TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 5

Telepon dari Orang Mati

05 menit membaca

Telepon dari Orang Mati

Nomor itu muncul di layar ponselku pukul 03.17.

Aku tidak langsung mengangkatnya.

Aku hanya duduk di tepi kasur, menatap layar yang menyala hijau di kegelapan kamar, dan membaca nama yang tertera di sana.

Nadia.

Adikku.

Yang sudah tiga tahun terkubur di pemakaman keluarga di Sumberejo.

Ponsel itu berdering lagi. Nada deringnya yang biasa, nada pabrik yang tidak pernah aku ganti sejak zaman kuliah, tiba-tiba terdengar seperti sesuatu yang salah — terlalu terang, terlalu gembira, untuk pukul segini dan untuk nama itu.

Aku mengangkatnya.

Bukan karena aku berani. Karena tanganku bergerak sendiri.

"Halo?"

Sunyi.

Lalu napas. Pelan. Tertahan. Seperti seseorang yang sudah lama menahan tangis sebelum bicara.

"Mas."

Darahku berhenti di leher.

Suara itu — aku kenal suara itu lebih baik dari suaraku sendiri. Suara yang dulu memanggilku dari bawah tangga rumah ibu, suara yang dulu tertawa saat aku salah menabuh drum di acara sekolah, suara yang terakhir kali kudengar lewat telepon malam sebelum kecelakaan itu.

"Mas, jemput aku."

Aku membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.

"Aku di jalan lama. Yang dekat jembatan rusak."

"Nad—"

"Cepat, Mas. Di sini gelap."

Telepon itu mati.

Layar ponselku kembali gelap.

Aku menatapnya lama. Jari-jariku dingin sampai ke siku.

Lalu aku berdiri, mengambil jaket, mengambil kunci mobil, dan keluar rumah. Aku tidak berpikir. Aku tidak sempat berpikir. Ada sesuatu di dalam dadaku yang bergerak lebih cepat dari otakku — sesuatu yang sudah tiga tahun menunggu telepon itu, sesuatu yang setiap malam berharap, meskipun tahu itu mustahil.

Adikku sudah mati.

Tapi aku tetap menyetir.

* * *

Jalan lama ke arah jembatan rusak itu gelap total. Tidak ada lampu. Tidak ada rumah. Hanya aspal yang pecah-pecah, ditumbuhi rumput di sela-selanya, dan pepohonan yang menutup langit.

Aku menyalakan lampu jauh. Kabut turun tipis-tipis.

Di kilometer ketiga, aku melihat lampu biru berkedip di tikungan.

Dua mobil polisi. Satu ambulans yang pintunya masih terbuka. Pita kuning mengelilingi badan jalan, dipasang terburu-buruk, masih melengkung di beberapa bagian.

Aku memperlambat mobilku. Kakiku gemetar di atas pedal.

Petugas pertama yang menghampiriku masih muda. Wajahnya pucat. Tangannya memegang senter yang tidak dia nyalakan.

"Pak, tidak boleh lewat. Ada kecelakaan."

Aku menurunkan kaca.

"Kecelakaan? Kapan?"

"Baru, Pak. Sekitar setengah jam lalu."

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

"Korban… ada korban?"

Dia menatapku lama. Seperti menimbang sesuatu.

"Satu, Pak. Perempuan."

Kepalaku berdenyut.

"Namanya siapa?"

Dia tidak menjawab. Dia menoleh ke arah mobil-mobil di tikungan itu, lalu menoleh kembali padaku, dan di matanya ada sesuatu yang tidak bisa aku baca — bukan curiga. Bukan takut.

Bingung.

"Pak," katanya pelan. "Boleh saya lihat SIM dan STNK Bapak?"

Aku menyerahkan keduanya. Tanganku dingin.

Dia membacanya di bawah cahaya senter. Lalu dia membaca sekali lagi. Lalu dia mengangkat kepalanya, dan tatapannya berpindah dari kartu-kartu itu ke mobilku.

Ke mobil yang aku kendarai.

Ke pelat nomornya.

"Pak," katanya, dan suaranya tiba-tiba bergetar. "Mobil Bapak…"

Aku menoleh ke belakang, ke mobil yang aku duduki. Toyota tua, cat silver yang sudah kusam, penyok kecil di pintu belakang kiri — bekas Nabrak tiang waktu Nadia belajar nyetir.

