story 3 · episode 4
Ruangan di Bawah Tangga
05 menit membaca
Pintu itu ada di bawah tangga, di sudut yang paling gelap di rumah kami.
Tingginya cuma sampai dada orang dewasa. Catnya putih, tapi sudah menguning dan mengelupas di sudut-sudutnya. Gagangnya kuningan kecil, bulat, menghitam karena terlalu sering disentuh — padahal aku tidak pernah melihat siapa pun menyentuhnya.
Aku umur sembilan tahun waktu itu.
Dan sejak aku bisa mengingat, Ayah selalu bilang hal yang sama setiap kali aku mendekatinya.
"Jangan buka."
Suaranya tidak keras. Tidak marah. Hanya datar, seperti kalimat yang sudah dihafal di luar kepala.
"Di situ cuma gudang. Nggak ada apa-apa."
Lalu dia akan menggenggam tanganku dan menuntunku menjauh. Genggamannya dingin. Selalu dingin, bahkan di siang hari.
* * *
Malam-malam di rumah itu selalu sunyi.
Ayah tidur jam sembilan. Aku jam sembilan lewat, setelah dia memeriksa apakah pintu depan sudah terkunci dua kali.
Tapi pukul tiga lewat sedikit, aku selalu terbangun.
Bukan karena suara keras. Karena suara yang pelan sekali — suara yang seperti sengaja ditahan.
Tangis.
Dari bawah tangga.
Pelan. Tersedu-sedu. Seperti perempuan yang menutup mulutnya dengan telapak tangan supaya tidak terdengar.
Aku menarik selimut sampai dagu. Aku menutup mata. Aku menghitung sampai seratus.
Tangis itu tidak berhenti.
Kadang aku mendengar suara lain di bawahnya. Suara seseorang yang mondar-mandir di ruangan sempit. Langkah kaki di atas papan kayu. Kres. Kres. Kres.
Pada pagi harinya, aku bertanya pada Ayah.
"Yah, di bawah tangga ada siapa?"
Ayah menuang kopi. Tangannya tidak berhenti. Tidak gemetar.
"Nggak ada siapa-siapa."
"Aku dengar orang nangis."
Dia menaruh cangkirnya. Menatapku lama dengan mata yang lelah — mata orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Kamu mimpi," katanya. "Rumah ini tua. Pipa-pipanya bunyi."
Aku ingin percaya. Aku benar-benar ingin percaya.
Tapi pipa tidak menangis.
* * *
Malam kelima, aku memberanikan diri turun.
Aku tidak menyalakan lampu. Aku hanya berjalan pelan, menempelkan tangan ke dinding, menghitung anak tangga dengan ujung kaki.
Tangis itu makin jelas di lantai bawah. Makin dekat. Makin rapat jedanya.
Aku berhenti di depan pintu kecil itu.
Cahaya bulan masuk lewat jendela ruang tengah, dan aku bisa melihat gagang kuningan itu berkilau tipis.
Aku menempelkan telinga ke kayunya.
Tangis itu berhenti.
Sunyi.
Lalu — dari balik pintu, sangat dekat, tepat di sisi lain kayu tempat telingaku menempel — seseorang menarik napas.
Pelan. Panjang.
Seperti orang yang baru saja berhenti menangis dan tahu ada yang mendengarkan.
Aku lari ke atas. Aku tidak menoleh. Aku tidak berhenti sampai kakiku menyentuh kasur.
* * *
Dua hari kemudian, Ayah pergi.
Dinas luar kota. Tiga hari. Dia mencium keningku, menitipkanku pada Bu Lastri di rumah sebelah, dan berpesan satu hal sebelum mobilnya keluar dari halaman.
"Pintu bawah tangga. Jangan disentuh."
Aku mengangguk.
Aku berbohong.
* * *
Malam pertama Ayah pergi, aku duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke kaki sofa, menghadap pintu itu.
Aku menunggu.
Pukul sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Aku tertidur sebentar, lalu terbangun karena dingin.
Jam di dinding menunjukkan 03.17.
