TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 1

Tanah yang Terlalu Bersih

05 menit membaca

Tanah yang Terlalu Bersih

Setelah papan penunjuk itu, aku berhenti mempercayai arah. Aku berjalan lurus saja, mengikuti kompas yang jarumnya berputar seperti mainan rusak, dan entah bagaimana kakiku selalu menemukan tanah yang lebih rata untuk dipijak. Hutan Sirewang tidak terasa seperti hutan. Ia terasa seperti ruangan yang sedang menahan napas.

Menjelang sore, aku menemukan lapangan itu.

Aku melihatnya dari balik rimbun rotan dan langsung berhenti, bukan karena takut, tapi karena takjub. Di tengah hutan yang semrawut ini, ada sebuah lingkaran tanah lapang seluas dua tenda, rata seperti dipadatkan dengan alat berat. Tidak ada semak. Tidak ada ranting. Tidak ada daun busuk, tidak ada batu, tidak ada akar yang menonjol. Tanahnya cokelat muda, halus, dan ketika aku menyentuhnya dengan ujung jari, ia terasa sejuk seperti kain yang baru dijemur di tempat gelap.

Bahkan tanah di sekitar tenda orang biasa tidak sebersih ini. Ini bukan tanah yang kebetulan kosong. Ini tanah yang dibersihkan.

Aku melepas carrier, menghela napas, dan untuk pertama kalinya sejak masuk hutan aku merasa lega. Tempat ini sempurna. Terlalu sempurna, mungkin, tapi sore sudah mau habis dan kakiku sudah tidak bisa diajak berdebat. Aku mendirikan tenda tepat di tengah lapangan, memasang pasak dengan mudah karena tanahnya lunak dan tidak berbatu. Bahkan pasaknya masuk seperti ditelan.

Baru setelah tenda berdiri, aku menoleh ke sekeliling.

Dan melihat pohon-pohonnya.

Lapangan itu dikelilingi puluhan batang pohon besar, rapat seperti pagar. Semuanya sejenis, kulitnya kelabu licin, dan semuanya menghadap ke dalam. Aku tidak tahu apakah pohon bisa "menghadap", tapi tidak ada kata lain untuk itu. Dahan-dahan mereka menjuntai ke arah lapangan, dan di setiap batang, setinggi wajah manusia, ada goresan.

Bukan satu goresan. Deretan.

Empat, lima, kadang enam garis sejajar, dipahat rapi ke dalam kulit kayu seperti bekas cakar yang terlalu tertata untuk disebut cakar. Jaraknya seragam. Kedalamannya seragam. Aku berdiri di depan pohon terdekat dan mengangkat tanganku. Garis-garis itu persis setinggi mataku. Kalau aku berdiri menempel, garis-garis itu akan melintang tepat di wajahku.

Aku berjalan mengelilingi lapangan. Setiap pohon, tanpa kecuali, punya goresan yang sama, di ketinggian yang sama, menghadap ke satu titik.

Ke tendaku.

Aku tertawa kecil, tawa yang tidak keluar sempurna. Mungkin ini bekas penebangan. Mungkin ini tanda batas. Mungkin ini ulah orang iseng yang puluhan tahun lalu menandai wilayah. Semua penjelasan itu masuk akal, dan tidak satu pun membuat bulu tengkukku tenang.

Karena ada satu hal yang tidak bisa dijelaskan oleh penebangan maupun batas wilayah: kalau garis-garis ini dibuat oleh manusia, kenapa semuanya menghadap ke dalam? Kenapa tidak ada satu pun yang menghadap ke luar, ke arah jalan keluar?

Seperti ada yang dulu berdiri di tengah lapangan ini, dan semua pohon mencatat wajahnya.

Malam

Aku memasak mie instan dengan air dari termos, makan sambil duduk di mulut tenda, dan berusaha tidak menatap pohon-pohon itu. Tapi mereka ada di mana-mana. Di tepi penglihatanku, batang-batang kelabu itu berdiri seperti penonton upacara.

Lampu tendaku kunyalakan. Cahayanya membuat lapangan terlihat lebih bersih lagi, terlalu bersih, seperti panggung yang baru disapu sebelum pertunjukan dimulai.

Aku masuk ke sleeping bag lebih awal. Hutan malam ini sunyi dengan cara yang salah. Tidak ada jangkrik. Tidak ada burung malam. Tidak ada angin yang menggesek dedaunan. Yang ada hanya sunyi, dan di dalam sunyi itu, sekali-sekali, suara seperti kulit kayu bergesek pelan. Seperti sesuatu yang menggosok.

Seperti ada yang mengasah.

Aku menutup mata dan memaksa diriku tidur. Aku hampir berhasil.

Lalu aku mendengar langkah.

Bukan satu. Banyak. Pelan, berirama, mengelilingi tenda dari luar. Kaki-kaki yang menginjak tanah lapang itu dengan hati-hati, seperti orang yang tidak ingin mengotori sepatunya. Aku menahan napas. Langkah itu berhenti.

Berhenti tepat di depan tenda.

Aku menunggu suara. Suara yang memanggil namaku seperti malam pertama. Suara ayahku. Suara apa pun.

Tidak ada.

Yang ada hanya gesekan halus di kain tenda, setinggi wajahku, pelan sekali, dari kiri ke kanan. Seperti sesuatu yang sedang menempelkan wajahnya ke dinding tenda, mengukur. Mengukur apakah tingginya sudah pas.

Empat kali gesekan. Lalu berhenti.

Aku tidak bergerak sampai fajar. Ketika cahaya masuk dan aku memberanikan diri membuka resleting, lapangan itu masih sama bersihnya. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada apa pun. Tapi di kain tenda bagian dalam, tepat setinggi mataku, ada empat garis goresan tipis yang belum ada kemarin.

Aku berdiri lama di tengah lapangan, menatap pohon-pohon yang menatap balik. Dan baru aku sadar, satu pohon di sisi utara tidak punya goresan sama sekali. Kulitnya masih mulus, masih utuh, masih menunggu.

Pohon itu menghadap ke arahku, dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya: apakah goresan-goresan itu tanda yang sudah selesai — atau tanda yang baru akan dibuat?

Lalu aku mendengar suara dari arah pohon itu. Bukan panggilan. Bukan bisikan. Hanya satu kata, pelan dan sabar, seperti seseorang yang sudah lama menunggu dan akhirnya bisa mulai bekerja.

"Posisi."

Aku belum sempat berbalik ketika aku sadar, di seluruh lapangan, tidak ada satu pun jalan keluar yang bisa kutemukan. Semua pohon menghadap ke dalam. Dan aku sedang berdiri di tengahnya — di tempat yang katanya tidak ada di peta.

kembali ke daftar story episode 1