TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 4 · episode 4

Makan Malam untuk Lima Orang

05 menit membaca

Namaku Bram. Aku tinggal sendirian di rumah warisan ini sejak istriku pergi — bukan meninggal, hanya pergi, dan itu cerita lain.

Rumahnya kecil. Dua kamar, satu dapur, satu ruang makan dengan meja kayu panjang yang bisa memuat enam kursi. Aku hanya memakai satu.

Sampai pagi ketujuh, aku menemukan lima piring di atas meja.

* * *

Piring pertama aku temukan hari Selasa. Aku baru bangun, berjalan ke dapur dengan mata setengah tertutup, dan berhenti di ambang pintu.

Di atas meja, tersaji lima piring nasi. Masih hangat. Uapnya tipis-tipis naik, seperti baru saja diangkat dari dandang.

Lima gelas air. Lima pasang sendok. Lima kursi ditarik rapi menghadap meja.

Aku menyiapkan satu piring untuk diriku semalam. Satu.

Aku menatap dapur. Tidak ada siapa-siapa. Pintu belakang terkunci. Jendela terpasang rapat.

Aku membuang semuanya ke tempat sampah, lalu memasak nasi lagi untuk diriku sendiri, dan piring itu — satu piring — aku makan sambil berdiri.

Rabu, kejadian yang sama.

Kamis. Jumat. Sabtu.

Setiap pagi, lima piring. Setiap pagi, masih hangat.

* * *

Yang paling aneh bukan jumlahnya.

Yang paling aneh adalah susunannya.

Piring di ujung kanan selalu lebih penuh. Piring di ujung kiri selalu lebih sedikit, seperti untuk orang yang tidak terlalu lapar. Gelas di kursi ketiga selalu terisi setengah — tidak penuh, tidak kosong.

Seperti ada seseorang di rumah ini yang tahu persis porsi setiap orang.

Seperti ada yang sudah lama menyiapkan meja ini untuk lima orang, jauh sebelum aku pindah.

Suatu malam, aku sengaja tidak tidur. Aku duduk di ruang makan, lampu menyala, mata terbuka lebar, menunggu siapa pun yang datang.

Pukul 03.17, aku tertidur.

Tanpa terasa. Tanpa ingin.

Seperti ada yang menutup mataku dari dalam.

* * *

Pagi berikutnya, aku membeli kamera.

Kamera kecil, murah, bekas. Aku rekatkan di sudut langit-langit dapur dengan lakban hitam, menghadap meja makan. Sudut pandangnya lebar. Cukup untuk menangkap seluruh ruangan.

Malam itu, aku tidur dengan lampu menyala.

Pagi harinya, aku duduk di lantai, punggung menempel ke dinding, dan memutar rekaman itu dari pukul sebelas malam.

Sebelas. Dua belas. Satu.

Sunyi. Meja kosong. Kursi-kursi rapi.

Pukul 02.58, pintu kamarku terbuka.

Aku keluar.

Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Mataku terbuka, tapi tatapannya kosong — seperti orang yang berjalan dalam tidur, tapi tidak sedang tidur.

Aku menoleh ke kamera. Tidak. Tidak menoleh. Aku hanya berjalan.

Aku menuju dapur. Aku menyalakan kompor. Aku menanak nasi. Aku menata lima piring di atas meja, satu per satu, dengan gerakan yang lembut, hati-hati, seperti seseorang yang sudah melakukannya ribuan kali.

Lalu aku berdiri di ujung meja, menghadap kursi-kursi kosong itu.

Dan aku berbicara.

Bibirku bergerak. Tidak ada suara di rekaman — kamera itu tidak punya mikrofon yang bagus — tapi aku bisa membaca gerakan itu.

Silakan duduk. Makanan sudah siap.

Aku menunggu.

Lalu aku duduk di kursi paling ujung. Kursiku. Dan aku mulai makan.

Sendirian.

Di depan empat kursi kosong.

* * *

Aku memutar ulang bagian itu berkali-kali.

Setiap kali, aku berharap melihat sesuatu yang salah. Seseorang di kursi itu. Bayangan. Sosok. Apa saja.

Tidak ada.

Kursi-kursi itu kosong.

Tapi — dan ini yang membuat tanganku dingin sampai ke siku — mereka bergerak.

Pelan. Tidak sekaligus. Satu per satu.

Kursi di sebelah kananku bergeser satu senti, seperti ditarik seseorang yang duduk dengan hati-hati. Lalu kursi di seberangku. Lalu kursi di ujung.

Empat kursi kosong, perlahan-lahan, bergeser mendekati meja.

Seperti ada empat orang yang duduk di sana.

Empat orang yang aku undang.

Empat orang yang aku tidak bisa lihat.

* * *

Aku menonton rekaman itu sampai pukul 03.21.

Pada menit itu, aku — aku yang di layar — berhenti makan. Meletakkan sendok. Menoleh ke kursi-kursi kosong itu.

Dan bibirku bergerak lagi.

Kali ini lebih pelan. Lebih sayang.

Terima kasih sudah datang. Besok lagi, ya.

Aku menjatuhkan ponselku.

Di layar, aku berdiri. Aku membereskan lima piring. Aku kembali ke kamar. Pintu menutup.

Lalu rekaman berhenti.

Sunyi.

Aku duduk di lantai, tidak bergerak, sampai matahari naik.

* * *

Pagi ini, aku berjalan ke dapur dengan kaki gemetar.

Meja itu — seperti biasa — sudah tersaji.

Lima piring. Lima gelas. Lima sendok.

Tapi kali ini, ada yang berbeda.

Piring di ujung kanan sudah kosong.

Bersih. Sisa nasi tidak ada. Sendoknya diletakkan rapi di atasnya, menyilang, seperti tanda seseorang yang sudah selesai makan dan puas.

Aku belum menyentuhnya. Aku baru bangun.

Di bawah piring itu, ada sesuatu yang tergelatak.

Sebuah foto kecil. Kertasnya kuning. Sudutnya terlipat.

Di dalam foto itu, ada lima orang duduk mengelilingi meja makan.

Aku di kursi paling ujung. Kaus oblong abu-abu. Rambut berantakan. Bekas luka kecil di alis kanan.

Di sebelah kananku, kursi kosong.

Di seberangku, kursi kosong.

Di ujung meja, kursi kosong.

Dan di kursi terakhir — kursi yang paling dekat dengan pintu — duduk seseorang yang wajahnya tidak terlihat.

Hanya punggung. Membungkuk. Tangan tergantung di sisi badan.

Di belakang foto itu, dengan tinta biru yang hampir hilang, ada satu baris tulisan tangan.

Empat sudah datang. Tinggal kamu.

Aku menoleh ke kursi-kursi itu. Kosong. Seperti biasa.

Tapi di atas meja, di samping piring kosong, ada sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Sebuah piring keenam.

Masih hangat.

Dan dari dalam rumah — entah dari kamar, entah dari bawah tangga, entah dari tempat yang tidak aku kenal — aku mendengar suara kursi ditarik.

Pelan.

Seperti seseorang yang baru saja duduk.

kembali ke daftar story episode 4