedikit lebih lebar.

Aku mulai naik tangga. Tujuh lantai, setiap pagi, setiap sore. Kakiku pegal, kemejaku basah, dan Pak Herman di pos satpam menatapku aneh.

"Lift rusak, Mas Galih?"

"Nggak. Cuma mau olahraga."

Dia mengangguk. Tapi matanya mengikutiku sampai aku hilang di balik pintu tangga darurat.

* * *

Malam Jumat itu aku lembur sendirian.

Laporan audit, tenggat Senin, dan seluruh lantai tujuh sudah kosong sejak pukul delapan. Lampu lorong tinggal dua yang menyala. AC mati. Gedung itu jadi sunyi dengan cara yang salah — sunyi yang bergema, seperti ruangan yang menunggu seseorang bicara.

Aku selesai pukul sebelas lewat. Terlalu lelah untuk naik tangga tujuh lantai ke bawah.

Aku menekan tombol lift.

Pintunya terbuka dengan desis panjang, seperti napas orang tua yang baru bangun.

Aku masuk. Menekan tombol lobi. Pintu menutup.

Dan cermin itu menatapku.

Aku menatapnya balik, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, pantulanku bergerak bersamaan denganku. Tepat. Sinkron. Aku menghela napas, menyandarkan kepala ke dinding lift, dan menutup mata.

Lift turun. Angka di atas pintu bergerak. 7. 6. 5.

4.

3.

Lift berhenti.

Pintunya tidak terbuka.

Aku membuka mata. Angka di atas pintu menunjukkan 3, tapi lampunya tidak menyala. Aku menekan tombol lobi lagi. Tidak ada reaksi.

Lalu aku melihat jam di ponselku.

03.17.

Padahal aku baru masuk lift pukul sebelas lewat.

* * *

Aku menekan tombol buka. Tidak bekerja.

Aku menekan tombol tutup. Tidak bekerja.

Aku menekan semua tombol sekaligus, dengan telapak tangan, berkali-kali, sampai tombolnya panas.

Dan pintu itu terbuka.

Bukan di lobi. Bukan di lantai tiga.

Di lorong yang tidak pernah kulihat di gedung ini. Dinding hijau pudar. Satu bohlam menggantung dari kabel telanjang. Lantai papan kayu yang berderit di anak tangga yang tidak kupijak.

Aku keluar. Kakiku bergerak sendiri. Seperti ada yang menariknya.

Lorong itu panjang. Di ujungnya, gelap.

Dan di belakangku, lift itu menunggu. Pintunya terbuka lebar.

Aku menoleh ke dalamnya, ke cermin.

Pantulanku masih di sana.

Berdiri di dalam lift. Menghadapku. Tangan tergantung di sisi badan. Wajahku — tapi bukan wajahku. Matanya lebih tua. Lebih lelah. Seperti mata orang yang sudah lama menunggu di dalam kotak besi itu.

Dia tidak keluar bersamaku.

Dia hanya berdiri di sana, di dalam cermin, sementara aku sudah di luar, di lorong yang bukan lorong gedungku.

Pintu lift mulai menutup.

Pelan.

Dan tepat sebelum menutup penuh, aku melihat bibir pantulanku bergerak.

Satu kata. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku tahu kata itu. Kata yang sama yang selalu muncul di ujung semua ini.

Giliranmu.

* * *

Aku terbangun di mejaku pukul tujuh pagi.

Kepala menempel di laporan audit. Lampu lorong sudah menyala semua. AC sudah hidup. Bau kopi dari pantry. Suara mesin fotokopi.

Kantor sudah penuh.

Aku berdiri, mengucek mata, dan berjalan ke pantry untuk mencuci muka.

Di lorong, aku berpapasan dengan Rina dari divisi keuangan. Aku tersenyum, mengangkat tangan.

"Pagi, Rin."

Dia lewat begitu saja.

Tidak menoleh. Tidak mengangguk. Matanya lurus ke depan, seperti menembus aku.

Aku berhenti. Menoleh ke belakang.

Rina sudah jauh. Dia tidak menoleh sekali pun.

* * *

Aku duduk di mejaku. Menyalakan komputer. Login.

Username atau password salah.

Aku coba lagi. Salah.

Aku coba tiga kali. Salah.

Aku menelepon IT. Angkat.

"Halo, ini Galih, lantai tujuh. Akun saya nggak bisa login."

Sunyi di ujung sana.

"Galih?" kata suara itu pelan. "Siapa?"

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

"Galih. Audit. Lantai tujuh."

"Mas, di lantai tujuh nggak ada nama Galih. Saya cek database, kosong."

Telepon itu mati.

* * *

Aku berjalan ke meja HRD. Kartu absenku tidak ada di rak. Namaku tidak ada di daftar karyawan bulan ini.

Aku menemui Pak Herman di pos satpam, orang yang kemarin menanyakan kenapa aku tidak naik lift.

"Pak Herman, saya Galih. Lantai tujuh."

Dia menatapku lama. Wajahnya teduh, keriput, seperti orang yang sudah menjaga gedung ini sejak sebelum aku lahir.

"Mas," katanya, "saya sudah jaga di sini lima belas tahun. Lantai tujuh cuma ada empat orang. Dan tidak ada yang namanya Galih."

Dia tersenyum. Ramah. Kosong.

"Mungkin Mas salah gedung."

* * *

Aku pulang.

Ibu tidak mengenaliku. Dia membuka pintu, menatapku dari balik rantai, dan bertanya mau ketemu siapa. Aku bilang aku anaknya. Dia bilang dia cuma punya satu anak, perempuan, sudah menikah di luar kota.

Pintu itu menutup. Rantai itu bergetar sekali. Lalu diam.

Aku berdiri di teras rumah yang aku tinggali dua puluh delapan tahun, dan tidak ada satu pun benda di dalamnya yang mengingatku.

* * *

Malam itu aku kembali ke gedung.

Bukan karena aku mau. Karena tidak ada tempat lain.

Pintu kaca depan terbuka sendiri. Lobi kosong. Lampu-lampunya mati, kecuali satu di ujung, berkedip pelan.

Lift itu menungguku. Pintunya terbuka lebar, seperti sudah lama.

Aku masuk. Cermin itu menatapku.

Pantulanku ada di sana. Berdiri. Menunggu. Dan kali ini, dia tidak terlambat sepersekian detik.

Dia bergerak bersamaan denganku. Tepat. Sinkron. Sempurna.

Seperti aku sudah menjadi dia.

Pintu lift menutup. Angka di atas bergerak.

7. 6. 5. 4. 3.

Berhenti.

Dan dari luar pintu yang belum terbuka, dari lorong yang entah lorong mana, aku mendengar sesuatu.

Langkah kaki. Pelan. Teratur.

Mengelilingi lift.

Kres.

Kres.

Kres.

kembali ke daftar story episode 3