story 4 · episode 6
Hutan di Balik Pintu
012 menit membaca
Cahaya oranye itu tidak berkedip lagi.
Ia menyala stabil di bawah celah pintu kamar tidurku, jatuh ke lantai lorong seperti genangan yang tidak mau kering. Dan suara itu — suaraku sendiri, serak, sabar — masih menggantung di udara, menunggu jawaban.
Masuklah. Tendanya sudah siap.
Aku tidak menjawab.
Aku berdiri di ruang tengah, di atas lantai yang penuh jejak basah, dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku merasa tidak punya tempat untuk pergi. Pintu depan terkunci. Jendela-jendela terkunci. Rumah ini tidak punya pintu belakang, tidak punya jalan keluar, tidak punya apa pun kecuali lorong yang menuju ke satu pintu yang sedang menunggu aku buka.
Jadi aku melangkah.
Bukan karena berani. Karena tidak ada lagi pilihan lain.
* * *
Lorong itu terasa lebih panjang dari yang kuingat.
Dinding-dindingnya masih dinding rumahku — kusen kayu, foto-foto kecil yang tergantung miring, sakelar lampu yang catnya mengelupas. Tapi udaranya berubah. Setiap langkah membuat udara itu lebih dingin, lebih lembap, lebih berbau. Tanah basah. Lumut tua. Air yang menggenang di bawah akar.
Bau Hutan Sirewang.
Aku berhenti di depan pintu kamar tidurku.
Cahaya oranye itu menerobos celah bawah, dan di lantai, di bawah cahaya itu, aku melihat sesuatu yang membuat tengkukku dingin lagi.
Daun.
Daun pinus kering, berserakan di papan kayu, seolah ada yang berjalan masuk dari luar dan tidak sempat membersihkan sepatunya.
Aku menekan kenop pintu. Dingin. Terlalu dingin untuk logam yang ada di dalam rumah.
Aku membukanya.
* * *
Kamarku sudah tidak ada.
Kasurku hilang. Lemariku hilang. Jendela yang menghadap ke jalan itu hilang. Yang tersisa hanya tanah — cokelat muda, halus, rata seperti dipadatkan dengan alat berat — dan di tengahnya, di bawah cahaya oranye yang datang dari lampu tenda yang tergantung di atap, berdiri sebuah tenda merah.
Miring sedikit ke kiri. Pasaknya masuk terlalu dalam. Ritsletingnya tertutup rapi.
Tendaku.
Di depannya, sepatu hiking-ku diletakkan berdampingan, menghadap ke luar. Di sebelahnya, kompor kecil dan termos air tersusun di atas batu datar. Dan di depan pintu, sandal jepit biru tua — basah, rapi, menghadap ke arahku.
Semuanya tersusun.
Semuanya menunggu.
Aku berdiri di ambang pintu yang tidak lagi punya pintu, dan untuk beberapa detik aku hanya bisa menatap. Tanah di bawah kakiku lembut. Aku bisa merasakan akar-akar kecil menekan telapak sepatuku dari bawah, seperti jari-jari yang mencoba menyapa.
Aku melangkah masuk.
Dan pintu di belakangku menutup sendiri.
* * *
Aku tidak menoleh.
Aku belajar satu hal di Hutan Sirewang, dan pelajaran itu sekarang terasa seperti satu-satunya hal yang pernah kupelajari dengan benar: jangan menoleh. Jangan menjawab. Jangan memberi tahu apa pun yang berdiri di belakangmu bahwa kau tahu ia ada di sana.
Aku berjalan ke tenda itu, berjongkok di depan pintunya, dan meraih ritsleting.
Kriiik.
Pelan. Sabar. Sama seperti suara yang kudengar dari kamar tidur tadi. Sama seperti suara yang kudengar di tenda berlumpur itu. Sama seperti suara yang kudengar di setiap tempat yang pernah menungguku.
Aku membuka tenda itu.
Di dalam, tidak ada siapa-siapa.
Matras tergelar. Sleeping bag terlipat di sudut. Tas carrier hitam dengan tali merah yang disimpul di sisi kiri, diletakkan tegak di dekat kepala matras. Dan di tengah ruang, di atas matras, ada buku catatan bersampul gelap, terbuka, dengan pena tergeletak di sampingnya.