Dan tangis itu mulai.
Bukan dari balik pintu.
Dari dalam.
Dari ruangan yang seharusnya cuma gudang.
Aku berdiri. Kakiku dingin sampai ke lutut.
Aku melangkah ke pintu itu. Aku meraih gagang kuningan yang menghitam.
Dan aku membukanya.
* * *
Aku tidak menemukan gudang.
Aku menemukan kamar.
Kamarku.
Tempat tidurku, dengan seprai biru yang sudutnya lepas. Lemari plastikku, yang pintunya selalu susah ditutup. Meja belajarku, dengan lampu kecil yang biasanya menyala kalau aku takut gelap.
Bahkan poster di dinding. Poster yang aku tempel sendiri tahun lalu, miring sedikit ke kiri.
Semuanya. Persis. Sampai bau kamarku — bau kaus yang belum dicuci, bau krayon, bau keringat anak kecil.
Lampu meja itu menyala.
Dan di atas tempat tidurku, seseorang sedang tidur.
Menghadap dinding. Selimut naik sampai bahu. Bahunya naik-turun pelan. Teratur.
Aku berdiri di ambang pintu, dan lututku lemas.
Karena aku tahu — dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan — siapa yang tidur di sana.
Aku melangkah. Pelan. Satu kaki, lalu kaki lain. Lantai kayu itu berderit di anak tangga yang tidak kupijak.
Aku berhenti di samping tempat tidur.
Aku menunduk.
Dan aku melihat wajahku sendiri.
Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Bekas luka kecil di alis kanan — bekas jatuh dari sepeda waktu aku kelas tiga.
Dia tidur dengan tenang. Seperti anak yang tidak pernah mendengar tangis di bawah tangga. Seperti anak yang tidak pernah takut.
Di lantai, di samping tempat tidur, ada sepasang sandal. Sandalku.
Dan di atas meja belajar, ada foto dalam bingkai kuning yang retak di sudutnya.
Di dalam foto itu, seorang laki-laki dewasa berdiri di depan rumah ini. Wajahnya teduh. Keriput. Seperti orang yang sudah lama menjaga rumah ini.
Di belakangnya, berdiri seorang anak kecil berkaus abu-abu.
Bekas luka di alis kanan.
Anak di foto itu — anak itu aku.
Dan laki-laki di depannya — laki-laki itu Ayah.
Tapi Ayah tidak setua itu. Ayah tidak pernah setua itu.
Di belakangku, pintu itu menutup sendiri.
Pelan.
Sampai rapat.
Dan di atas tempat tidurku, anak yang tidur itu membuka mata.
Dia menoleh ke arahku. Perlahan. Sangat perlahan.
Dia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Akhirnya kamu datang," katanya. Suaranya persis suaraku, hanya sedikit serak, seperti sudah lama tidak dipakai.
Dia duduk. Selimut jatuh dari bahunya.
"Ayah bilang jangan buka pintu itu," lanjutnya. "Tapi Ayah selalu lupa bilang kenapa."
Aku mundur. Punggungku menyentuh pintu yang sudah tertutup.
"Kamu siapa?"
Dia tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke meja belajar, ke bingkai kuning itu.
"Aku yang jaga rumah ini," katanya. "Sejak sebelum Ayah lahir. Sejak sebelum Kakek lahir."
Dia berdiri. Kakinya menyentuh lantai tanpa suara.
"Sekarang kamu yang di atas," bisiknya. "Aku yang di bawah."
Dan dari luar, dari ruang tengah di atas tangga, aku mendengar suara Ayah.
Padahal Ayah sedang dinas di luar kota.
Suara itu memanggil namaku. Pelan. Sayang.
Lalu aku mendengar suara lain menyahut — suara perempuan, dari dapur.
Dan suara anak kecil, tertawa.
Dan suara seseorang menata piring di meja makan.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Lima piring.
Di atas tangga, kursi-kursi mulai ditarik.
Dan di depan wajahku, anak berkaus abu-abu itu tersenyum lebih lebar.
"Sudah waktunya makan," katanya.