story 4 · episode 3
Siaran Pukul 03.17
05 menit membaca

Rumah itu warisan nenek. Aku pindah ke sini karena tidak ada pilihan lain — kontrakanku habis, gajiku tipis, dan ibu bilang, sudah, tinggali saja rumah tua itu, biar tidak makin lapuk.
Aku baru tahu kenapa tidak ada yang mau mengurusinya selama tiga tahun.
Rumahnya tidak angker. Rumahnya hanya — salah. Salah dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan. Pintunya terlalu banyak. Lorongnya terlalu panjang untuk ukuran rumah. Dan di ruang tamu, menghadap sofa, berdiri sebuah televisi yang tidak pernah aku nyalakan.
Televisi tabung. Hitam. Layarnya cembung, penuh debu, dan di belakangnya menggantung kabel antena yang sudah putus sejak lama. Ujungnya terkelupas, tembaganya menghitam.
Tidak ada colokan yang tersambung. Tidak ada set-top box. Tidak ada apa-apa.
Malam pertama, aku tidur pukul sepuluh. Lelah mengangkat kardus.
Malam pertama juga, aku terbangun karena suara televisi menyala.
* * *
Aku turun ke ruang tamu dengan lampu ponsel menyala.
Televisi itu hidup.
Layarnya biru gelap, penuh bintik putih, dan dari speaker kecilnya keluar suara mendesis — desis yang sama seperti kaset yang belum diputar.
Aku menekan tombol power. Tidak mati.
Aku mencabut colokan yang tidak tersambung itu — dan tetap tidak mati.
Di sudut kiri atas layar, ada angka kecil yang berkedip.
03.17.
Aku menonton layar itu selama satu menit penuh sebelum sadar apa yang sedang kulihat.
Itu ruang tamu ini.
Sudut yang sama. Sofa yang sama. Bahkan kardus-kardus yang belum kubuka, bertumpuk di pojok, persis seperti di belakangku.
Dan di layar, di tengah ruangan, ada seseorang berdiri membelakangi kamera.
Aku menoleh cepat ke ruang tamu.
Kosong.
Aku menoleh kembali ke layar.
Masih ada.
* * *
Sejak malam itu, aku mulai mencatat.
Setiap pukul 03.17, televisi itu menyala sendiri. Setiap kali, layarnya menampilkan rumah ini — tapi bukan dari sudut yang sama. Kadang dari dapur. Kadang dari lorong. Kadang dari atas tangga, memandang ke bawah, ke arah kamarku.
Dan setiap kali, di dalam gambar itu, ada seseorang.
Tidak pernah jelas. Selalu punggung. Selalu jauh. Selalu berdiri di tempat yang tidak mungkin ada kameranya.
Aku sudah memeriksa seluruh rumah. Tidak ada kamera. Tidak ada lubang intip. Tidak ada cermin tersembunyi.
Tapi televisi itu tetap tahu. Setiap malam, ia tahu di mana aku berada.
Malam keempat, layar menampilkan kamar mandi. Aku sedang di kamar mandi.
Malam kelima, layar menampilkan dapur. Aku sedang di dapur, menuang air.
Malam keenam, aku sengaja tidak tidur. Aku duduk di sofa, menghadap televisi yang mati, dan menunggu.
Pukul 03.17, televisi itu menyala.
Dan di layar, aku melihat kamarku.
Tempat tidurku. Selimut yang kusut. Lampu nakas yang menyala redup.
Dan di atas tempat tidur itu — aku.
Tidur. Menghadap dinding. Bahu naik-turun pelan.
Aku menoleh ke tangga. Aku menoleh ke lorong menuju kamarku.
Aku belum naik ke atas sejak pukul sepuluh.
Aku masih di sofa ini.
* * *
Aku berdiri. Kakiku dingin sampai ke lutut.
Aku naik tangga. Pelan. Satu anak tangga demi satu anak tangga, dan setiap derit kayunya terasa terlalu keras di telingaku.
