story 2 · episode 2
Napas di Balik Kain
04 menit membaca

Tanganku masih menempel di tombol lampu tenda ketika suara langkah itu berhenti. Bukan menghilang — hanya berhenti, seperti seseorang yang baru sadar bahwa aku bisa mendengarnya. Aku menarik jari, dan kegelapan menelan segalanya sekaligus.
Gelap di dalam tenda bukan gelap biasa. Ia punya tekstur. Ia menempel di kelopak mataku, menekan pelipis, membuat suara jantungku terdengar dua kali lebih keras dari seharusnya. Aku berbaring telentang di atas matras, sleeping bag ditarik sampai dagu, tangan kaku di samping badan. Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak.
Jangan nyalakan lampu lagi. Jangan biarkan ia tahu kau masih bangun.
Aku mencoba mengingat urutan kejadian tadi. Langkah mengitari tenda. Satu. Berhenti. Dua. Berhenti. Lalu bisikan itu — "dua" — diucapkan tepat di dekat kain, dengan suara serak seperti orang yang sudah lama tidak minum. Dan rekaman kamera yang masih terpasang di tripod sudut tenda, yang entah kenapa menampilkan sosok berdiri di dalam tenda bersamaku.
Aku menutup mata. Berhitung. Satu, dua, tiga. Napas masuk lewat hidung, keluar lewat mulut, pelan-pelan, seperti yang diajarkan instruktur waktu pelatihan dasar. Hutan di luar sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan serangga yang biasanya berisik sepanjang malam kini tidak bersuara sama sekali, seolah seluruh hutan menahan napas menunggu apa yang akan terjadi padaku.
Beberapa menit berlalu. Mungkin lima. Mungkin lima belas. Waktu di dalam gelap tidak bisa dipercaya. Tubuhku mulai sedikit rileks, otot-otot leher mengendur, dan untuk sesaat aku hampir percaya bahwa semuanya sudah pergi.
Lalu aku mendengarnya.
Napas.
Berat. Basah. Seperti udara ditarik lewat tenggorokan yang penuh lendir. Letaknya tepat di sisi kepalaku, hanya dipisahkan oleh satu lapis kain tenda setebal kuku. Aku bisa merasakan iramanya — masuk, keluar, masuk, keluar — dan setiap embusan membuat kain di samping telingaku bergerak sedikit, mengembang lalu mengempis, seperti tenda itu sendiri sedang bernapas.
Aku menahan napas.
Bukan sengaja. Refleks. Paru-paruku terkunci, mulutku tertutup rapat, dan aku berbaring di sana seperti bangkai, mata terbuka lebar menatap kegelapan di atas wajahku.
Napas di luar itu ikut berhenti.
Satu detik. Dua detik. Lima detik. Tidak ada suara apa pun. Tidak ada embusan. Tidak ada gerakan kain. Hanya keheningan yang begitu padat sampai aku bisa mendengar darah berdesir di dalam telingaku sendiri.
Itu gema napasku sendiri, kataku dalam hati. Pasti. Aku menahan napas, jadi aku mendengar napasku sendiri lewat tulang, lewat kain, lewat apa pun. Otakku membuat suara yang tidak ada. Ini cuma hutan. Ini cuma malam.
Aku hampir percaya. Aku benar-benar hampir percaya.
Lalu sesuatu menyentuh kain tenda dari luar.
Tepat di atas wajahku.
Aku merasakannya sebelum aku melihatnya — meskipun di kegelapan ini tidak ada yang bisa kulihat. Kain itu tertekan ke dalam, pelan, seperti seseorang menekan telapak tangan ke dinding tenda dan menahannya di sana. Ada bentuk. Ada tonjolan. Bukan ranting. Bukan angin. Angin tidak menekan dengan arah yang begitu sengaja, begitu pelan, begitu... sabar.
Dan tekanan itu persis di atas hidungku. Persis di atas mulutku. Seolah sesuatu menempelkan wajahnya ke kain dan mencoba mencium napasku.
Aku menahan napas lebih lama. Dadaku mulai panas. Paru-paruku berteriak, pandanganku berbintik-bintik putih di tengah gelap. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Aku harus bernapas. Aku harus.
Ketika akhirnya aku membuka mulut dan menghirup udara, napas itu kembali.
Bukan dari luar tenda.
Dari dalam.
Tepat di samping telingaku — di sisi yang sama, hanya beberapa sentimeter dari pipiku — ada embusan napas hangat yang mengalir pelan di leherku, mengangkat bulu-bulu halus di tengkuk, lalu turun ke arah tulang belikat. Hangat. Basah. Berat. Sama persis dengan yang tadi ada di balik kain.
Aku membeku. Mataku terbuka, tapi tidak ada yang bisa kulihat. Tanganku masih di samping badan, dan sekarang aku sadar — ada sesuatu yang lain di dalam tenda ini bersamaku. Sesuatu yang tidak perlu menembus kain, karena ia sudah ada di sini sejak tadi. Sejak sebelum aku mematikan lampu. Mungkin sejak sebelum aku mendirikan tenda.
Napas itu berhenti lagi. Menunggu.
Dan di keheningan yang mengikuti, sebuah suara — serak, dekat, hampir lembut — berbisik tepat di telingaku, mengucapkan satu kata yang membuat seluruh tubuhku dingin seperti dicelup ke air sungai:
"...tiga."
Lalu aku merasakan sesuatu menyentuh pundakku dari dalam tenda. Perlahan. Seperti tangan yang baru saja keluar dari tanah.
Aku ingin berteriak. Aku ingin berlari. Tapi aku tidak bisa bergerak. Dan di sudut kegelapan, kamera itu masih menyala — lampu rekamnya berkedip merah, sekali, dua kali, seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah kuminta untuk dihitung.
Siapa yang tadi dihitung? Dan kalau sekarang jumlahnya tiga... siapa orang ketiga itu?