Mobil itu ada di sini. Bersamaku. Di bawah kakiku.

Lalu aku menoleh ke depan, ke arah tikungan, ke arah pita kuning dan lampu biru yang berkedip.

Dan di bawah lampu-lampu itu, di tengah pita kuning itu, di tengah kerumunan petugas yang membungkuk —

ada mobil yang sama.

Silver. Kusam. Penyok kecil di pintu belakang kiri.

Pelat nomornya sama.

Dan pintunya terbuka. Bagasi belakangnya penyok parah, menghantam pohon di tepi jalan. Kaca depannya pecah. Di dalamnya, di kursi pengemudi, ada seseorang yang terkulai di atas setir — kaus abu-abu, rambut berantakan, kepala menunduk seperti sedang tidur.

Wajahnya tidak terlihat.

Tapi aku tahu.

Aku tahu siapa yang duduk di sana.

Karena bekas luka kecil di alis kanannya terlihat jelas di bawah cahaya lampu biru.

* * *

Aku mundur. Satu langkah. Dua.

Petugas muda itu menatapku, lalu menatap mobilku, lalu menatap mobil di tikungan itu, dan wajahnya berubah seperti orang yang baru saja melihat dua bulan di langit yang sama.

"Pak," katanya pelan. "Ini tidak mungkin."

Aku tidak menjawab.

Di saku jaketku, ponselku bergetar.

Aku mengeluarkannya. Layar menyala hijau.

Nadia.

Aku mengangkatnya. Tanganku gemetar sampai ponsel itu hampir jatuh.

"Nad?"

Suara di seberang bukan suara adikku lagi.

Suara perempuan. Tua. Lembut. Seperti suara seorang ibu yang memanggil anaknya pulang saat Magrib.

"Mas," katanya. "Kamu sudah sampai."

Aku menoleh ke arah ambulans. Pintunya masih terbuka. Di dalamnya, di atas tandu yang setengah tertutup kain putih, ada sesuatu yang bergerak.

Kain itu bergerak. Pelan.

Seperti seseorang yang di bawahnya baru saja membuka mata.

"Kamu tidak perlu jemput adikmu," katanya lagi, dan suaranya sekarang persis di telingaku, seolah-olah dia berdiri tepat di belakangku. "Adikmu sudah lama pulang."

Aku menoleh.

Kosong.

Petugas muda itu masih berdiri di depanku, tapi dia tidak lagi menatapku. Dia menatap sesuatu yang jauh, ke arah ambulans, dan bibirnya bergerak-gerak seperti membaca doa yang tidak selesai.

Di dalam ambulans, kain putih itu jatuh ke lantai.

Tandu itu kosong.

Dan di kursi pengemudi ambulans, tempat yang seharusnya duduk seorang sopir, ada seseorang yang baru saja duduk.

Punggung membungkuk. Kaus abu-abu. Rambut berantakan.

Dia menoleh ke arahku. Perlahan. Sangat perlahan.

Dan dia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Mas," katanya, suaranya persis suaraku, hanya sedikit serak, seperti sudah lama tidak dipakai. "Naik. Kita jemput Nadia bareng."

Aku menoleh ke mobilku. Pintu pengemudi — yang tadi aku tutup rapat — sekarang terbuka.

Pelan.

Dan di kursi penumpang, di sebelah setir yang kosong, ada seseorang duduk.

Menghadap ke depan. Tangan di pangkuan.

Perempuan. Rambut sebahu. Kaus lengan panjang.

Dia menoleh ke arahku.

Wajah adikku.

Wajah yang terakhir kali aku lihat di peti mati, tiga tahun lalu, sebelum aku menutupnya dengan tanganku sendiri.

"Mas," katanya, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Aku sudah nunggu lama."

Ponsel di tanganku mati sendiri.

Jam di dashboard mobilku menyala hijau di kegelapan.

Satu angka.

03.17.

Dan di kejauhan, dari arah jembatan rusak, aku mendengar suara mesin mobil lain mendekat.

Pelan. Teratur.

Seperti sesuatu yang sudah lama menungguku pulang.

kembali ke daftar story episode 5