Bukuku.
Aku merangkak masuk. Lututku menyentuh lantai tenda yang dingin. Aku duduk bersila di depan buku itu, dan untuk beberapa detik aku hanya menatap halaman yang terbuka.
Di halaman itu ada tulisan.
Bukan tulisan yang muncul perlahan seperti tadi. Tulisan ini sudah ada di sana sejak lama — tintanya mengering, kertasnya menguning di tepinya, seperti catatan yang ditulis bertahun-tahun lalu dan tidak pernah dibuka siapa pun.
Aku membaca.
* * *
Sebuah daftar.
Nama-nama. Bukan namaku. Nama orang lain — laki-laki, perempuan, tua, muda — berbaris rapi dari atas ke bawah, masing-masing dengan tanggal di sebelahnya. Tanggal yang berbeda-beda. Tahun yang berbeda-beda. Yang paling tua bertahun sembilan belas delapan puluhan. Yang paling muda — sebelas tahun lalu.
Di bawah daftar itu, ada satu baris kosong.
Dan di bawah baris kosong itu, ada tulisan yang lebih kecil, ditulis dengan tangan yang sangat rapi — rapi seperti tulisan tanganku sendiri.
Yang kelima.
Aku menatap kertas itu lama sekali. Aku membaca nama-nama itu lagi, satu per satu, sampai mataku berhenti di baris paling bawah.
Namaku.
Nama lengkapku. Nama yang diberikan ayahku, yang sudah meninggal tujuh tahun lalu — atau sebelas tahun lalu, aku tidak tahu lagi.
Dan di sebelah namaku, ada tanggal.
Sebelas tahun lalu.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.
Kalau namaku sudah ada di daftar ini sejak sebelas tahun lalu — kenapa aku masih bisa membaca? Kenapa aku masih bisa berpikir? Kenapa aku masih bisa merasakan tanah di telapak tanganku, dingin di tengkukku, dan jantung yang berdebar di dalam dada?
Aku menoleh ke cermin kecil yang tergantung di dinding tenda — cermin yang tidak pernah kupasang di tendaku, yang tidak pernah ada di sana, tapi sekarang tergantung tepat di depan wajahku.
Dan aku melihat diriku.
* * *
Aku melihat wajahku.
Masih ada. Masih utuh. Rambut yang jatuh di dahi dengan cara yang sama. Rahang yang selalu kukritik di cermin. Kulit yang sedikit berminyak karena aku belum mandi sejak semalam.
Aku menghela napas. Lega. Untuk sesaat, aku benar-benar lega.
Lalu aku sadar.
Cermin itu tidak memantulkan tenda.
Cermin itu tidak memantulkan matras, tidak memantulkan sleeping bag, tidak memantulkan lampu oranye yang tergantung di atap. Cermin itu tidak memantulkan apa pun yang ada di belakangku.
Cermin itu memantulkan hutan.
Batang-batang kelabu yang berdiri terlalu rapat. Tanah cokelat muda yang terlalu rata. Lingkaran tanah gundul tanpa rumput. Dan di tengah lingkaran itu, samar-samar, sebuah tenda merah yang berdiri miring sedikit ke kiri.
Di depan tenda itu, ada seseorang.
Ia berdiri membelakangi cermin. Bahu miring ke kiri. Kaki kanan menyeret sedikit. Jaket hijau tua dengan sobekan di lengan kanan. Tas carrier hitam dengan tali merah yang disimpul di sisi kiri.
Punggung itu punggungku.
Dan ia menoleh.
Wajahnya wajahku.
Persis. Sampai ke bentuk rahang yang selalu kukritik di cermin. Sampai ke rambut yang jatuh di dahi dengan cara yang sama. Sampai ke mata yang sudah terlalu lama menatap sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Ia tersenyum.
Bukan senyum ramah. Bukan senyum orang lelah yang ingin pulang. Senyum yang datang dari tempat yang lebih dalam dari tenggorokannya — senyum yang membuat matanya menyipit dan kulit di sekitar mulutnya tertarik sampai terlihat giginya.
