TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 6

Foto di Ponsel

05 menit membaca

Ritsleting itu tidak berhenti.

Kriiik. Jeda. Kriiik. Jeda. Seperti seseorang yang menariknya perlahan, gigi demi gigi, sengaja memperlambat supaya aku bisa menghitung. Aku berdiri di ruang tengah, ponsel mati di tangan, jejak basah mengering di lantai, dan di ujung lorong, pintu kamar tidurku masih tertutup.

Masih tertutup.

Suara itu datang dari baliknya.

Aku tidak berani melangkah ke sana. Aku tidak berani juga tinggal di sini. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan: aku menekan tombol daya ponsel itu lagi, meski baterainya katanya habis, meski layarnya baru saja menghitam di tanganku.

Layar itu menyala.

Seperti memang menunggu.

* * *

Album itu masih terbuka.

PULANG. Sembilan foto. Aku menghitungnya lagi dengan mata, karena tanganku menolak menyentuh layar. Sembilan. Sama seperti tadi.

Lalu aku berkedip, dan jumlahnya sepuluh.

Aku menahan napas. Aku tidak menekan apa pun. Ponsel ini di tanganku, jempolku menggantung di udara, dan di layar itu, pelan sekali, sebuah foto baru muncul di bagian paling bawah — seperti sesuatu yang baru saja selesai diunggah, seperti seseorang yang baru saja menekan tombol kirim dari dalam rumah ini.

Foto itu buram di pinggirnya. Warnanya terlalu gelap. Sudut pengambilannya dari lantai — dari ketinggian mata kaki, menghadap ke atas.

Menghadap ke aku.

Di dalam foto itu, aku berdiri di ruang tengah. Ponsel di tangan. Mulut sedikit terbuka. Dan di belakangku — tidak, di sampingku, terlalu dekat, hampir menempel di bahuku — ada bayangan.

Bukan manusia. Bayangan.

Seperti sesuatu yang berdiri di sana dan tidak membiarkan cahaya menyentuhnya.

Di bawah foto itu, tidak ada keterangan. Tidak ada tanggal. Hanya satu baris kecil, huruf abu-abu, seperti caption yang ditulis dengan malas.

Bagus. Kau lihat ke arah yang benar.

Aku menoleh ke samping.

Kosong.

Tapi di lantai, di sebelah tempat kakiku berpijak, ada dua jejak basah yang baru. Masih mengkilap. Masih menguap pelan. Jejak itu menghadap ke arahku — dua telapak yang terlalu panjang, dengan lima tonjolan di ujungnya.

Persis sejajar dengan posisi bayangan di foto itu.

* * *

Aku menekan foto berikutnya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kalau aku berhenti menonton, aku harus memikirkan suara ritsleting di ujung lorong itu, dan aku belum siap memikirkannya.

Foto kesebelas.

Bukan di rumah ini.

Di dalam foto itu, ada sebuah tenda. Merah. Miring sedikit ke kiri. Dipasang di tengah lingkaran tanah yang terlalu bersih, di bawah pohon tertinggi, dengan pasak-pasak yang masuk terlalu dalam.

Tendaku.

Di depannya, berdiri sepasang sepatu hiking. Di sebelahnya, kompor kecil dan termos air tersusun di atas batu datar. Dan di depan pintu, ada sandal jepit biru tua. Basah. Rapi. Menghadap ke luar.

Sudut foto ini dari dalam pepohonan.

Dari tempat aku berdiri, malam itu, ketika aku menonton bayangan di dalam tendaku sendiri.

Seseorang memotretku dari posisiku sendiri.

Atau — seseorang memotret tenda itu, dari tempat yang seharusnya aku tempati, pada saat aku tidak ada di sana.

Aku menekan foto kedua belas.

Foto ini lebih tua.

Warnanya sudah menguning di pinggirnya, seperti foto yang disimpan terlalu lama di dalam dompet. Di dalamnya, ada sebuah lapangan kecil. Tanah gundul. Rata. Dikelilingi batang-batang kelabu yang berdiri rapat, semuanya menghadap ke dalam, semuanya dengan goresan sejajar setinggi wajah manusia di kulitnya.

Di tengah lapangan itu, berdiri dua tenda.

Satu merah, rapi, pasaknya lurus.

Satu cokelat kusam, sobek, berlumpur dari kaki sampai atap.

Dan di depan tenda berlumpur itu, berdiri seorang perempuan. Membelakangi kamera. Rambutnya panjang, basah, menempel di punggungnya seperti akar. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menghadap pintu tenda yang tidak pernah dibuka siapa pun.

Di bawah foto itu, ada tulisan tangan — bukan caption digital, tapi tulisan sungguhan, seperti ditulis dengan pena lalu difoto bersama kertasnya.

Dia masih menunggu. Kau yang bilang sebentar.

Aku menutup mulutku dengan punggung tangan. Tanganku masih berbau lumut. Tanah di telapakku masih ada, masih menempel, masih basah meski aku sudah menggosoknya sampai merah.

* * *

Ritsleting itu berhenti.

Aku menoleh ke ujung lorong. Pintu kamar tidurku masih tertutup. Tapi di bawahnya, di celah antara daun pintu dan lantai, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Cahaya.

Oranye. Berkedip pelan. Seperti nyala lampu tenda.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.

Di tanganku, ponsel itu menyala lagi. Foto ketiga belas muncul sendiri, tanpa kuminta, tanpa kusentuh. Dan kali ini, foto itu bukan dari hutan. Bukan dari desa. Bukan dari warung.

Foto itu dari dalam rumah ini.

Dari ujung lorong.

Menghadap ke pintu kamar tidurku, yang di dalam foto itu sudah terbuka. Dan di balik pintu itu — bukan kasur, bukan lemari, bukan jendela yang menghadap ke jalan.

Pohon-pohon.

Batang-batang kelabu yang berdiri terlalu rapat. Tanah cokelat muda yang terlalu rata. Dan di tengahnya, samar-samar, sebuah lingkaran tanah yang gundul tanpa rumput.

Hutan Sirewang sudah ada di dalam kamar tidurku.

Di bawah foto itu, satu baris lagi. Hurufnya lebih kecil, lebih rapi, seperti tulisan tanganku sendiri.

Kau tidak perlu kembali ke hutan. Hutan sudah sampai di rumahmu.

Aku menjatuhkan ponsel itu. Ia mendarat di lantai dengan bunyi keras, dan layarnya tetap menyala, tetap menampilkan foto itu — pintu kamar tidurku, terbuka, dengan hutan di baliknya.

Di ujung lorong, cahaya oranye itu masih berkedip.

Dan dari balik pintu yang masih tertutup itu, pelan sekali, aku mendengar suara yang sudah kukenal sejak malam pertama di Hutan Sirewang. Serak. Tenang. Sabar.

Suaraku sendiri.

"Masuklah," katanya. "Tendanya sudah siap."

Aku berdiri di ruang tengah, di atas lantai yang penuh jejak basah, dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang membuat lututku lemas.

Rumah ini tidak punya pintu belakang.

Jendela-jendelanya semua terkunci sejak tadi.

Lalu dari mana cahaya oranye itu masuk?

kembali ke daftar story episode 6