TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 4 · episode 1

Orang yang Berdiri Terlalu Jauh

04 menit membaca

Orang yang Berdiri Terlalu Jauh

Tanah di bawah rumpun bambu itu lembut, hampir seperti bubur. Aku menekan pasak terakhir dengan tumit, mendengar bunyi tak yang memuaskan saat logam menembus lapisan tanah basah. Tenda merahku berdiri miring sedikit, tapi cukup untuk dua malam. Cukup untuk melupakan sebentar kota, pekerjaan, dan semua suara yang tidak pernah berhenti di kepalaku.

Aku berdiri, menepuk-nepuk telapak tangan, lalu mengangkat kepala.

Dan di sanalah ia.

Seseorang berdiri di antara pepohonan, sekitar tiga puluh langkah dari tendaku. Terlalu jauh untuk kulihat wajahnya, terlalu dekat untuk kuabaikan. Ia tidak bergerak. Tidak melambaikan tangan. Tidak berjalan mendekat. Hanya berdiri, tegak, menghadap ke arahku — seperti patung yang lupa diambil pemiliknya.

Aku mengangkat tangan dan melambai. “Halo?”

Tidak ada jawaban. Angin lewat di antara dahan, menggoyang dedaunan, tapi sosok itu tetap diam. Bahkan bajunya tidak berkibar. Aneh, karena angin di sini cukup kencang — cukup untuk membuat tendaku bergetar sepanjang sore.

“Sendirian juga?” seruku lagi, sedikit lebih keras.

Diam.

Aku mendecak. Mungkin dia pemalu, atau mungkin dia sedang tidak ingin diganggu. Namanya juga hutan. Aku sendiri datang ke sini justru untuk tidak bertemu siapa-siapa. Jadi kuputuskan mengalihkan perhatian. Botol minumku tinggal di atas tas carrier, dan tenggorokanku kering setelah setengah jam memukul pasak.

Aku berjongkok, meraih botol itu, dan meneguk tiga kali. Airnya hangat, tapi setidaknya melegakan. Baru sekitar lima detik aku menoleh ke bawah.

Lima detik.

Ketika aku mendongak kembali, sosok itu sudah tidak ada.

Aku menajamkan pandangan. Pepohonan di sana sama seperti tadi — batang-batang ramping berwarna gelap, akar yang menjalar seperti jari, kabut tipis yang mulai turun sejak matahari miring. Tidak ada orang. Tidak ada bayangan orang. Tidak ada gerakan dedaunan yang menandakan ada yang baru saja lewat.

“Hei?” suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan.

Hening. Hutan Sirewang punya jenis hening yang aneh — bukan sepi, tapi seperti ada sesuatu yang menahan napas. Bahkan jangkrik belum mulai bernyanyi, padahal langit sudah mulai keunguan.

Aku berjalan ke arah tempat sosok itu berdiri. Bukan karena aku penasaran. Karena aku ingin memastikan bahwa aku memang melihat seseorang, dan bukan hanya siluet pohon yang dikira manusia oleh mataku yang lelah. Kadang mata memang begitu, kan? Kadang kita melihat apa yang kita takutkan.

Tapi ketika aku sampai di sana, aku berhenti.

Di tanah, tepat di bawah naungan pohon paling besar, ada sepasang sandal.

Sandal jepit. Warna biru tua, sudah pudar. Keduanya basah — bukan lembap karena embun, tapi basah kuyup, seperti baru diangkat dari air. Dan yang membuat tengkukku dingin: kedua sandal itu diletakkan rapi, berdampingan, menghadap ke arah tendaku.

Menghadap ke arahku.

Aku menelan ludah. Tidak ada jejak kaki di sekitarnya. Tanah di bawah pohon itu kering dan keras, tertutup lapisan daun kering. Tidak ada bekas tumit, tidak ada bekas jari, tidak ada jejak yang menuju ke sana atau pergi dari sana. Hanya sepasang sandal basah, rapi, seolah seseorang berdiri di situ tanpa pernah menapak.

Aku teringat lelaki tua di warung terakhir sebelum hutan. Wajahnya berubah ketika aku bilang akan menginap dua malam. Ia meraih lenganku dan berpesan satu hal dengan suara rendah, seperti sedang menahan sesuatu di tenggorokannya.

“Kalau ada yang memanggil dari luar tenda, jangan dijawab. Apalagi kalau suaranya mirip orang yang kau kenal.”

Saat itu aku tertawa dalam hati. Sekarang aku tidak tertawa.

Aku tidak menyentuh sandal itu. Aku berbalik, berjalan cepat ke tendaku, dan menutup resleting sampai rapat. Di dalam, aku menyalakan lampu tenda kecil dan duduk memeluk lutut, mendengarkan. Di luar, angin terus bertiup. Dedaunan terus berdesir. Tapi di antara semua suara itu, ada satu hal yang tidak seharusnya ada.

Langkah kaki.

Pelan. Berat. Seperti seseorang yang berjalan tanpa alas kaki di atas tanah basah.

Dan suara itu berhenti tepat di depan tendaku.

Aku menahan napas. Bayangan di dinding tenda tidak berubah. Tidak ada siluet. Tidak ada orang di luar sana — setidaknya tidak ada yang bisa kulihat. Tapi aku bisa mendengarnya. Aku bisa mendengar napasnya. Panjang, lambat, dan basah, seperti orang yang baru saja keluar dari sungai.

Lalu sebuah suara terdengar, sangat dekat, tepat di sisi tenda tempat kepalaku bersandar.

Suara seorang perempuan. Lembut. Akrab. Terlalu akrab.

“Kak,” katanya. “Buka pintunya. Sandalku ketinggalan di luar.”

Aku tidak menjawab. Aku menggigit lengan bajuku sendiri agar tidak bersuara.

Di luar, suara itu mengulang kalimatnya. Sama persis. Nada yang sama. Jeda yang sama. Seperti rekaman yang diputar ulang, menunggu jawaban yang tidak akan pernah datang.

Dan aku baru sadar satu hal yang membuat darahku serasa berhenti mengalir.

Sandal itu berwarna biru tua.

Sandal itu — sandal yang sama yang kutinggalkan di depan pintu rumah, empat hari sebelum aku berangkat, karena aku tidak sempat memasukkannya ke dalam lemari.

Bagaimana mungkin sandalku sudah ada di sini sebelum aku sampai?

kembali ke daftar story episode 1