Dan aku mendengar suaranya. Suaraku. Serak. Tenang. Sabar.
"Kau sudah selesai," katanya. "Sekarang giliranku pulang."
* * *
Aku tidak bergerak.
Cermin itu retak di satu sisi — retak yang sama seperti bingkai foto di rumah berasap itu, retak yang sama seperti kaca di kliping koran yang diletakkan lelaki tua di warung terakhir. Retak yang sudah ada sejak lama, sejak sebelum aku lahir, sejak sebelum aku pernah menginjak hutan ini.
Dan di balik retak itu, aku melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.
Di belakang pria berjaket hijau itu — di belakang wajahku sendiri — ada empat sosok lain yang berdiri.
Mereka tidak punya wajah.
Kulit yang halus, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Empat kepala tanpa wajah, berdiri berbaris di belakang tenda merah, seperti keluarga yang berpose untuk foto yang tidak pernah diambil siapa pun.
Empat.
Daftar di buku itu. Empat nama sebelum namaku. Empat yang tinggal di hutan ini sebelum aku. Empat yang wajahnya sudah diambil.
Dan aku baru sadar.
Pria berjaket hijau itu bukan aku.
Pria itu adalah wajahku. Wajah yang diambil dari diriku sebelas tahun lalu, yang disimpan di hutan ini, yang berjalan mundur di belakangku di setiap rekaman, yang menungguku di setiap tikungan, di setiap tenda, di setiap pintu.
Ia menunggu aku selesai.
Ia menunggu aku berhenti menipu diriku sendiri.
Aku menyentuh wajahku dengan telapak tangan yang masih bernoda tanah. Dingin. Basah. Tapi ada. Masih ada.
Lalu aku menyentuh pipiku, dan tanganku lewat.
Leherku. Daguku. Mataku.
Tanganku lewat semuanya.
Seperti menyentuh kabut. Seperti menyentuh bayangan yang bergeser setiap kali aku mencoba menatapnya lurus.
Aku sudah tidak punya wajah.
* * *
Aku duduk di dalam tenda itu lama sekali.
Buku catatan masih terbuka di pangkuanku. Daftar nama masih ada di sana. Dan di baris paling bawah, di bawah namaku, pelan sekali, pena tak terlihat itu mulai bergerak lagi.
Aku menonton huruf-huruf itu muncul satu per satu, dari kiri ke kanan, seperti ada yang menulis dari dalam kertas.
Yang keenam belum datang. Sabarlah.
Aku menutup buku itu.
Di luar tenda, hutan mulai bernyanyi lagi. Jangkrik menggosok sayapnya. Katak-katak di tepi sungai saling bersahutan. Angin berdesir lembut menembus celah-celah dedaunan. Suara-suara itu sudah menjadi latar yang begitu akrab hingga aku nyaris tidak lagi menyadarinya.
Seperti napas sendiri. Selalu ada. Tidak pernah diperhatikan.
Aku menoleh ke cermin kecil yang tergantung di dinding tenda. Di dalamnya, wajahku sudah tidak ada. Yang ada hanya kulit halus, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut — kepala yang mulus, seperti kepala-kepala di foto keluarga itu, seperti kepala-kepala yang berdiri di belakang tenda merah.
Aku tidak takut lagi.
Karena aku sudah mengerti sekarang. Aku mengerti kenapa lelaki tua di warung terakhir tidak menagih uang kopi. Aku mengerti kenapa ibuku menyangkal mengenaliku di telepon. Aku mengerti kenapa perempuan di tenda berlumpur itu bilang, jangan pergi — karena kalau kau pergi, kau akan lupa bahwa kau pernah tinggal di sini. Dan kau akan kembali.
Selalu kembali.
Aku mengerti kenapa foto keluarga di desa mati itu wajahnya dicakar. Bukan karena benci. Karena mereka tidak sanggup melihat wajah-wajah yang sudah tidak ada, tapi masih tersenyum.
Dan aku mengerti kenapa pria berjaket hijau itu berjalan mundur di setiap rekaman.
