TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 2

Jejak yang Berakhir di Dalam

04 menit membaca

Jejak yang Berakhir di Dalam

Pagi itu aku terbangun bukan karena cahaya, tapi karena dingin yang merayap dari lantai tenda, menembus matras tipisku seperti air meresap ke kertas. Jam tanganku menunjukkan pukul 05.47. Di luar, hutan masih kelabu, embun menetes dari tepi flysheet dengan bunyi teratur — tik, tik, tik — seolah ada yang mengetuk pelan dari atap, memastikan aku sudah bangun.

Aku berbaring lama tanpa bergerak. Semalam, sesuatu berjalan mengitari tendaku. Aku mendengarnya jelas: langkah yang berhenti, lalu berhenti lagi, mengelilingi kain tipis yang memisahkan aku dari kegelapan. Dan bisikan itu — satu kata, pelan, tepat di dekat kepalaku. Dua.

Aku tidak ingin keluar. Tapi kandung kemihku menang, dan rasa penasaran jauh lebih kuat daripada rasa takut. Dengan tangan gemetar aku menarik resleting pintu tenda.

Dan aku membeku.

Tanah di depan tendaku basah. Bukan basah oleh embun — tapi oleh lumpur. Lumpur pekat, cokelat kehitaman, yang tidak mungkin ada di sini. Di sekeliling tendaku, tanahnya kering dan berkerikil. Aku memilih tempat ini justru karena drainasenya bagus. Tapi malam ini, entah bagaimana, seseorang — atau sesuatu — berjalan melewati genangan yang tidak ada, lalu membawa lumpurnya ke sini.

Jejak kaki itu mengelilingi tendaku.

Aku berdiri di pintu, menunduk, dan mulai membaca jejak itu seperti membaca tulisan yang ditulis untukku. Ada satu rangkaian jejak yang melingkar penuh, rapi, seperti seseorang yang sengaja mengambil jarak satu langkah dari dinding tenda. Telapak kaki telanjang. Panjang, sempit, dengan lima jari yang tercetak jelas di lumpur — jari-jari yang terlalu panjang untuk manusia biasa.

Yang membuat bulu tengkukku berdiri adalah arah jejak itu.

Jejak itu tidak datang dari hutan. Tidak ada satu pun cetakan yang menjauh ke arah pepohonan, ke arah jalan setapak yang aku lalui kemarin. Semua jejak itu, setiap rangkaiannya, bermula dari dekat pintu tenda. Seolah-olah sesuatu muncul begitu saja di sana, dari udara kosong, lalu mulai berjalan.

Aku mundur satu langkah. Lalu aku melihatnya.

Di sebelah kanan tenda, ada satu rangkaian jejak yang tidak melingkar. Rangkaian itu keluar dari lingkaran, berbelok tajam, dan menuju ke sisi tenda tempat aku tidur. Aku mengikutinya dengan mata, menunduk, merangkak pelan di atas rumput basah, mengikuti cetakan demi cetakan.

Jejak itu berhenti tepat di samping dinding tenda.

Bukan berhenti karena habis. Berhenti karena masuk.

Aku menahan napas. Perlahan aku menekan kain dinding tenda dari luar, mencari-cari. Dan di situ, di bagian kain yang semalam menempel persis di belakang punggungku, aku menemukan sesuatu yang membuat tanganku lemas: lumpur. Noda cokelat kehitaman, lebar, membentuk telapak kaki. Sebuah cetakan yang menempel di kain, dari sisi dalam.

Jejak itu berakhir di dalam tenda. Di tempat aku tidur.

Aku merangkak masuk kembali, dan kali ini aku benar-benar melihatnya. Di atas matras, di atas kantong tidurku, ada jejak kaki berlumpur yang sama. Cetakan yang mengarah ke dalam, ke arah pusat tempat aku berbaring. Ujung jari-jari itu menghadap ke kepalaku.

Tidak ada jejak yang kembali keluar.

Aku menoleh ke sekeliling tenda. Kain dinding, lantai, atap — semuanya bersih. Tidak ada cetakan kaki yang menjauh dari matras. Tidak ada jejak menuju pintu. Tidak ada jalan keluar. Sesuatu telah berjalan masuk, berbaring di tempatku, dan... tidak pernah pergi.

Aku menyalakan lampu kepala dengan tangan yang bergetar, menyorot setiap sudut. Di sudut belakang tenda, tempat aku menaruh tas punggungku, aku melihat sesuatu yang tidak aku letakkan di sana. Sebuah bungkusan kecil, dibungkus daun pisang yang dilipat rapi, diikat dengan serat rotan. Basah. Berlumpur.

Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya menyorotnya dengan lampu, dan di bawah sinar itu, daun pembungkusnya bergerak sedikit. Pelan sekali. Seperti ada yang bernapas di dalamnya.

Di luar, langkah kaki itu kembali terdengar.

Kali ini tidak mengelilingi tenda. Kali ini berhenti tepat di depan pintu. Dan suara itu — suara yang sama dengan semalam, serak, tenang, seperti orang yang sudah lama menunggu — berbisik lagi.

"Kau tidur di tempatku," katanya. "Sekarang giliranmu berjalan."

Aku menoleh ke arah matras. Jejak kaki di atas kantong tidurku masih ada. Tapi sekarang, di sebelahnya, muncul cetakan baru — cetakan yang lebih kecil, lebih dangkal, seperti seseorang baru saja berdiri di sana.

Cetakan kakiku sendiri.

Dan di luar, resleting pintu tenda mulai ditarik perlahan, dari sisi dalam.

kembali ke daftar story episode 2