Pintu kamarku terbuka. Lampu nakas menyala.
Tempat tidurku kosong.
Selimutnya kusut, seperti baru saja ditinggalkan.
Aku menoleh ke jendela. Tidak ada siapa-siapa. Aku menoleh ke lemari — pintunya tertutup rapat, lemari tua warisan nenek yang belum pernah kubuka sejak aku pindah.
Lalu aku mendengar suara televisi di bawah berubah.
Desisnya berhenti. Digantikan suara lain. Suara napas.
Napasku.
Aku turun lagi. Cepat. Aku menghantamkan kaki ke lantai, aku tidak peduli berisik.
Di layar televisi, gambar sudah bergeser.
Sekarang sudutnya dari atas — dari langit-langit kamarku, menghadap ke bawah.
Di gambar itu, aku masih tidur. Menghadap dinding. Bahu naik-turun.
Dan di samping tempat tidur itu, berdiri seseorang.
Tinggi. Kurus. Tangan tergantung di sisi badan. Wajahnya menghadap ke bawah, ke arah tubuh yang tidur itu.
Aku menahan napas. Aku menunggu sosok itu bergerak.
Dia tidak bergerak.
Dia hanya berdiri di sana, di samping tempat tidurku, seperti seseorang yang sudah berdiri di situ sepanjang malam — setiap malam — dan baru sekarang aku melihatnya.
Aku mengangkat tangan, menutup mulutku.
Dan di layar, sosok itu mengangkat kepala.
Perlahan. Sangat perlahan.
Menatap tepat ke arah kamera.
Ke arahku.
Seperti dia tahu aku sedang menonton.
* * *
Televisi itu mati sendiri pukul 03.21.
Aku tidak tidur malam itu. Aku duduk di sofa, punggung menempel dinding, mata terbuka lebar, sampai matahari naik.
Pagi harinya, aku menyewa tukang untuk membuang televisi itu.
Dia datang pukul sembilan. Dua orang. Mereka mengangkat tabung itu — berat, kata mereka — dan menyeretnya keluar.
Sebelum mereka pergi, salah satunya menoleh ke aku.
"Mas," katanya. "Ini TV-nya nggak nyambung ke listrik, ya? Kabelnya nggak ada colokannya."
"Iya," kataku. "Makanya aku buang."
Dia mengangguk. Lalu dia pergi.
Malam itu, ruang tamu terasa lebih lega. Aku tidur pukul sebelas. Aku bahkan sempat tersenyum — bodoh, ternyata cuma televisi rusak.
Pukul 03.17, aku terbangun karena suara televisi menyala.
Dari ruang tamu.
Aku turun. Kakiku lemas. Dan di sana, di tempat yang tadi pagi kosong, televisi tabung itu sudah berdiri kembali. Menghadap sofa. Menyala.
Layarnya tidak menampilkan ruang tamu lagi.
Layarnya menampilkan kamarku. Dari sudut yang sama. Dari langit-langit.
Dan di samping tempat tidurku, sosok itu masih berdiri.
Tapi kali ini, dia tidak menatap kamera.
Dia menatap ke arah lemari.
Lemari tua warisan nenek.
Dan lemari itu — pelan-pelan — mulai terbuka dari dalam.
Sedikit. Satu senti. Lalu dua.
Cukup untuk aku melihat bahwa di dalamnya, di kegelapan yang tidak pernah aku masuki sejak aku pindah ke rumah ini, ada sesuatu yang bergerak.
Di layar televisi itu, sosok di samping tempat tidurku mulai melangkah.
Ke arah lemari.
Dan aku — aku masih berdiri di ruang tamu, jauh di bawah, dengan tangan dingin menggenggam sandaran sofa.
Sementara di atas, di kamarku, aku mendengar pintu lemari itu berderit.
Terbuka.
Pelan.
Sampai lebar.