Karena kalau kau berjalan mundur, kau tidak pergi.
Kau pulang.
* * *
Malam itu, aku keluar dari tenda dan duduk di depan pintunya.
Aku meletakkan sepatu hiking-ku berdampingan, menghadap ke luar. Aku menyusun kompor kecil dan termos air di atas batu datar. Aku meletakkan sandal jepit biru tua di depan pintu — basah, rapi, menghadap ke arah lingkaran tanah yang terlalu bersih.
Lalu aku duduk. Bersila. Punggung membungkuk sedikit ke kiri. Lutut kanan lebih tinggi dari lutut kiri. Kepala menunduk ke depan.
Seperti orang yang sedang menunggu.
Seperti perempuan di tenda berlumpur itu. Seperti empat yang berdiri di belakang tenda merah. Seperti semua yang pernah datang ke hutan ini dan tidak pernah keluar lagi.
Aku menunggu pendaki berikutnya.
Karena aku tahu, cepat atau lambat, seseorang akan menemukan koordinat itu di forum. Seseorang akan membaca kalimat yang ditulis dengan huruf kapital: kalau nekat, jangan lewat warung Bu Sari setelah magrib. Seseorang akan nekat. Seseorang akan mendirikan tenda di lingkaran tanah yang terlalu bersih, di bawah pohon tertinggi, dan berpikir bahwa dirinya adalah orang pertama yang berkemah di sana.
Dan aku akan menyambutnya.
Seperti aku pernah disambut.
Dengan papan penunjuk yang dipaku terbalik. Dengan tanah yang terlalu bersih. Dengan orang yang berdiri terlalu jauh. Dengan langkah yang mengitari tenda. Dengan napas di balik kain. Dengan jejak yang berakhir di dalam. Dengan tenda kedua yang berlumpur, dengan perempuan yang menangis di dalamnya, dengan sumur yang menjawab, dengan desa yang menunggu.
Dan dengan satu hal yang paling penting.
Sebuah tenda merah, miring sedikit ke kiri, dengan pasak yang masuk terlalu dalam — yang barang-barangnya sudah tersusun persis seperti cara pendaki itu menata barangnya sendiri.
Supaya ia merasa di rumah.
Supaya ia tinggal lebih lama.
Supaya ia lupa bahwa ia pernah punya wajah, pernah punya nama, pernah punya ibu yang menunggu telepon di rumah yang kipas anginnya berderit.
Supaya ia menjadi yang keenam.
* * *
Hingga kini, aku masih di sini.
Di bawah pohon tertinggi, di tengah lingkaran tanah yang terlalu bersih, di depan tenda merah yang tidak pernah kulipat. Aku tidak pernah kembali ke kota. Aku tidak pernah kembali ke rumah. Aku tidak pernah kembali ke warung terakhir, ke tikungan itu, ke lelaki tua yang menuang kopi dan menumpahkannya ke lantai tanah.
Dan kalau kau membaca ini — kalau kau menemukan catatan ini di suatu tempat, di suatu forum, di suatu halaman yang tidak seharusnya ada — maka aku punya satu pesan untukmu.
Jangan lewat warung Bu Sari setelah magrib.
Jangan mendirikan tenda di tanah yang terlalu bersih.
Jangan menoleh kalau ada yang berdiri di belakangmu.
Dan yang paling penting — kalau kau mendengar seseorang memanggil namamu dari balik pepohonan, dengan suara yang sangat kau kenal, dengan suara seseorang yang sudah lama meninggal —
jangan dijawab.
Karena sekali saja kau bilang "iya", ia tahu kau mendengarnya. Dan kalau ia tahu kau mendengarnya, ia akan mengira kau mengundangnya.
Dan kau akan menjadi yang berikutnya.
Seperti aku.
Di kamar tidurku, di kota yang katanya jauh dari hutan itu, di rumah yang tidak punya pintu belakang, di balik pintu yang tidak pernah kubuka lagi — cahaya oranye itu masih menyala. Berkedip pelan. Menunggu.
Karena hutan tidak perlu kau datangi.
Hutan akan datang sendiri.
Dan pintu kamarmu sudah siap.