story 4 · episode 5
Jenazah yang Menolak Dikuburkan
07 menit membaca
Peti itu kembali lagi pagi ini.
Aku menemukannya di ruang tamu, persis di tengah, di atas karpet yang sudah kusut di sudut. Tutupnya rapat. Kain putih yang kami ikatkan di gagangnya masih terlipat rapi, seperti belum pernah tersentuh.
Padahal semalam kami sudah menguburkannya.
Aku berdiri di ambang pintu, memegang cangkir kopi yang belum sempat kuminum, dan menatap peti kayu itu sampai kopiku dingin.
Ayah sudah tiga hari meninggal. Dan tiga pagi berturut-turut, dia pulang.
* * *
Pemakaman Sumberejo sederhana. Tanahnya berat, liatnya lembap, dan penggali kuburnya — Pak Wardi — baru saja dikuburkan sendiri pagi itu. Jadi kami menggali liang Ayah dengan tangan kami sendiri. Aku, Pak Sukron, dan dua tetangga.
Kami menurunkan peti pukul empat sore. Kami menaburkan bunga. Kami membaca doa.
Kami pulang.
Dan pukul lima pagi, peti itu sudah ada di ruang tamu.
"Mungkin ada yang iseng," kata Pak Sukron, hari pertama. "Anak-anak nakal."
Kami memeriksa pintu. Terkunci. Jendela. Terpasang rapat. Tanah di halaman tidak ada jejak. Tidak ada bekas linggis, tidak ada bekas roda, tidak ada satu pun tanda bahwa seseorang pernah mengangkat peti seberat itu dari liang dan membawanya pulang.
Hari kedua, sama.
Hari ketiga, aku memutuskan berjaga.
* * *
Aku duduk di sofa, lampu ruang tamu menyala, menghadap peti itu. Di sebelahku, Pak Sukron, yang tidak bisa tidur karena hal yang sama. Di sebelahnya, Bu Yati, tetangga yang dulu mengasuhku waktu kecil.
Kami tidak bicara banyak. Kami hanya menunggu.
Pukul sebelas. Dua belas. Satu.
Jam dinding berdetak terlalu keras di ruangan sesunyi ini.
Pukul 02.58, pintu kamar Ayah terbuka.
Kami bertiga menoleh bersamaan. Tidak ada angin. Tidak ada yang menyentuhnya. Gagang pintu itu berputar pelan dari dalam — sekali, dua kali — lalu pintu itu terbuka lebar.
Dan seseorang keluar.
Punggung membungkuk. Langkah pelan, tapi tidak berderit. Dia menyeberangi ruang tengah tanpa menoleh ke arah kami, seperti kami tidak ada di situ, seperti kami cuma bagian dari perabot.
Aku mengenal punggung itu. Aku mengenal cara dia berjalan — agak miring ke kanan, karena lututnya pernah cedera jatuh dari pohon mangga waktu aku masih SD.
Ayah.
Bu Yati menutup mulutnya dengan tangan. Pak Sukron menggenggam sandaran sofa sampai buku jarinya putih.
Aku tidak bergerak. Kakiku tidak bisa bergerak.
Ayah berhenti di depan peti. Dia berdiri di sana sebentar, seperti orang yang membaca tulisan di kayu. Lalu dia mengangkat tutupnya — pelan, tanpa suara — dan masuk ke dalam.
Tutup itu menutup sendiri.
Rapat.
* * *
Kami duduk di situ sampai matahari naik.
Tidak ada yang berani membuka peti itu. Tidak sampai pukul tujuh, waktu Bu Yati berdiri, mengelap matanya, dan berkata dengan suara yang pecah:
"Buka."
Kami membukanya.
Peti itu kosong.
Kain putih yang kami gelar di dasarnya masih rapi. Bunga yang kami taburkan masih segar. Tidak ada satu pun benda di dalamnya — tidak ada tubuh, tidak ada abu, tidak ada apa-apa.
Pak Sukron memeriksa liang di pemakaman sore itu. Liang itu masih tertutup tanah. Rapi. Padat. Seperti tidak pernah dibuka.
* * *
Malam keempat, aku tidak berjaga di sofa lagi.
Aku duduk di dalam kamar Ayah.
Kamar itu masih berbau dia — minyak kayu putih, tembakau, dan kapur barus dari lemari pakaiannya yang tidak pernah rapat. Tempat tidurnya masih kusut. Sandalnya masih di samping ranjang, sepasang, menghadap ke dalam, seperti orang yang baru saja melepasnya.
Aku duduk di kursi belajarku dulu, di sudut kamar, dan aku menunggu.
Pukul 03.17, aku mendengar sesuatu.
Bukan langkah. Bukan pintu.
Napas.
Pelan. Berat. Dari balik lemari pakaian.
Aku menoleh. Lemari itu — lemarinya — terbuka sedikit. Sejengkal.
Di dalamnya, di antara baju-baju yang tergantung, ada sesuatu yang bergerak.
Aku berdiri. Aku melangkah. Aku membuka pintu lemari itu lebar-lebar.
Di dalamnya, di lantai kayu yang seharusnya cuma tempat menyimpan sepatu, ada sebuah pintu kecil.
Kuning. Mengelupas di sudutnya. Gagang kuningan yang menghitam karena terlalu sering disentuh.
Pintu yang tidak pernah aku lihat seumur hidupku di rumah ini.
Aku berjongkok. Aku meraih gagangnya.
Dan dari baliknya, dari dalam, aku mendengar suara Ayah.
"Jangan buka," katanya. Pelan. Datar. Seperti kalimat yang sudah dihafal di luar kepala.
Aku berhenti.
"Yah," bisikku. "Kenapa Ayah nggak mau dikubur?"
Sunyi.
Lama sekali.
Lalu suara itu datang lagi, lebih dekat, seperti seseorang yang menempelkan wajahnya ke sisi lain kayu.
"Karena kuburanku sudah ada isinya," katanya.
Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.
"Siapa yang ada di situ, Yah?"
Dia tidak menjawab.
Tapi dari balik pintu kecil itu, aku mendengar suara lain. Suara cangkul menghantam tanah. Pelan. Teratur. Cangkul. Angkat. Buang.
Dan di bawahnya, suara seseorang yang menahan tangis.
* * *
Pagi harinya, aku pergi ke pemakaman sendirian.
Aku membawa linggis. Aku menggali liang Ayah dengan tanganku sendiri.
Sedalam satu meter, cangkulku menghantam sesuatu. Bukan tanah. Kayu.
Aku membersihkannya. Sebuah peti. Tua. Kayunya menghitam. Sudutnya lapuk.
Aku membuka tutupnya.
Di dalamnya, seorang laki-laki. Kurus. Rambutnya putih seluruhnya. Kulitnya seperti kertas yang lama disimpan di lemari.
Di tangannya, ada sepasang sandal. Sandal Ayah. Menghadap ke dalam.
Dan di dadanya, ada sebuah foto. Kuning. Retak di sudutnya.
Di foto itu, seorang laki-laki berdiri di depan rumah kami. Wajahnya teduh. Keriput. Seperti orang yang sudah lama menjaga rumah ini.
Di belakangnya, berdiri seorang anak kecil berkaus abu-abu.
Bekas luka kecil di alis kanan.
Aku membalik foto itu.
Di belakangnya, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada satu baris tulisan tangan.
Rumah ini butuh satu penjaga. Selalu.
* * *
Malam itu, aku tidak mengubur Ayah lagi.
Aku membiarkan peti itu di ruang tamu. Aku membuka tutupnya. Aku meletakkan sandalnya di dalam. Aku meletakkan fotonya di atas dadanya.
Lalu aku duduk di sofa, menghadap peti, dan aku bicara.
"Yah," kataku. "Aku jaga rumahnya. Ayah istirahat."
Lama sekali tidak ada jawaban.
Lalu, pukul 03.17, aku mendengar pintu kamar Ayah terbuka.
Pelan. Sekali.
Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.
Aku hanya mendengar langkah itu menyeberangi ruang tengah, berhenti di sampingku, dan diam di situ sebentar — seperti seseorang yang berdiri di belakang kursi dan menaruh tangannya di bahuku, tapi tidak menyentuh.
Lalu langkah itu berjalan ke peti. Masuk. Tutup itu menutup sendiri.
Rapat.
Dan untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, rumah ini benar-benar sunyi.
* * *
Pagi berikutnya, peti itu masih ada di ruang tamu.
Tapi kali ini, aku tahu isinya sudah pergi.
Kami menguburkannya siang itu. Liang itu kami tutup dengan tanah baru. Pak Sukron memasang nisan batu sederhana, dengan nama Ayah, tanggal lahir, tanggal meninggal. Tidak ada yang aneh.
Malam itu, aku tidur di kamar Ayah. Aku tidak takut.
Pukul 03.17, aku terbangun.
Bukan karena ketukan. Bukan karena langkah.
Karena jam dinding di ruang tengah berhenti.
Aku turun. Aku berdiri di depan jam itu, dan jarumnya membeku di satu angka.
03.17.
Aku menoleh ke pintu depan. Terkunci. Dua kali, seperti biasa.
Aku menoleh ke jendela. Embun menempel di kacanya.
Dan di luar, di halaman, di bawah pohon mangga yang rimbun, ada seseorang berdiri.
Membelakangi aku. Punggung membungkuk. Tangan tergantung di sisi badan.
Kaus abu-abu. Rambut berantakan.
Dia tidak menoleh. Dia hanya berdiri di sana, menghadap ke arah jalan, seperti orang yang baru saja selesai menjaga sesuatu dan sedang menunggu giliran berikutnya.
Aku menutup tirai.
Aku tidak membuka pintu.
Dan sejak malam itu, jam dinding itu tidak pernah berdetak lagi.
Karena di Sumberejo, ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar selesai.
Mereka hanya berhenti — sebentar — sebelum mulai menghitung lagi.